Tiap Hari, Hindun Warga Kota Tasik Hidup Dalam Ketakutan

143
0
BERHARAP BANTUAN. Hindun menyiapkan nasi di rumahnya di Argasari RT/RW 02/02 Kecamatan Cihideung Selasa (4/2). Dia khawatir rumah yang ditinggali bersama anak dan cucunya itu ambruk. foto-foto: RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA
BERHARAP BANTUAN. Hindun menyiapkan nasi di rumahnya di Argasari RT/RW 02/02 Kecamatan Cihideung Selasa (4/2). Dia khawatir rumah yang ditinggali bersama anak dan cucunya itu ambruk. foto-foto: RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA

CIHIDEUNG – Hindun (68), warga Argasari RT/RW 02/02 Kecamatan Cihideung hidup dengan ketakutan. Atap rumah yang dia tempati sudah keropos. Dia cemas rumahnya ambruk.

Di rumah berukuran sekitar 5×7 meter itu, Hindun tinggal bersama anaknya Susi Susilawati (26), yang punya gangguan mental. Kondisi anaknya itu sudah sekitar 20 tahun. Namun, dia takut untuk keluar rumah dan bersosialisasi dengan warga lainnya.

Selain anaknya, di sana juga ada Siti Maryana (20) dan suaminya Andi Mikdar (25). Dia tulang punggung keluarga yang bekerja sebagai buruh bangunan. Hindun memiliki beberapa anak lain yang sesekali memberinya biaya hidup.

Lansia itu mengaku tidak mengalami masalah untuk makan sehari-hari, karena dibantu suami cucu dan anak-anaknya. Apalagi, dia penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).

Baca Juga : Bertahun-tahun Mangkrak, SOr Mangunreja Tasik Kembali Dibangun

“Kalau untuk makan mah sama kecap juga enggak apa-apa,” tuturnya kepada Radar, Selasa (4/2).

Adapun kekhawatirannya, dia takut rumahnya yang sudah keropos, ambruk saat hujan deras. Apalagi, saat hujan, air hujan masuk ke rumah, karena genting-genting yang tidak lagi rapat.

“Di kamar yang suka bocor,” katanya.

Adakah pihak pemerintah yang datang untuk membangun rumahnya? Hindun menyebutkan rumah yang kini dihuninya dibangun dengan bantuan pemerintah. Saat itu dia mendapat stimulan sebesar Rp 5 juta.

“Itu tahun 2014. Suami saya juga masih ada,” tuturnya.

Hindun berharap kembali mendapat bantuan perbaikan rumah. Akan tetapi, dia kebingungan untuk mencari tambahannya, karena kerabat yang dulu membantunya kini sudah tiada.

“Kalau masih ada, pasti rumah ini sudah diperbaiki,” terangnya.

Pantuan Radar, bangunan semi permanen itu memang masih kokoh di bagian bawahnya. Namun kayu-kayu di atap rumah tersebut sudah terlihat renggang dan lapuk.

Baca Juga : Ngeri.. Siswa SDN 3 Cigorowong Cisayong Tasik Belajar di Bawah Atap Siap Roboh

Di lahan seluas sekitar 5 x7 meter itu, ada dua kamar, satu ruang keluarga, satu dapur dan satu jamban. Meskipun terasa sempit, Hindun sudah terbiasa dengan kondisi rumah seperti itu.

Cucu Hindun, Siti Maryani mengatakan sejak kecil dia memang sudah tinggal bersama neneknya itu. Pasalnya dia sendiri tidak mengetahui keberadaan ibunya setelah menikah lagi.

“Bapak sudah meninggal. Kalau ibu enggak tahu sekarang dimana,” tuturnya.

Sebelum dia menikah dengan Andi, Siti memang hanya menjadi beban untuk neneknya. Namun saat ini dia sudah menikah sehingga suaminya bisa membantu memberi nafkah juga untuk Hindun.

“Saya enggak kerja, yang kerja suami saya,” tuturnya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.