Dua Jenazah Warga Tasikmalaya Ditemukan

Terkubur di Reruntuhan Rumah Sendiri

3

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

TASIK – Dua anak asal Tasikmalaya, Sabrina Rika Maulina (15) alias Ajeng dan Raja Akbar (12) yang tertimbun reruntuhan saat gempa di Palu, Sulawesi Tengah akhirnya ditemukan.

Namun kondisinya sudah meninggal, jenazah keduanya pun dikebumikan di Palu dan pihak keluarga langsung meninggalkan wilayah bencana.

Ayah korban, Enjang Nurjaman (47) saat dihubungi Radar Kamis (4/10), mengatakan dia bersama adiknya mulai melakukan pencarian sejak Sabtu pagi (29/9). Karena Jumat (28/9) terlalu sulit menuju lokasi gempa yang semua bangunan memporak-porandakan. “Kala itu kondisi gelap, jalan tidak terlihat jadi besoknya baru saya bisa ke lokasi hilangnya anak saya,” ungkapnya.

Saat datang ke lokasi, dia menghampiri setiap kerumunan orang sambil memanggil nama kedua anaknya. Tetapi tidak ada yang merespons karena semua orang tengah panik. “Saya panggil-panggil tapi tidak ketemu,” tuturnya.

Ada salah satu anak yang memberitahunya bahwa Sabrina alias Ajeng dan Raja terkubur reruntuhan rumahnya. Tanpa pikir panjang dia langsung mencari, namun perumahan tersebut seakan tenggelam karena amblas. “Saya sudah tidak bisa mengetahui di mana rumah saya,” tuturnya.

Dia pun melakukan pencarian bersama istri dan adik-adiknya selama berhari-hari. Ada lima belas mayat selama empat hari pencarian, namun anaknya tak kunjung ditemukan. “Yang saya temukan jenazah tetangga-tetangga saja,” tuturnya.

Hari Rabu sore, Enjang sudah pasrah dan menghentikan pencarian anaknya. Dia anggap bahwa lokasi gempa sebagai kuburan untuk kedua buah anaknya, Ajeng dan Raja. “Sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, saya pasrah,” katanya.

Dia bersama istri dan adiknya pun memilih untuk kembali ke pulau Jawa. Namun di perjalanan ada yang menghubungi kalau jenazah Ajeng dan Raja ditemukan. Kondisinya sudah meninggal.

Enjang pun menghubungi adiknya yang tinggal di Palu untuk membantu evakuasi dan memakamkan kedua anaknya. Rabu (3/10) malam jenazah Raja langsung bisa dievakuasi, namun Ajeng baru bisa dievakuasi Kamis (4/10) siang karena tubuhnya lebih besar dan menyulitkan pengangkatan. “Posisinya saya sudah delapan jam perjalanan, jadi saya percayakan kepada adik yang tinggal di Palu,” tuturnya.

Terpisah, Nunung Nurjanah sudah cukup lega mendengar kedua cucunya ditemukan. Meskipun sudah menjadi jenazah dan langsung dikuburkan Palu. “Tapi bukan dimakamkan masal, pemakaman biasa,” tutur nenek korban tersebut.

Dia meminta anak dan menantunya untuk segera meninggalkan Palu dan pulang ke Tasikmalaya. Pasalnya kawasan itu sudah lumpuh dan tidak memungkinkan bermata pencaharian. “Kita minta pulang untuk istirahat saja lah dulu, tapi katanya mau singgah dulu ke Tanggerang,” katanya.

Enjang dan rombongannya memilih untuk pulang secara mandiri tanpa difasilitasi pemerintah mengingat banyaknya korban yang harus diakomodir. Terlebih upaya evakuasi pemerintah untuk mengeluarkan masyarakat di Palu diprioritaskan terlebih dahulu untuk anak dan perempuan. (rga)

loading...