Terduga Pemeras Pondok Pesantren Diciduk

490
0
DUGAAN PEMERASAN. Dua oknum wartawan diamankan di Polres Ciamis atas dugaan pemerasan ke pengelola pondok pesantren di Pamarican, Jumat (8/3).Iman S Rahman / Radar Tasikmalaya

CISAGA – Dua oknum yang mengaku-aku wartawan, ST (54) dan Her (30) ditangkap Polres Ciamis atas dugaan pemerasan kepada pengelola pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Pamarican yang sedang melaksanakan pembangunan. Mereka diamankan saat akan bertransaksi di SPBU Kecamatan Cisaga pada Kamis (7/3) sekitar pukul 23.00.

Tim advokasi ponpes Kabupaten Ciamis Deden Badrul Kamal membeberkan, sekitar seminggu ke belakang, ST yang mengaku dari media online mendatangi ponpes Kecamatan Pamarican itu. Ponpes yang enggan disebutkan namanya itu sedang melaksanakan pembangunan dari bantuan dana hibah.

Tiba-tiba, wartawan abal-abal itu menyebut bahwa pembangunan tersebut tidak sesuai spec. Pelaku mengancam akan memberitakan persoalan tersebut bila tidak memberikan uang sebesar Rp 10 juta. Pihak lembaga mencoba meladeni keinginan pelaku dan melakukan negosiasi melalui sambungan telepon.

Dalam percakapan sambungan telepon yang direkam, pihak lembaga meminta pelaku menurunkan permintaan uang dari Rp 10 juta ke Rp 2 juta. Namun, pelaku menolaknya dan menurunkan nominal menjadi Rp 5 juta. Pihak lembaga pun akhirnya menyanggupi nominal Rp 5 juta dan membuat agenda pertemuan di SPBU Cisaga pada Kamis (7/3) sesuai keinginan pelaku.

Mendatangi pelaku, pihak lembaga didampingi tim advokasi pesantren. Di SPBU Cisaga itu sudah ada ST dan Her. Mereka berdua merupakan warga Kota Banjar. Sampai di lokasi, tim advokasi berkoordinasi dengan Polsek Cisaga. Setelahnya, kedua pelaku dibawa langsung ke Polres Ciamis.

Deden meminta aparat penegak hukum menindak kasus oknum wartawan itu. Perilaku mereka juga sudah mencemarkan wartawan resmi yang benar-benar melaksanakan tugas jurnalistik sesuai aturan. “Kami berterima kasih kepada kepolisian telah membantu kami dalam mengamankan oknum wartawan tersebut,” kata Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI Kabupaten Ciamis yang populer dipanggil Mama Golangsing itu, Jumat (8/3).

Kasat Reskrim Polres Ciamis AKP Hendra Virmanto SIK menjelaskan ST mengaku dari media online dan Her dari koran mingguan. Mereka diduga telah memeras ponpes yang sedang melaksanakan pembangunan. Mereka meminta uang Rp 10 juta kepada korban. “Kamis sedang memeriksa mereka secara intensif dan mengumpulkan bukti-bukti,” ujar dia. (isr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.