Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
18%

82%

Tim Elit Muslim Cyber Army Ternyata Ada 9 Orang, Begini Cara Kerjanya

142
0
Anggota Muslim Cyber Army, Tara Arsih Wijayani (paling kanan)

JAKARTA – Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap enam orang tersangka yang tergabung dalam grup whatsapp The Family MCA (Muslim Cyber Army).

Grup tersebut memproduksi dan menyebarkan ujaran kebencian, fitnah dan berita hoax melalui media sosial.

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran mengungkap, sejatinya tim elit Muslim Cyber Army ini ada sembilan orang saja.

Namun, sembilan orang tersebut menjadi pemegang kebijakan.

Mereka kemudian yang mengatur dan merencanakan berita agar dapat diviralkan secara terstruktur.

Mantan Direskrimsus Polda Metro Jaya itu membeberkan, MCA sendiri terbagai menjadi dua.

Yakni Cyber Moeslem Defeat Hoax (CMDH) dan The Family Team Cyber (TFTC).

“Mereka komunikasi pakai aplikasi Zello,” beber Fadil di gedung Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim, Cideng, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018).

Nah, sembilan orang tersebut tergabung di dalam grup rahasia yakni The Family Team Cyber yang menjadi inti dari Muslim Cyber Army (MCA).

Sedangkan CMDH berisikan 145 member dan lima admin. Grup tersebut sebagai tim yang melakukan setting opini yang hendak dimainkan.

Sementara, United Muslim Cyber Army (UMCA) dengan jumlah anggota 102.064 dengan 20 member dijadikan wadah untuk menampung semua postingan dari member MCA.

Baik itu berita, video dan gambar atau gambar meme sebagai rujukan untuk diviralkan.

Sementara, Sniper Army Team sebagai tim elit dari kelompok ini yang bertugas memonitoring akun-akun lawan untuk kemudian dilaporkan ke Facebook.

“Tujuannya, agar bisa dimatikan atau dinonaktifkan oleh Facebook sehingga tidak bisa diakses lagi,” jelasnya.

Saat ini, lanjut Fadil, pihaknya tengah mendalami asal-muasal dana dan modal yang didapat untuk operasional MCA.

“Akan didalami lagi untuk mengetahui bagaimana korelasi dengan pihak lain,” ujar Fadil.

Pihaknya juga tengah berusaha untuk membongkar pihak mana saja yang memakai ‘jasa’ Muslim Cyber Army.

Sebab, tambah Fadil, menilik pada cara kerja, timeline isu dan teknis operasional, diduga kuat ada pihak-pihak tertentu sebagai pengorder.

“Siapa yang order, adakah kaitannya dengan ormas atau organisasi dan parpol apapun, kasih kami waktu,” tegas Fadil.

Kendati demikian, mantan Direskrimsus Polda Metro Jaya itu itu enggan berandai-andai dan menyimpulkan lebih awal.

Terlebih pihak yang selama ini menjadi penyandang dana MCA yang memiliki ratusan ribu anggota itu.

“Siapa yang menyuruh dan dari mana mendapat modal, itu juga masih kami dalami,” bebernya.

(ruh/pojoksatu)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.