Terapkan Kelas Budaya Industri

26
PASANGKAN ATRIBUT. KCD wilayah XII Tasikmalaya Drs H Diding Gustardi MMPd memasangkan atribut PLS kepada siswa baru SMKN 2 Senin (15/7). Fatkhur Rizqi / Radar Tasikmalaya

TASIK – Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Tasikmalaya menggelar kegiatan pengenalan lingkungan sekolah (PLS) di Lapangan sepak bola SMKN 2 Tasikmalaya Senin (15/7).

PLS bertema Membangun Intelektualitas Siswa yang Beriman, Bertakwa, Disiplin, Mandiri, Kreatif, Berpengetahuan Luas, Jujur dan Bertanggung Jawab ini diikuti 864 siswa.

Kepala SMKN 2 Tasikmalaya Dr H Wawan SPd MM mengatakan PLS SMK ini bertujuan untuk pengenalan lingkungan sekolah dan pembentukan karakter siswa.

“Dalam PLS ini siswa dikenalkan dengan lingkungan sekolah dan sistem pembelajaran di SMK,” katanya.

Lanjutnya, pada PLS ini siswa diberikan materi oleh guru dan pemateri dari luar sekolah yakni kepolisian dan TNI. “Kami mendatangkan anggota polisi untuk memberikan wawasan kedisiplinan dan lalu lintas, sehingga terbentuk siswa yang disiplin mandiri dan taat aturan,” ujarnya.

Selain itu, siswa diberi pemaparan materi mengenai nilai-nilai kebangsaan dan pembentukan mental. “Sikap mental yang kuat dan disiplin ini sangat berguna ketika siswa terjun di dunia kerja industri,” tambahnya.

Ia mengatakan, pada PLS ini siswa juga dikenalkan dengan penerapan budaya industri. “Sebanyak 80 persen siswa SMKN 2 Tasikmalaya ingin bekerja di bidang industri. Data itu didapat dari angket yang diisi siswa,” katanya. Makanya, manajemen dan ekosistem sekolah mengadopsi budaya industri.

Lanjutnya, penerapan budaya industri ini dimulai dengan penyesuaian kurikulum yang disinergikan dengan dunia industri. “Diharapkan dengan penerapan budaya industri ini siswa bisa lebih siap untuk terjun ke dunia kerja sebenarnya,” kata dia.

Kepala Cabang Dinas (KCD) wilayah XII Tasikmalaya Drs H Diding Gustardi MMPd menyatakan kegiatan PLS bertujuan untuk membentuk mental siswa serta mengenal lebih awal tentang profil dan lingkungan sekolah.

Siswa mesti mengenal infrastruktur budaya industri, tata tertib, budaya literasi dan penguatan karakter yang ada di sekolah. “Perlu memahami bagaimana tatanan lingkungan yang ada di masing-masing program keahlian,” ujarnya. Diharapkan, PLS ini bisa mencetak siswa yang punya kompetensi, terampil dan kompetitif di dunia kerja dan industri.

Ia juga mengimbau, dalam kegiatan PLS tidak boleh ada perpeloncoan, senioritas dan kekerasan. “Diarahkan untuk saling toleransi dan saling mengisi dengan kebaikan,” katanya. (mg1)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.