Terapkan Konsep 4C, Guru Sebagai Fasilitator Belajar

316
0
Siti Aisyah / Radar Tasikmalaya KOMPAK. Dari kanan ke kiri, Yuliana Christin SPd, Astri Rianasari Ssi, Berna Deta Eka sebagai guru kelas III, Sisca Then dan Hindra Then dari Komite SD Yos Sudarso Tasikmalaya usai Bincang Radar di Studio Radar TV Rabu (6/12).

TASIK – Sekolah Dasar (SD) Yos Sudarso Tasikmalaya menerapkan konsep pembelajaran 4C; compassion, character, consciousness and competence. Konsep yang ada di dalam Kurikulum 2013 itu sudah mereka terapkan sebelum pemerintah menerapkannya. Demikian dikatakan Wakil Kepala Sekolah (wakasek) Bagian Kurikulum SD Yos Sudarso Tasikmalaya Astri Rianasari SSi.
“Jadi sebelum pemerintah booming-kan (Kurikulum 13), sekolah kita sudah lebih dulu terapkan 4C. Konsep 4C yang kita miliki adalah compassion, character, consciousness dan competence,” ungkap Astri yang juga merupakan guru kelas V ini Rabu (6/12).
Konsep 4C tersebut, terangnya, sesuai dengan misi SD Yos Sudarso Tasikmalaya yaitu mengembangkan peserta didik yang cerdas dalam bidang akademik dan cerdas dalam moral dan budi pekerti.
“Compassion yang artinya kasih sayang kita ingin siswa memiliki rasa belas kasih kepada sesama, kepada lingkungan, memiliki karakter dan budi pekerti yang baik juga dan consciousness siswa dapat berpikir jauh ke depan sebagai visioner serta kompeten yakni memiliki jiwa kepemimpinan,” terangnya.
Dalam kegiatan pembelajaran dengan tematik terang Astri, lebih memudahkan guru kelas dan kegiatan belajar lebih menyenangkan bagi anak. Dengan tematik semua mata pelajaran di rangkum dan dikemas dalam satu tema, sehingga output dari konsep ini multiple intelligences, siswa selain paham secara faktual dan prosedural, tapi juga ada psikomotorik dan juga afektifnya. Siswa belajar dari hal yang konkrit, pengalaman langsung di lapangan sehingga anak lebih efektif dalam belajar.
”Guru sebagai fasilitator, peserta didik mengeksplorasi dari yang tidak tahu menjadi tahu, mulai dari pengamatan, menanya artinya lebih kritis dan lebih dari sekadar bertanya. Kemudian mengumpulkan data, menganalisis dan mempresentasikan, jadi kemampuan komunikasi secara verbal pun dilakukan oleh anak,” ujarnya. (ais)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.