Teror Perkosaan di Tasik, Korbannya Siswi SD, ASN, Guru & IRT

1107
0

KOTA TASIK – Teror tindakan asusila atau perkosaan terhadap kaum perempuan terus terjadi di wilayah Tasikmalaya. Korbannya, mulai siswi SD, aparatur sipil negara (ASN), Guru hingga ibu rumah tangga (IRT).

Pelakunya, pria menggunakan motor matic dan selalu mengenakan masker. Dan terakhir korbannya siswi SD di Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya.

Korban terakhir ini panggil saja Bunga (12) warga Desa Pakemitan, Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya.

Baca juga : Pernah tak Sejalan di Pilgub Jabar 2018, PKS Mulai Dukung Ridwan Kamil
Baca juga : Polisi Tasik Pastikan Mang Pian yang Tewas Ngambang di Kolam Lele dan 1 Matanya Dikerubuti Lele, Akibat Sakit

Dalam aksinya, pelaku yang selalu mengaku sebagai Uwaknya korban ini mengajak untuk bersetubuh.

Tiga korban IRT, Guru dan ASN tak melaporkan perisitiwa yamg menimpanya. Orangtua Bunga yang khawatir keselamatan anaknya, akhirnya lapor polisi.

Orang tua korban Bunga, Ani Nurlela (37) melaporkan kasus ini Senin (10/2) siang ke Mapolres Tasikmalaya Kota, didampingi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya.

Baca juga : Pelaku Teror Perkosaan di Tasik Selalu Mengaku Uwaknya Korban

“Kejadiannya saat anak saya mau sekolah agama di Jalan Raya Ciawi, Jumat (7/2) lalu. Anak saya bilang ke saya, saat pulang sekolah agama, ada yang ngajak “gituan”. Ngakunya sih Uwaknga,” ujar ibu korban kepada radartasikmalaya.com usai melapor.

Terang dia, pelaku awalnya berkomunikasi dengan korban menanyakan ayahnya gimana kabarnya.

“Lalu bilang disuruh ayahnya jemput dia. Anak saya tak mau. Tapi dia ngajak terus maksa. Lalu bilang disuruh ayahnya merkosa dia,” terangnya.

“Lalu anak saya teriak, ketakutan dan langsung menangis. Tapi tak ada yang dengar karena kondisinya jalan sedang ramai lalu lalang kendaraan. Pelaku tak bisa dikenali karena memakai masker, naik motor matic warna hitam. Kejadiannya siang sekitar jam 14.00 WIB,” sambungnya.

Akibat kejadian itu, jelas dia, kini anaknya trauma dan selalu ketakutan serta menangis jika ada orang tak dikenal yang menyapa dirinya.

“Saat ini anak saya takut dan trauma. Apalagi kalau ada yang nanya dari orang tak dikenal langsung nangis anak saya. Ini kejadian pertama yang dialami anak saya. Pas anak saya kasih tahu saya langsung lapor ke Polisi,” jelasnya.

(rezza rizaldi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.