Telan Paku Payung, Kerikil, Batu Ali, Cat Tembok

451
0
LEMAH. Wawan Gunawan, pasien pemakan paku masih terbaring lemah di ruang ICU di RSUD dr Soekardjo kemarin (4/11). foto-foto: rangga jatnika / radar tasikmalaya

Wawan Gunawan (44) tidak hanya memakan 48 paku yang sudah dikeluarkan dari perutnya. Penarik becak asal Bebedahan, Sukanagara, Purbaratu, Kota Tasikmalaya ini juga pernah menelan paku payung, batu kerikil, batu ali dan cat tembok.

Rangga Jatnika, Tasikmalaya

KEMARIN (4/11), Wawan Gunawan (44) masih terbaring lemas di Ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soekardjo Kota Tasikmalaya. Dia belum bisa makan dan minum pascamenjalani operasi pengangkatan 48 paku dari perutnya pada Rabu (1/11). Namun, penarik becak ini sudah bisa diajak bicara, walaupun suaranya sangat pelan dan lemah.
Warga Bebedahan itu menceritakan nekat memakan paku karena disuruh oleh seseorang. Tujuannya supaya menjadi presiden.

Kepala Bidang Pelayanan dr Budi Trimidi memperlihatkan hasil rontgen.

Ketika memakan paku sejak enam bulan lalu, dia tidak pernah merasakan sakit. Baru beberapa waktu ke belakang, dia tidak bisa menahan nyeri di tubuhnya sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Pascamerasakan efek buruk itu, Wawan berjanji tidak akan mengonsumsi paku lagi. Keluarganya pun sudah memberikan pemahaman tentang bahaya makan paku. “Iya enggak akan lagi (makan paku, Red),” ungkapnya kepada Radar, kemarin.
Prediksi sebelumnya, Wawan sudah bisa keluar dari ruang ICU kemarin. Namun, karena kondisnya sempat drop, ayah dua anak ini belum bisa keluar dari ruang ICU dalam waktu yang tidak tentu. Sebab, masih membutuhkan penanganan intensif. Terutama berkaitan dengan asupan gizinya yang cukup buruk. “Mengenai sampai kapan harus berada di ICU kami juga belum bisa memastikan,” terang Kepala Bidang Pelayanan RSUD dr Soekardjo dr Budi Trimidi.
Budi menjelaskan akibat menelan puluhan paku, organ dalam Wawan seperti lambung dan usus mengalami luka-luka gores. Namun, potensi untuk sembuh masih besar. Hanya saja perlu waktu yang tidak sebentar.
Persoalan medis yang menimpa Wawan itu cukup langka di Tasikmalaya. Apalagi yang bersangkutan dengan sengaja memakan paku-paku itu. Memang sebelumnya sudah ada kasus anak menelan koin atau benda-benda. Namun, hal ini terjadi karena faktor kepolosan atau ketidaktahuan anak. “Kalau kasus seperti ini (pasien makan paku, Red.) seingat saya baru kali ini,” terang Budi.
Berdasarkan pantaun Radar, keluarga Wawan masih setia menunggu di rumah sakit. Ada istrinya, Wati Karwati (41) bersama anak bungsunya Sindi Maulani (13) yang ditemani adik Wawan, Ani Kumaryani (39).
Ani menjelaskan keluarga akan lebih ketat memantau perilaku Wawan. Walaupun, Wawan berjanji tidak akan memakan paku lagi. Pengawasan ketat itu perlu dilakukan lantaran pikiran kakanya itu kadang bermasalah. Sehingga dikhawatirkan kembali memakan barang-barang yang tak lazim.
Sepulang dari rumah sakit, keluarga juga beren­cana untuk membawa Wawan ke pengobatan alter­natif. Khususnya untuk menyembuhkan gangguan mentalnya. Sebenarnya pengobatan alternatif ini sudah pernah dicoba sebelum yang bersangkutan masuk rumah sakit. Namun, belum ada perubahan. “Mungkin karena belum ada yang cocok,” kata Ani.
Ani menduga Wawan kerasukan makhluk gaib. Karena, kakaknya itu pernah mengaku sering makan paku payung, batu kerikil, batu ali sampai meminum cat tembok ketika bekerja sebagai buruh bangunan. Bahkan pernah tersedak karena memakan paku dan batu cukup banyak. Untungnya, kakaknya dibantu teman sesama buruh bangunan untuk memuntahkan benda-benda berbahaya itu. “Pas keluar itu ada beberapa paku dan batu,” ungkapnya.
Selain itu, beberapa warga pun juga pernah melihat kakaknya memakan barang-barang aneh. “Anehnya hasil operasi benda-bendanya tidak. Hanya ada paku saja,” ujarnya.
Sementara sikap aneh Wawan itu muncul setelah becaknya hilang. Apalagi becak tersebut adalah satu-satunya alat untuk mengais rezeki. Sehingga memiliki arti penting baginya. Semakin hari semakin terlihat depresi.
Apalagi jika dilihat dari histori perekonomiannya, hingga tahun 2007 keluarga Wawan itu tergolong berkecukupan. Selain menarik becak, dia juga menjadi pengusaha kredit peralatan rumah tangga dan elektronik. Bahkan dari usahanya tersebut, 10 tahun lalu dia mampu membangun rumah permanen di Jalan Bebe­dahan 1 Kelurahan Nagara­kasih Kecamatan Purbaratu.
Namun setelah tahun 2007, usaha kreditnya itu bangkrut. Karena penagihan angsuran ke konsumen macet. Akhirnya dia hanya menjadi penarik becak saja. Penghasilannya saat itu sekitar Rp 100 ribu per hari.
Dari tahun ke tahun, per­saing­an transportasi umum pun semakin berat. Hal ini berefek pada kemerosotan per­ekonomian Wawan. Bahkan, Ani pun harus mem­bantu meringankan beban kakaknya itu. Tak jarang kedua anak Wawan diurus Ani. “(Penghasilan menarik becak, Red.) Makin ke sini makin sedikit. Dapat Rp 30 ribu sudah untung,” ungkap istri Wawan, Wati Karwati.
Tetangga Wawan di Bebe­dahan 1, Nendi (25) mene­rang­kan Wawan tergolong pria yang rajin beribadah. Setiap pagi dialah yang membangunkan warga dengan puji-pujian di masjid sampai akhirnya mengumandangkan azan subuh. Salat ke masjid pun tergolong paling giat dibandingkan dengan warga lainnya.
Wawan juga tidak pernah memiliki masalah dengan warga lainnya. Meskipun memiliki gangguan mental, tidak sekalipun dia ribut atau melakukan hal yang meresahkan masyarakat. “Paling hanya sering ngelantur saja ngobrolnya,” katanya.
Ujian sakit itu ternyata tidak hanya menimpa Wawan. Istri Wawan, Wati Karwati dan anaknya Sindi Maulani juga tidak sehat. Wati menderita epilepsi. Sedangkan Sindi mengalami bocor jantung. (*)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.