Tertular dari Suami

250
0

Saat Hamil 3 Bulan, Suaminya Meninggal
Simulakra (bukan nama sebenarnya) usianya baru 25 tahun. Warga Kabupaten Tasikmalaya ini menjalani hidup sebagai orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Dia terjangkit HIV dari suaminya.
“Saya tak menyangka bisa mengidap HIV, karena saya tidak pernah melakukan hubungan seks dengan orang lain kecuali dengan suami saya,” ujarnya kemarin.
Suaminya kini sudah meninggal. Semasa hidupnya, sang suami sering sakit-sakitan sampai akhirnya meninggal. Tetapi saat itu status HIV suaminya tidak diketahui.
“Ketika suami meninggal, saya sedang hamil 3 bulan. Dokter menyarankan tes VCT dan tuberkolosis. Hasilnya saya positif HIV,” ujarnya.
Saat itu, dia sangat kaget. Kehilangan semangat hidup. Ia membayangkan stigma dan diskriminasi yang akan didapatnya seumur hidup.
“Saya meratapi nasib. Kenapa orang kampung yang jarang bergaul seperti saya bisa kena HIV. Ternyata saya tertular HIV dari suami saya yang mantan pengguna narkoba suntik,” bebernya.
Saat kehamilan memasuki usia 4 bulan, perempuan muda itu didampingi Kelompok Dukungan Sebaya untuk mendapatkan dukungan psikososial. “Support dari para relawan KDS membuat semangat hidup saya kembali bangkit,” katanya.
Dia dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan pe­ra­wat­an, dukungan, dan pengobatan ARV. Dari rangkaian pengobatan ini, dia bertemu dengan para wanita yang senasib dengannya.
Simulakra pun kemudian ikut program pencegahan penularan dari ibu ke anak. Ia mengaku cemas bila anak yang dilahirkannya tertular HIV. “Akhirnya saya melahirkan dengan cara cesar,” katanya. Setelah 2 tahun, anaknya dites HIV dan hasilnya negatif.
“Harapan saya, di Hari HIV AIDS ini, tidak ada lagi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA,” harapnya. Sebab, sambungnya, cara penularan HIV itu tidak seperti yang dibayangkan masyarakat. “Banyak masyarakat yang mengira, dengan bersentuhan bisa tertular. Padahal tidak begitu. Buktinya anak saya negatif HIV padahal kontak darah secara langsung dengan saya,” katanya.
Dia bersyukur berkat doa dan terapi ARV secara patuh, jumlah virus dalam tubuhnya bisa ditekan dan meminimalisir tingkat penularan.
“Harapan saya kepada pemerintah bisa meningkatkan layanan kesehatan dengan menyediakan tes viraload (menghitung jumlah virus dalam tubuh, Red), test CD4 (kekebalan tubuh) dan jaminan kesehatan untuk ODHA. Sebab selama ini layanan kesehatan tersebut masih berbayar dan sangat menguras kantong. Orang kaya pun bisa jadi miskin kalau terinfeksi HIV,” katanya. (na)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.