Telur Melimpah, Inflasi Bisa Rendah

206
1
Dinas Kominfo Kota Tasikmalaya PELUNCURAN. Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman berbicara pada peluncuran klaster ayam ras petelur di Kelurahan Cibunigeulis Kecamatan Bungursari, Rabu (22/5).
Loading...

BUNGURSARI – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tasikmalaya meluncurkan klaster ayam ras petelur di Kampung Gunung Cariu Kelurahan Cibunigeulis Kecamatan Bungursari, Rabu (22/5). Para peternak ayam petelur di lokasi itu mendapat pelatihan untuk menerapkan teknologi inovasi pakan Integrated Eco Farming MA-11.

Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman menyebut pembinaan tersebut akan mendongkrak produktivitas dan nilai ekonomi peternak ayam. Sebab, tingginya harga pakan saat ini menjadi salah satu kendala peternak dalam meningkatkan produksi. “Adanya teknologi ini, harga pakan akan turun dan hasil lebih bagus. Otomatis produksi bisa ditingkatkan,” ucapnya saat peluncuran klaster ayam petelur.

Selain itu, kata dia, teknologi pakan tersebut dapat memacu produksi telur di Kota Tasikmalaya. Otomatis, kebutuhan masyarakat akan telur ayam bisa terpenuhi dari dalam daerah. “Pedagang tak perlu lagi memasok telur dari luar. Tentunya harga telur di pasaran akan turun, karena biaya transportasi terpangkas,” katanya.

Budi berpesan para peternak harus disiplin dalam mengolah pakan ternak agar upaya menekan cost transportasi bisa benar-benar terwujud dan berujung terhadap rendahnya nilai inflasi. “Pakan harus diolah dulu dengan fermentasi, maka peternak harus disiplin. Kondisi saat ini, kita dihadapkan dengan pemasok telur dari Blitar. Kalau berhasil, tidak ada cost transport, harga murah, inflasi rendah,” tutur Budi.

Pendamping klaster ras ayam petelur Dr Nugroho Widiasmadi menjelaskan, pembinaan sudah dilaksanakan selama satu bulan. Teknologi yang digunakan dalam mengolah pakan, yakni dengan cara mengurai molekul biomasa yang bisa menghasilkan pakan lebih hemat. “Melalui teknologi ini, bisa menghemat pakan 30 gram per ekor per hari. Kalau biasanya 120 gram per ekor per hari jadi 90 gram,” kata dia.

Kepala Kantor Perwakilan BI Tasikmalaya Heru Saptaji mengatakan, tujuan program tersebut merupakan upaya untuk mengubah pola pikir para peternak di daerah. Dengan demikian, peternak lebih terbuka dengan inovasi yang ada. Dia meyakini, melalui inovasi peternak dapat menekan biaya produksi pangan dengan hasil yang tetap berkualitas. “Produktivitas akan lebih tinggi dan membuat harga di pasaran lebih rendah,” katanya.

Dia menambahkan, apabila pasokan dari peternak tinggi, tentunya daerah akan semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan telur di Kota Tasikmalaya. Dampaknya, pedagang tak perlu lagi memasok dari luar daerah. “Kalau permintaan dan penghasilan membaik, ketergantungan telur dari Jawa Tengah akan semakin berkurang. Harga di sini akan baik, dan daya beli meningkat, dan inflasi akan terjaga,” kata dia. (igi)

loading...

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.