Melihat Batik Garutan yang Kini Mulai Meredup

Tersisihkan oleh Produk Batik Impor

3
MEREDUP. Agus Sugiarto, salah satu pengrajin batik garutan menunjukkan batik garutan hasil buatannya di galerinya Selasa (2/10).

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

Keberadaan batik asli Kabupaten Garut atau yang biasa disebut Batik Garutan kini mulai meredup. Hal itu karena kain khas Indonesia ini kini mulai tersisihkan dengan masuknya batik print dari China.

Yana Taryana, Tarogong Kidul

WARNA cerah dengan corak flora dan fauna menjadi ciri khas batik garutan. Semua gambar terinspirasi dari suasana alam di Kabupaten Garut.

Awalnya, banyak yang menjadi pengrajin batik garutan ini. Tapi, sedikit demi sedikit mereka mulai meninggalkan profesinya.

“Penjualan terus merosot hingga 40 persen. Mulai terasa itu dari tahun 2015 sampai sekarang,” ujar Agus Sugiarto (53), salah satu pengrajin batik garutan di Jalan Pembangunan Nomor 128, Jayawaras, Tarogong Kidul Selasa (2/10).

Menurunnya tingkat penjulan batik, kata dia, selain adanya batik print buatan China, juga naiknya tukar dolar terhadap rupiah. Nilai tukar dolar memengaruhi harga bahan baku, seperti pewarna.

“Pewarna batik dan malam kita impor dari Malaysia, Prancis, China dan India. Jadi ketika dolar naik, otomatis harga bahan baku juga ikut naik,” paparnya.

Meski begitu, dirinya tidak berani menaikan harga batik garutan ini. Dia tidak ingin konsumennya pergi. Apalagi sekarang banyak batik china yang harganya jauh lebih murah dari batik lokal.

“Kalau batik china Rp 100 ribu itu bisa dapat tiga potong. Kalau batik lokal itu paling murah Rp 150 ribu,” terangnya.

Agus pun akan terus fokus menekuni usaha batik garutan yang merupakan peninggalan orang tuanya ini.

“Orang tua saya itu bikin batik garutan dari tahun 1970, kemudian diteruskan oleh saya yang merupakan generasi kedua,” terangnya.

Hal itu terbukti. Meski pasar sedang lesu, dirinya tetap memproduksi batik garutan, baik batik tulis maupun cap. Setiap dua bulan rata-rata dia memproduksi batik tulis delapan potong. Sedangkan batik cap sebanyak satu kodi atau 20 potong per 10 hari.

“Buat batik tulis tergantung pesanan juga sih. Satu potong itu butuh waktu dua bulan. Kualitas sangat kami jaga,” katanya.

Sementara itu, dia mengatakan saat Hari Batik Nasional biasanya banyak yang memesan batik. Namun tahun ini pesanan batik sangat sedikit.

“Orang Pemda biasanya pas hari batik itu pesan. Tapi sekarang tidak ada. Mungkin ada dampak ekonomi juga, jadi daya beli berkurang,” ucap ayah dua anak ini. (*)

loading...