Tentang Sosok Budhi Satrio dan Penyamaran Densus 88, Dor!

6945
0
Loading...

SURABAYA – Budhi Satrio, terduga teroris yang ditembak mati Densus 88 Antiteror di Sidoarjo, Senin (14/5), dulunya dikenal sebagai sosok pria ramah dan dermawan.

Budhi Satrio berubah menjadi sangat tertutup sejak tak lagi mengajar.

Perubahan tingkah keseharian si tetangga itu mulai dirasakan Sigit Priyadi dalam dua tiga tahun terakhir.

Tak ada lagi tegur sapa. Atau guyonan sembari nyangkruk. ’’Orangnya (menjadi) tertutup,’’ kata Sigit.

Sigit paham betul karena dirinya dan Budhi Satrio, si tetangga itu, sudah sejak 2006 bertetangga.

Loading...

Rumah mereka berdampingan di Perumahan Puri Maharani, Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur.

Meski sikapnya berubah jauh, tetap saja Sigit dan para tetangga yang lain benar-benar kaget ketika mengetahui Budhi diduga terlibat jaringan terorisme.

Pria 48 tahun itu disergap dan ditembak mati oleh Densus 88 pada Senin lalu (14/5).

Penangkapan pada Senin pagi itu hanya berselang sehari setelah serangan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya.

Pada malamnya (13/5), bom juga meledak di salah satu rumah di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo.

Menurut Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Budhi adalah wakil ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Jawa Timur.

Ketuanya adalah Dita Oepriarto yang mengajak istri dan empat anaknya mengebom tiga gereja di Surabaya.

Azizah, tetangga yang lain, mengingat bagaimana dulu Budhi dan sang istri, Wqh, begitu dermawan kepada anak-anak tetangga.

’’Anak saya termasuk yang sering dikasih makanan,’’ kata Azizah yang tinggal hanya beberapa rumah dari rumah pasangan yang belum dikaruniai anak tersebut.

Setiap Lebaran, Budhi dan istri juga tak pernah alpa untuk anjangsana. Bersilaturahmi kepada para tetangga.

’’Mereka yang datang ke rumah-rumah,’’ ungkap Azizah. Keramahan itu juga ditunjukkan kepada tetangga yang berlainan agama. Kebetulan, tetangga depan rumahnya pemeluk Kristen.

Yono Nur Kholiq, suami Azizah, dulu juga sering nyangkruk bareng Budhi. Banyak hal yang mereka obrolkan. Salah satunya tentang musik.

’’Beliau itu suka musik rock. Dulu katanya juga nge-band,’’ ujar Yono.

Dengan latar belakang seperti itu, meski sikap keseharian Budhi berubah dalam dua tiga tahun terakhir, para tetangga sama sekali tak menyangka Budhi terlibat jaringan kelompok radikal.

Apalagi, istrinya adalah pegawai negeri sipil di Kementerian Agama (Kemenag). Persisnya sebagai staf tata usaha (TU) di Kantor Kemenag Kota Surabaya.

Seingat Sigit, ketertutupan Budhi terasa sejak dia tidak lagi mengajar di sebuah sekolah swasta. Budhi kemudian berbisnis.

Lulusan jurusan kimia perguruan tinggi negeri ternama di Surabaya itu mendirikan usaha jual beli detergen. Labelnya Al Biruuni. Detergen itu diproduksi sendiri.

“Beliau itu dulu kuliah jurusan kimia. Jadi, ya nggak heran kalau kemudian memproduksi detergen,’’ katanya.

Nah, setelah menjalankan bisnis itulah, Budhi menjadi tertutup. Bahkan sangat tertutup.

’’Yang kami tahu, setelah menjalankan bisnis, beliau berniat menjual rumah dan mobilnya. Tapi tidak laku-laku,’’ papar Sigit.

Aktivitas Budhi yang terlihat warga setiap hari hanyalah mengantar sang istri kerja. Setiap pagi pukul 05.30 pada hari kerja.

Termasuk pada Senin pagi sebelum penggerebekan itu. Selepas pulang mengantar istrinya kerja itulah, baru Budhi digerebek Densus 88.

’’Kaget juga waktu ada beberapa mobil datang, lalu meminta kami masuk ke rumah. Apalagi, setelah itu ada tembakan,’’ ungkap Ari Mengah Mbewa, tetangga Budhi lainnya.

Memang, sebelumnya beberapa tetangga dimintai keterangan oleh polisi tentang Budhi. Tapi secara diam-diam. Sembari sang petugas pura-pura beli sesuatu di toko tetangga Budhi.

Belakangan diketahui, orang yang membeli sesuatu itu adalah anggota Densus 88 yang menyamar.

Para tetangga baru menyadarinya saat terjadi penggerebekan. Yang diawali dua tembakan. Kemudian disusul satu lagi tembakan.

(*/c5/ttg)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.