Tersangka Lingtar Ajukan Pembatalan Sita Aset,20 Pengacara Siap Membela

37

TASIK – Tersangka kasus penggelapan dana pem­be­ba­an jalur Ling­kar Utara (Ling­tar) akan mengajukan pem­batalan sita. Sebab aset mi­lik D tersebut, me­rupakan ha­sil warisan bu­kan termasuk ba­rang bukti kasus.

Kuasa hukum D, Agus Rajasa SH mengaku sedang mempersiapkan gugatan pembatalan sita tersebut. Penyitaan dilakukan oleh Kejaksaan melalui Pengadilan Negeri Purwakarta. “Jadi kita akan mengajukan gugatan itu ke Pengadilan Negeri Purwakarta,” ungkapnya kepada Radar, Selasa (27/11).

Rencana gugatan pem­batalan sita, kata Agus, karena salah satu sertifikat aset milik D hasil warisan. Pa­dahal aset tersebut tidak bisa menjadi ba­rang bukti kasus.

“Dia me­milikinya jauh sebelum pe­nitipan (konsinyasi, Red), jadi jauh kalau dijadikan barang bukti,” tuturnya.

Padahal, tam­bah dia, aset tersebut rencananya akan digunakan tersangka untuk melakukan pengembalian dana konsinyasi. Dia pun menyesalkan penyitaan yang cenderung dipaksakan sehingga itikad baik D tidak bisa terlaksana. “Iya tadinya kan aset itu untuk mengembalikan uangnya,” tutur Agus.

Menurutnya, gugatan pembatalan aset ini terpisah dengan sidang yang akan dijalani tersangka. Diharapkan majelis hakim Pengadilan Negeri Purwakarta bisa mengabulkannya. “Ya meskipun nanti sudah sidang, proses gugatan pembatalan sita ini tetap berjalan,” tuturnya.

Disinggung banyaknya kuasa hukum D, Agus mengamininya. Bahkan bukan hanya 16 orang saja melainkan sampai 20 pengacara. Akan tetapi tidak ada yang mematok tarif atau menuntut bayaran kepada D atas tenaga dan pikiran yang dikeluarkan. “Kita tidak meminta bayaran, paling hanya sekadar ongkos operasional saja sewajarnya,” akunya.

Dijelaskan Agus para pengacara yang ikut serta merasa terpanggil membela tersangka. Karena dia melihat ada ketidakadilan hukum yang sangat memberatkan D dalam perkara ini. “Saya dan yang lainnya terpanggil untuk itu (membela tersangka, Red),” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Kejaksaan Negeri Tasikmalaya menemukan ada niat jahat (mensrea, Red) dari D yang berujung penggelapan dana konsinyasi yang dititipkan oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Hingga ditetapkan menjadi tersangka pembebasan dana jalur Lingkar Utara (Lingtar). “Mensrea-nya ada di tersangka, setelah melalui proses penyidikan yang dikuatkan alat bukti dan saksi,” ujar Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tasikmalaya Masmudi SH kepada Radar, Senin (26/11).

Masmudi menerangkan dilimpahkannya kasus dari penyidik ke penuntut umum bukan tanpa proses. Penyidik sudah mendapatkan alat bukti yang kuat sehingga memutuskan menahan tersangka. “Niat jahat itu ada di tersangka (D, Red), setelah dititipkan uang konsinyasi, ” ungkapnya.

Namun, kata dia, pihaknya tidak bisa membeberkan niat jahat D menggelapkan dana konsinyasi itu, sebelum atau sesudah proses penitipan dana Lingtar. Menurut Masmudi, niat jahat itu direalisasikan dengan menyalahgunakan uang tersebut. “Selain niat (jahat), dia mengaktualisasinya, kalau hanya niat sih tidak akan dijerat,” terangnya.

Disinggung soal janggalnya penetapan tersangka tunggal dalam kasus ini, Masmudi enggan banyak memberikan penjelasan. Karena hal itu merupakan salah satu materi di persidangan. “Tergantung kehendak majelis hakim nanti bagaimana,” terangnya.

Terkait proses hukum tahap kedua ini, kejaksaan sudah masuk persiapan pelimpahan ke Pengadilan. Diharapkan tidak ada kendala yang bisa menghambat perkara ini sampai ke meja hijau. “Mudah-mudahan minggu ini bisa kita limpahkan,” ujarnya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.