Terimbas Wabah Corona, Pembuatan Saus Lokal Taraju Tasik Dihentikan

147
0
DOKUMENTASI. Kelompok Bukti Tani Taraju Kabupaten Tasikmalaya mengolah cabai menjadi sambal dan saus, beberapa waktu lalu. RADIKA ROBI RAMDANI / RADAR TASIKMALAYA

TARAJU – Kelompok Bukti Tani Taraju yang memproduksi saus botol lokal harus menyetop produksinya. Pasalnya tidak ada botol yang bisa digunakan untuk menyimpan dan menjual saus tersebut.

Ketua Kelompok Bukti Tani Tarju Dadang Abdul Rahmat mengatakan, dampak dari Covid-19 ini para petani cukup drop, karena harga jual cabai begitu murah. Ditambah saat ini tidak memproduksi saus botol sebagai alternatif penghasilan ketika harga cabai anjlok. Padahal bahan baku sedang bagus untuk dijadikan bahan saus.

Baca juga : Pansus Dalami Pengadaan di Bagian Umum Pemkab Tasik

“Kita sudah hampir dua bulan tidak membuat saus botol asli Taraju. Karena kita terkendala sekaligus kesulitan mendapatkan botol untuk menyimpan hasil olahannya,” ujarnya kepada Radar, Minggu (26/4).

Kata Dadang, sudah beberapa kali menghubungi penjual botol di Jakarta untuk saus yang diolah, tapi sampai saat ini belum ada respons. Sehingga kelompok belum bisa memproduksi lagi saus lokal untuk dipasarkan, karena tidak ada kemasan yang baik untuk menjualnya.

“Kemungkinan pabrik yang biasa memproduksi botol terkena imbas dari pandemi Covid-19, sehingga tidak bisa menerima pesanan. Akibatnya kami pun tidak bisa memproduksi saus botol dan hanya mengandalkan penjualan dari cabai,” ujarnya, menjelaskan.

Loading...

Padahal, kata dia, ketika memasuki bulan puasa atau menjelang Idul Fitri tidak sedikit yang memesan saus dan sambal buatan kelompok. Bahkan, beberapa hari ini sudah banyak yang memesan, mulai dari Kota Tasikmalaya sampai Jakarta. Namun, pesanan itu tidak bisa terpenuhi karena tak ada botol kemasan untuk saus.

“Ya mau bagaimana lagi, kondisinya seperti ini. Tidak bisa apa-apa. Bahan baku mah banyak, tinggal diolah. Hanya tidak ada tempat untuk menyimpan hasil olahannya. Lagi pula saat ini untuk pemesanan ke luar kota disetop imbas dari Covid-19 ini. Sebenarnya bisa dikemas dalam plastik, tapi kurang bagus dan bisa tidak tahan lama,” kata dia.

Biasanya, kata dia, dalam seminggu bisa memproduksi 450 botol saus dengan isi 300 gram yang dipasarkan secara mandiri. Bahkan ketika ada pesanan dalam sehari bisa mencapai 100 botol. “Sejauh ini pesanannya dari media sosial yang menghubungi langsung,” ujarnya, menjelaskan.

Selain itu, lanjut dia, metode pemasarannya pun disimpan di BUMDes Taraju, sehari bisa menyimpan 30 botol, dengan rincian 15 botol untuk sambal dan 15 botol untuk saus.

“Kalau bisa produksi di momen Ramadan ini sangat bagus, karena banyak yang membutuhkan. Apalagi harga cabai saat ini sedang anjlok mencapai Rp 10.000 per kilogramnya bahkan ada yang sampai Rp 7.000,” katanya.

Terpisah, Ketua BUMDes Gemata (Gerakan Masyarakat Taraju) Taufan Syahrija Sinuraya mengatakan, Kelompok Bukti Tani Taraju bekerja sama dengan BUMDes dalam pemasaran. “Kita bekerja sama untuk memasarkan hasil olahan para petani asal Desa Taraju,” kata dia.

Baca juga : PCNU Kabupaten Tasik Minta Rapid Tes Masal untuk Pemudik dari Zona Merah & OTG

Para pembeli itu, kata dia, biasanya merupakan orang pribumi. Ada yang memesan 1-2 botol untuk dikonsumsi. Terkadang ada juga warga yang belanja ke BUMDes, mereka bertanya-tanya tentang saus dan sambal olahan tersebut.

“Banyak yang menanyakan dan kadang juga memesan. Kadang juga suka dijadikan oleh-oleh, ketika orang sini bepergian ke kota. Tapi sekarang kondisinya sedang seperti ini, jadi kelompok tidak menjual lagi karena tidak produksi,” kata dia menambahkan. (obi)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.