Teror Pupuk Oplosan

256
0
gerebek PUPUK OPLOSAN. Kapolsek Singaparna Kompol Budiman (dua kiri) bersama anggotanya dan anggota TNI AD saat menggerebek tempat pengoplosan pupuk di Desa Pasirsalam, Mangunreja, Tasik Kamis (9/11).

Polsek Singaparna Kabupaten Tasikmalaya bersama TNI AD membukakan mata publik bahwa di Tasik ada pengoplosan pupuk anorganik. Polisi terus bergerak mengembangkan kasus yang mereka ungkap Kamis (9/11). Dinas Pertanian juga mengimbau petani agar berhati-hati terhadap peredaran penyubur tanaman abal-abal.

Kapolsek Singaparna Kompol Budiman mengatakan CVA (30), pemilik perusahaan CV Azka Tani, yang mengoplos dan pembuat pupuk anorganik di Desa Pasirsalam Kecamatan Mangunreja Kabupaten Tasikmalaya bukanlah ahli pembuatan pupuk. Pria yang telah ditetapkan menjadi tersangka itu membuat pupuk sendiri. “Itu pengakuannya. Sudah beberapa kali membuka usaha pupuk tapi gagal.
Makanya dia berani meng­oplos. Dia itu masyarakat biasa,” ujarnya Minggu (12/11).
Kanitreskrim Polsek Singaparna Ipda Roni Hartono menambahkan bahwa CVA belajar mencampur bahan-bahan pupuk di daerah Padalarang. Ia pun membeli bahan-bahan pupuk yang dioplos di Mangunreja dari kawasan di Kabupaten Bandung Barat itu. “Belajar otodidak. Jadi kalau menakar pupuknya itu mengarang dan sebisanya dia. Tidak ada takaran pasti,” terang perwira pertama ini.
Menurut Roni, CVA, yang di­tang­kap di rumahnya di Warungpeuteuy Desa Margalak­sana Kecamatan Salawu Kamis lalu, sudah menjual pupuk oplosannya ke toko-toko di Kabupaten Tasikmalaya. Terutama, wilayah Singaparna dan Leuwi­sari. “Kami menyita pupuk oplosannya dari kios-kios pupuk di wilayah Singaparna hanya 12 karung,” paparnya.
Lalu berapa yang CVA pro­duksi? Selama tiga bulan, perusahaan milik CVA membuat pupuk oplosan 10 ton. Penghasilannya sampai Rp 8 juta. Adapun sebagian pupuk oplosannya sudah ada yang digunakan petani di wilayah Singaparna. Namun mereka enggan berbicara karena takut dijadikan saksi. “Ada petani yang sudah memakainya tapi belum ada yang laporan. Pupuknya dipakai menaman cabai malah mati,” kata perwira yang ikut.
Sekretaris Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Tasikmalaya Yayat menjelaskan bahwa pupuk yang dibuat CV Azka Tani milik tersangka CVA termasuk pupuk anorganik oplosan. Bahan yang dipakai mengoplos memakai bahan tak lazim. Seperti dicampu0r pewarna cat, kapur dan garam dengan kadar yang banyak.
Disebut oplosan, kata dia, karena dalam kandungan pupuk yang dibuat tersangka CVA masih terdapat kandungan Zulfat Almunium (ZA) yang merupakan bahan pupuk kimia buatan yang mengandung amonium sulfat (asam belerang) untuk memberi tambahan hara nitrogen pada tum­buhan. Berikutnya, ada kandungan Kalium Clorida (KCl) untuk membantu per­tumbuhan organ-organ tumbuhan.
Jika komposisinya seperti itu apalagi dengan kadar garam yang banyak dengan takaran yang salah, terang Yayat, akan membuat tanaman padi pertumbuhannya telat dan lama kelamaan daun-daunnya menguning. “Tapi saya juga belum tahu pasti kandungan pupuk oplosan yang disita polisi dari Mangunreja. Karena hasil uji kandungan di Laboratorium Lembang Bandung belum keluar,” ujar Yayat Minggu (12/11).
Komposisi kandungan pupuk yang asli itu, jelas dia, jika dicontohkan seperti contoh pupuk NPK (Nitrogen, Posfor dan Kalium) mengandung Triple Super Phosphate (TSP) memiliki unsur nutrien anorganik yang digunakan untuk memperbaiki hara tanah untuk pertanian. Kemudian mengandung Kalium Clorida (KCl) yang mampu membantu pertumbuhan organ tanaman. Selanjutnya ada urea yang merupakan bahan pupuk kimia yang mengandung unsur nitrogen (N) dengan kadar yang tinggi membantu pertumbuhan tanaman.
Cara sederhana membedakan pupuk asli dengan yang palsu, kata dia, pupuk asli harganya sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), logo tulisan pada kantong tampak jelas dan rapi, benang jahit berwarna tiga macam merah, putih dan hitam, jika tangan dimasukan kedalam pupuk tidak ada debu yang menempel, bila dijilat rasa pupuk agak asam, bau pupuk lebih menyengat dan bila pupuk dipecah warna bagian luar dan dalam sama.
Adapun pupuk palsu biasanya harganya murah, logo atau tulisan pada kantong terlihat kurang jelas dan buram, benang jahit tidak sama pada kantong asli, bila tangan dimasukan ke dalam pupuk debu yang menempel atau melekat pada tangan, bila dijilat rasa pupuk tidak terasa asam, bau pupuk tidak menyengat dan bila pupuk dipecah warna bagian luar dan dalam tidak sama.
Kemudian biasanya pengedar pupuk oplosan tidak ada izin edar dari Dinas Pertanian. Otomatis keaslian pupuknya dipertanyakan. Jadi kalau perusahaan pupuk yang sudah ada izin edar dari Dispertan atau Kementerian Pertanian (Kementan) pasti pupuknya sudah melalui uji standar keaslian dan bisa beredar di pasaran. “Kalau belum izin edar belum ada berarti indikasinya pupuknya palsu,” terangnya.
Seperti contoh, ada peng­usaha pupuk yang mengoplos pupuk namun mereknya menggunakan merek perusahaan yang lain. Kemudian izin edarnya perusahaan orang lain. ”Kan itu termasuk palsu. Kalau tidak punya izin edar itu harus ditutup. Harus ada izin dari Kementan atau Dispertan setempat. Kalau tidak ada izin edar tetap bisa beroperasi merugikan petani,” paparnya.
Makanya Dispertan Kabu­paten Tasikmalaya, kata dia, menerjunkan penyuluh pertanian ke desa-desa dan kepada kelompok tani. Bahkan, setiap bulannya Dispertan mengadakan pertemuan dengan gapoktan dan selalu mengimbau berhati-hati dalam memilih pupuk.
“Pupuk ini kan ada kios khusus yang ditunjuk oleh dinas. Apalagi petani ada pupuk bersubsidi, sudah jelas ada prosedurnya ada penyalurnya. Ada kios-kiosnya, itu sudah pasti, kalau di luar itu kami tidak tahu,” jelasnya.
Kepala Seksi Pengolahan dan Penerbitan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Tasikmalaya Ade Suhendar mengatakan nama CV Azka Tani sudah terdaftar Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) -nya di pemerintah daerah. “Namun izin SIUP dan TDP-nya di bidang jasa kontruksi. Bukan usaha pupuk. Apalagi menjual pupuk oplosan,” terang Ade.
Menurut Ade, syarat menjadi distributor pupuk diantaranya perusahaannya harus berbadan hukum, akte pendirian perusahaan, Tanda Dafatar Perusahaan (TDP), Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), tanda daftar gudang dan sarana transportasi, memiliki kantor dan pengurus aktif, memiliki minimal dua kios resmi dan mendapatkan rekomendasi dari Dinas Perindustrian dan Pedagangan (Disperindag) dan izin dari Dinas Perizinan setempat.
Petani Cemas
Anggota Kelompok Tani Galunggung asal Kampung Citunggul Desa Linggajati Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya Jaja Batara (66) menuturkan petani khawatir dengan beredarnya pupuk oplosan. Sebab kalau menggunakan pupuk palsu atau dioplos akan jelek untuk pertumbuhan tanaman padi. Kemudian hama padi tetap menempel. Pertumbuhannya lambat walaupun tetap tumbuh. “Daunnya cepet kuning dan mudah layu. Kalau pupuk asli seminggu itu tanaman padi cepat tumbuhnya. Banyak daunnya,” tuturnya.
Perbedaannya, terang Jaja, kalau pupuknya asli dan bagus normal daunnya lebat dan tebal. Kalau pupuk yang banyak dicampur apalagi dioplos, daun padi tipis dan kuning. “Panennya sama tiga bulan tapi kualitasnya jelek. Kalau pakai pupuk asli dan bagus bisa menghasilkan satu ton, kalau pupuk palsu atau oplosan setengan ton,” ujarnya.
Sebelumnya, Polsek Singaparna Kabupaten Tasikmalaya menggerebek rumah produksi pengoplosan dan pembuatan pupuk tak berizin produksi di Kampung Sindangkasih RT 08 RW 02 Desa Pasirsalam Kecamatan Mangunreja Kamis (9/11). Polisi juga mengamankan CVA (30), pemilik perusahaan yang menjual pupuk oplosan tersebut di rumahnya, Warungpeuteuy Desa Margalaksana Kecamatan Salawu. (dik)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.