Tetap Sekolah, Utang Beras Dibayar Setelah PKH Cair

107
IMAN S RAHMAN/RADAR TASIKMALAYA TEGAR. Nurhasanah bersama adiknya Iip Hopipah berjuang tanpa ibu dan peran ayah Senin (29/1).

Hidup berdua, tak membuat Nurhasanah (17) dan Iip Hopipah (12) cengeng. Setelah sang ibu meninggal dan ayah mengalami depresi, keduanya tetap menjalani keseharian dengan tegar. Mereka juga tetap bersekolah dengan mengandalkan bantuan pemerintah serta hasil bekerja pada tetangga.

IMAN S RAHMAN, Ciamis

DUA tahun sudah Nurhasanah dan Iip Hopipah berjuang meneruskan hidup berdua. Sang ibu telah meninggal pada tahun 2015 lalu. Sementara ayahnya bernama Sodikin, terganggu kejiwaannya sejak empat tahun ke belakang. Sehingga, tak bisa mencarikan nafkah. Meski begitu, keduanya tetap tegar. Mereka tetap bersekolah, meski harus banting tulang sendiri mencari uang untuk memenuhi kebutuhan. “Saya hanya bercita-cita ingin jadi orang berhasil dan sukses pak,” tutur Nurhasanah mengawali cerita saat Radar, mengunjungi rumahnya di Dusun Cikarang RT 10/8 Desa / Kecamatan Sadananya Senin (29/1).
Nurhasanah bersekolah di SMK Al-Huda Kecamatan Sadananya. Sedangkan Adiknya, Iip Hopipah sekolah di SDN 3 Sadananya. Dia mengungkapkan selama ini dirinya dan sang adik mendapat bantuan dari pemerintah melalui Program Keluarga Harapan (PKH) sebesar Rp 1.890.000 per tahun untuk memenuhi kebutuhan, serta Bantuan Siswa Miskin (BSM) sebesar Rp 450.000 untuk biaya pendidikan. Namun, uang itu belum mencukupi kebutuhan. Untuk makan, dia biasanya ngutang beras ke warung. “Bila ada bantuan (PKH) cair, baru saya bisa membayar utang ke warung,” ungkapnya Senin (29/1).
Setiap pulang sekolah atau hari libur, Nurhasanah mengaku mencari uang dengan bekerja kepada tetangga. Biasanya ia membantu membersihkan rumah tetangga seperti ngepel dan lainnya. Upah yang didapat digunakan untuk membeli lauk pauk dan bekal sekolah sang adik. Aktivitas itu, sebelumnya tak pernah ia ceritakan kepada orang lain karena khawatir akan mengundang belas kasihan dan merepotkan orang.
Ditemui terpisah, Tina Listiana SPd (34), wali kelas Iip Hopipah di SDN 3 Sadananya mengaku mengenal betul kakak beradik ini. Sebab, Nurhasanah juga dulu sekolah di SDN 3 Sadananya. Keduanya adalah anak yang pintar dan kerap masuk ranking tiga besar di sekolah. Iip misalnya, sejak kelas satu sampai sekarang kelas enam, selalu mendapat ranking satu atau dua. Di balik prestasi yang bagus itu, Tina mengaku sangat prihatin dengan nasib Nurhasanah dan Iip. Mereka berjuang memenuhi segala kebutuhan berdua. Bahkan, pada Jumat (26/1) sekitar pukul 09.00, Tina mengaku sangat sedih. Hari itu ia baru selesai mengajar di kelas. Semua anak keluar karena sudah jam istirahat. Hanya Iip yang tersisa di dalam ruangan dan menghampirinya ke meja guru. Adik Nurhasanah tersebut hendak mengambil uang tabungannya sebesar Rp 50.000. Ketika ditanya keperluannya, Iip mengungkapkan uang itu akan digunakan untuk bekal sehari-hari.
“Saya terharu dengan pernyataan Iip. Makanya saya inisiatif ngasih uang dari uang kas. Tabungannya tetap utuh,” kisahnya. “Semoga keduanya diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan itu,” sambungnya.
Pengalaman serupa juga diungkapkan Tata Nugraha (31), guru sekaligus tetangga Nurhasanah dan Iip. Dia mengaku tak kuasa menahan sedih ketika mengunjungi Nurhasanah dan Iip di rumahnya empat hari lalu. Waktu itu ia hendak memberi bantuan kompor dan tabung elpiji kepada kakak beradik tersebut, karena selama ini masih menggunakan tungku.
Saat datang, Tata melihat Iip sedang di dapur memasak. Saat ditanya, Iip menjawab tengah menanak nasi. Tata pun penasaran. Ketika Iip pergi dari dapur, diam-diam ia membuka isi wajan. Seketika ia kaget. Iip dan Nurhasanah ternyata bukan sedang menanak nasi, tapi mengukus nangka mentah. “Saya kaget campur sedih. Anak tersebut berani berbohong hanya untuk menutupi kesedihannya,” ungkapnya. (*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.