Tergopoh-gopoh saat Badai Datang

4

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

ADA pelemahan rupiah di setiap shoyu yang kita cecap pada masakan Jepang. Ada pelemahan rupiah di aloe vera gel pada produk skin care Korea yang digemari banyak perempuan masa kini. Ada pelemahan rupiah pada busana yang dibeli di streetwear brands yang menjamur di pusat perbelanjaan.

Namun, apakah gelombang konsumsi kelas menengah itu patut disalahkan? Mengingat ”jasanya” selama ini pada pertumbuhan ekonomi, tentu saja tidak.

Konsumsi barang-barang impor memang kian memperparah current account deficit (CAD), sebuah kondisi ketika lebih banyak valas yang diburu daripada yang tersedia. Namun, menekan sisi konsumsi hanya akan memperlambat laju roda ekonomi.

Pemerintah kini telah menelurkan sejumlah kebijakan. Antara lain, membatasi impor. Juga, memaksa devisa hasil ekspor dibawa pulang ke tanah air.

Sebagai kebijakan jangka pendek, tentu saja bisa dimaklumi. Namun, pemerintah perlu menyiapkan perangkat kebijakan yang efek horizonnya lebih panjang.

Sudah berkali-kali kita menghadapi siklus krisis finansial. Tiap satu dekade. Lingkaran masa itu memang bisa terjadi mengingat begitu labilnya pasar keuangan.

Yang perlu dilakukan adalah memperkuat fundamen ekonomi agar mampu menghadapi siklus tersebut.

Celakanya, kita selalu tergopoh-gopoh menghadapinya. Setiap badai datang, baru muncul lagi kesadaran meningkatkan ekspor nonkomoditas alam.

Setiap gejolak tiba, baru kencang didengungkan upaya memoles pari wisata, sektor yang diandalkan banyak negara untuk memperbaiki neraca jasa.

Begitu badai berlalu, langkah-langkah fundamental hampir diabaikan. Tak ada upaya signifikan untuk mengurangi impor BBM, kebutuhan yang sejatinya paling banyak menguras dolar. Hilirisasi sektor industri terus saja molor dari tenggat yang digariskan.

Namun, kita tetap berharap langkah-langkah jangka pendek kali ini bisa berhasil. Semua pihak juga harus mendukung. Ekonomi saat ini memang tengah menghadapi tekanan berat. Namun, juga tak perlu diembuskan isu bahwa gejolak kali ini lebih gawat daripada 1997–1998, krisis yang menyisakan trauma yang cukup dalam.

Nilai rupiah 14.840 per USD saat ini memang lebih rendah jika dibandingkan dengan saat krisis itu terjadi.

Namun, pada 1998, nilai rupiah terperosok hampir 600 persen dalam setahun. Sementara tahun ini terpuruk 6,8 persen. Memang cukup dalam. Tapi, tingkat kegawatannya tetap masih sangat jauh jika dibandingkan dengan krisis 1998. (*)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.