Terjerat Pinjaman Online,110 Warga Kota Tasik Mengadu ke OJK

235
0
SOSIALISASI. Kepala OJK Tasikmalaya Edi Ganda Permana (tengah) memberikan pemahaman tentang literasi keuangan kepada masyarakat, Jumat (13/11).

TASIK – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong masyarakat untuk meningkatkan literasi keuangan. Tujuannya dapat masyarakat nantinya dapat menentukan produk dan layanan jasa keuangan yang sesuai dengan penghasilan atau kebutuhannya.

Kepala OJK Tasikmalaya Edi Ganda Permana mengatakan, pihaknya saat ini gencar melakukan literasi keuangan kepada masyarakat luas, sebab pemahaman literasi dan inklusi keuangan ini sangat diperlukan masyarakat.

“Manfaatnya besar, dengan begitu masyarakat memiliki kemampuan perencanaan keuangan yang lebih baik,” katanya kepada Radar, Minggu (22/11).

Diharapkan, ketika masyarakat akan meminjam atau menabung, mereka mampu memilih dan memanfaatkan produk layanan jasa keuangan yang sesuai kebutuhan. Selain itu dapat terhindar dari aktivitas investasi pada instrumen keuangan yang tidak jelas.

“Masyarakat jadi mampu mendapatkan pemahaman mengenai manfaat dan risiko produk serta melek layanan jasa keuangan,” katanya.

Baca juga : GEGER Warga Rajapolah Tasik Terkapar di Pemakaman

Ia mencontohkan, maraknya fintech lending (pinjaman online) yang kini menjamur di Kota Tasikmalaya sudah banyak menelan korban. Korban dijerat dengan bunga yang tinggi dan mendapatkan teror dari pihak penagih pinjaman online tersebut.

“Maka saya meminta, sebelum meminjam harus bijak untuk mengecek www.OJK.go.id. Agar bisa melihat perusahaan fintech lending yang berizin dan terdaftar di OJK,” ujarnya.

Jadi ketika meminjam pinjaman online harus berhati-hati, harus yang legal atau terdaftar di OJK. Itu hanya meminta foto, lokasi, dan kontak saja, bunganya pun sama dengan bank konvensional kurang dari 4% per bulannya.

“Sebaliknya, ketika masyarakat meminjam di pinjaman online sampai disebar data pribadi dan melakukan ancaman untuk dipermalukan, itu dapat dipastikan tidak terdaftar di OJK. Ketika menjumpai seperti itu bisa melaporkan kepada pihak berwajib,” katanya.

Untuk 2020, ia membeberkan, sudah ada sekitar 110 orang yang mengadu ke kantor OJK Tasikmalaya dalam kasus pinjaman online yang tidak berizin.

“Baru itu yang melaporkan ke kami, yang mayoritas usia produktif. Kemungkinan juga yang terjerat pinjaman online di luaran sana masih banyak,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengimbau dalam keadaan susah di masa Covid-19 jangan sampai pinjam ke fintech online ilegal ataupun ke bank emok/rentenir.

“Masyarakat harus mengukur penghasilan dan jangan sampai meminjam ke fintch ilegal, ketika sudah terjerat akan membuat sengsara,” katanya.

Menyikapi fenomena fintech ilegal, Guru Besar Ekonomi Unsil Tasikmalaya Prof Dr H Deden Mulyana SE MSi menghimbau masyarakat untuk bijak. Masyarakat harus berhati-hati dalam memanfaatkan fintech sebagai sumber pendanaan/meminjam atau sebagai instrumen investasi.

“Fintech yang resmi mendapatkan izin dari OJK sudah memenuhi persyaratan yang ditentukan. Sehingga operasionalnya dikelola secara profesional,” ujarnya.

Ia pun berpesan, bagi yang meminjam di pinjaman online harus memperhatikan pemanfaatannya. Jangan digunakan untuk hal yang sifatnya konsumtif, gunakanlah untuk yang produktif.

“Misalnya, mahasiswa meminjam pinjaman online bisa untuk mendanai start up yang mereka rintis. Nanti keuntungan bisa menutupi yang sudah dipinjam,” katanya.

Ketua Umum MES Tasikmalaya Prof Dr H Kartawan SE MP mengingatkan agar masyarakat tidak tertipu oleh pinjaman online, maka sebelum bertransaksi dicek terlebih dahulu di website OJK. “Kalau tidak ada izin di OJK sebaiknya jangan bertransaksi,” ujarnya.

Menurut Kartawan, pinjaman online kebanyakan menyasar usia produktif. Karena pihak perusahaan juga ingin uangnya kembali cepat dan mendapatkan keuntungan lebih.

“Maka anak muda jangan mudah tergiur cara cepat mendapatkan uang dengan meminjam di pinjaman online,” katanya.

Untuk mengantisipasi penipuan ini, pihaknya bekerja sama dengan OJK untuk melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, baik kepada siswa dan mahasiswa atau kelompok lain.

“Seharusnya mahasiswa ikut membantu memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang literasi keuangan, karena pihak OJK sudah sering memberikan literasi ke kampus- kampus,” ujarnya. (riz)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.