Mengenal Komunitas Paham Ehen

Tidak Salurkan Hak Politik, Selalu Tepat Bayar Pajak

6
CERITAKAN. Sawidin (kanan) dan Kanad (kiri) merupakan generasi  balad Ehen yang masih tersisa.

Sudah puluhan tahun komunitas Ehen tinggal di Dusun Karangpaci Desa Kertayasa Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran. Mereka tinggal seperti masyarakat pada umumnya, akan tetapi ada beberapa hal yang menbuat komunitas ini tergolong unik, yaitu paham atau pola pikir mereka yang cenderung anti politik.

Deni Nurdiansah, Pangandaran

Komunitas Ehen sudah eksis sejak puluhan tahun yang lalu, nama Ehen sendiri berasal dari nama tokoh masyarakat Dusun Karangpaci. “Ehen merupakan orang yang ditokohkan disani, banyak warga mengikuti pemahaman atau pola pikirnya,” ungkap kepala Dusun Karangaci Koidin kepada Radar, Kamis (27/9).

Pekerjaan masyarakat Ehen pada umumnya adalah bertani dan bercocok tanam, namun generasi saat ini banyak yang berkecimpung di berbagai profesi. “Kalu dulu pendidikan mereka hanya sampai SD, paling tinggi ya sampai SMP,” jelas Koidin.

Ia membeberkan bahwasanya komunitas Ehen memiliki pola pikiran yang anti terhadap aktivitas berkaitan dengan politik. “Mereka tidak pernah ikut berpartisipasi dalam pemilu, hak suara mereka tidak pernah disalurkan,” jelasnya.

Mereka juga, kata Koidin, jarang terlibat dalam kegiatan program pemerintah seperti Posyandu atau KB. “Tapi itu dulu, sekarang sudah semakin berkurang,” katanya.

Komunitas Ehen selalu paling awal dalam masalah bayar pajak, tidak ada satu pun komunitas Ehen yang telat bayar pajak. “Mereka itu selalu paling utama (bayar pajak, Red), namun untuk kegiatan politik mereka tidak pernah ikut,” ceritanya.

Salah satu keponakan Ehen yang masih hidup bernama Sawidin (66) mengatakan, panggilan Ehen datang dari masyarakat luar Dusun Karangpaci yang menilai paham Ehen sebagai sesuatu yang sangat aneh. “Kami juga biasa disebut balad Ehen, kadang stigmanya cukup negatif,” terangnya

Menurutnya, Ehen sudah lama meninggal, sejak itu pula banyak generasi yang meninggalkan paham itu berubah menjadi masyarakat modern. ”Yang tersisa hanya tinggal beberapa saja, termasuk kami selaku keluarga,” tuturnya.

Dia mengaku sikap anti politik yang ditanamkan sejak duku masih tetap dijalankan. “Kami tidak mau diadu domba karena urusan politik, siapa pun yang mau jadi pemimpin silahkan saja, asalkan dia bagus baik dan jujur,” paparnya.

Setiap kali pergi TPS, Sawidin hanya membuka kertas suara saja tanpa melakukan pencoblosan, itu kami lakukan sejak pemilu tahun 70-an.

Sikap anti politik komunitas Ehen sendiri, pertama kali muncul sejak pemberontakan G-30 S-PKI, saat itu kelompok Ehen dicatut PKI. “Padahal kami bukanlah PKI, sehingga anti politik kami mulai muncul sejak itu,” tuturnya. “Dari situ kami (komunitas Ehen) kapok setiap ada pemilihan dan memilih bersikap netral,” jelasnya.

Dia menyebutkan pemahaman mereka bukan hanya sikap anti politik saja, tapi juga mengenai falsafah kehidupan “Bahkan kami dulu punya kitab atau buku yang diberi nama tareh alam, namun buku tersebut kini sudah hilang,” ungkapnya.

Buku itu dibawa oleh seseorang bernama H Musa yang baru pulang dari mekkah. “Buku tersebut diberikan kepada Ehen dan dipinjamkan kepada seluruh warga, sehingga muncul pengikut generasi pertama yang berjumlah 79 orang, mereka setuju dengan pemikiran Ehen,” terangnya

Buku itu berisi tentang kehidupan dan kejujuran tentang kebaikan dari masa lalu. “Kini buku itu lenyap seiring dengan meninggalnya Ehen,” tandasnya. (den)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.