Terlalu Banyak Bank, Bunga Tinggi

71
0

JAKARTA – Jumlah perbankan Indonesia tercatat ada ratusan bank. Hal ini salah satu penyebab kenapa bunga bank relatif tinggi, dan kalah bersaing dari perbankan negara Asean.

Ketua Umum Perbanas Kartina Wirjoatmodjo sebelumnya mengatakan, jumlah ideal bank di Indonesia di kisaran 50 sampai 70 bank. Karena itu, untuk menekan jumlah tersebut dibutuhkan konsolidasi antar bank.

“Harus segera dikurangi jumlah bank. Perlu ada konsolidasi, beberapa wajib dimerger,” kata pria yang disapa Tito.

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) periode November 2018, jumlah bank umum yang beroperasi di Indonesia tercatat 115 bank.

Terkait jumlah bank harus ditekan, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan tidak bisa memaksa para bank harus melakukan merger. Sebab ini berdasarkan pada pasar (market base).

“Tidak bisa dipaksakan. Sesuatu kalau dipaksakan tidak bisa, harus market base prosesnya,” ujar Wimboh di Jakarta Selasa (29/1).

Wimboh meminta untuk tidak perlu berdebat mengenai jumlah bank yang ideal. Sekali lagi, dia menegaskan bahwa itu yang menentukan berapa kebutuhannya dari market base.

“Jangan berdebat jumlah. Kalau dia layak hidup ya hidup. Kalau sakit ya cari partner, yang penting market base. Jangan menjadi debat kusir,” ujar Wimboh.

Mengenai persoalan perbankan RI gemuk, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov menilai perbankan di Indonesia memang sudah terlalu obesitas.

Abra menjelaskan, sejak 2012, Bank Indonesia (BI) telah mengeluarkan aturan yang mengelompokkan bank ke dalam empat kategori khusus. Aturan ini kemudian diperbaharui oleh Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 6/POJK.03/2016 tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti Bank.

“Secara garis besar aturan dimaksud untuk mengatur mengenai pengelompokan bank berdasarkan kegiatan usaha sesuai dengan besarnya modal inti. Pengelompokan ini dikenal dengan istilah Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha (BUKU). Aturan ini juga berlaku untuk bank umum, bank umum syariah, dan unit usaha syariah,” jelas Abra.

Menurut Abra, dengan jumlah perbankan yang dimiliki Indonesia sekarang ini tidak akan efisien, bahkan kalah bersaing dengan negara Asean.

“Jumlah perbankan gemuk gak ideal dan efisien. Karena pada akhirnya bank-bank kecil memburu nasabah dengan suku bunga yang tinggi. Mereka merebut pelanggan,” kata Abra.

Jadi, lanjut Abra, solusi yang harus diambil oleh pemerintah adalah untuk merger sehingga struktur perbankan menjadi efisien. Karena, kata Abra, jumlah perbankan gemuk akan menyebabkan persaingan tidak sehat antar bank. (din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.