PGRI Gelar Workshop Kearifan Lokal

PGRI Kota Tasik Tingkatkan Kemampuan Literasi

12

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

TASIK – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Tasikmalaya akan menggelar workshop menggali nilai-nilai kearifan lokal daerah. Acara yang bekerjasama dengan Padepokan Kampung Salapan ini akan digelar di Padepokan Kampung Salapan Urug Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya pada 26 hingga 30 Oktober 2018.

Ketua PGRI Kota Tasikmalaya Bangbang Hermana SPd MPd mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas dan profesionalitas guru, dengan menjadikan alam sebagai laboratorium pendidikan dalam upaya pendidikan karakter.

“Makanya kita pilih lokasi Urug ini yang paling cocok dengan tujuan kegiatan kita. Selain untuk peningkatan kualitas guru juga ingin memfasilitasi Asosialsi Guru Penulis untuk lebih meningkatkan kemampuan literasinya. Ini menjadi salah satu goal dari kegiatan workshop,” terang Bangbang saat mengisi Talk Show Bincang Radar di Studio Radar TV, Rabu (10/10).

Bangbang mengatakan, peserta workshop dibatasi hanya untuk 30 orang. Peserta berasal dari guru yang tergabung dalam komunitas menulis dari semua jejang baik SD, SMP, SMA, SMK dan sederajat yang tergabung di PGRI.

“Selama workshop kita ajak para peserta untuk ngaguar Urug, mempelajari tentang Urug, serta mengeksplorasi budaya lokal,” ujarnya.

Sesepuh Padepokan Kampung Salapan Dian Hadianto ST menuturkan, pengenalan pendidikan budaya lokal saat ini sudah hampir tergeser oleh teknologi. “Di Urug kita membedah kitab batik, yang kaitannya dengan budaya,” tutur Dian.

Lanjutnya, Urug memiliki filosofi tersendiri. Urug merupakan singkatan dari Usaha Rakyat Untuk Gotong Royong dan jika dibalikkan Urug menjadi guru. Sehingga kerjasama dengan PGRI ini sangat relevan.

Ia mengatakan, Kampung Salapan ini tempat belajar yang nyata, sebagian besar Urug adalah hutan yang dikelola oleh Perhutani dan masyarakat.

“Tempat belajar bukan hanya di sekolah tapi juga di alam. Alam bisa dimanfaatkan untuk pendidikan dan semua komunitas harus cinta pada alam,” ungkap Dian.

EO Kampung Salapan H Asep Nurcholish SPdI menjelaskan, sebelum workshop yang menjadi agenda inti, ada lomba photoshoot yang mana hasil lombanya akan menjadi sumber karya tulis peserta workshop. Lomba ini mengambil tema Ciptakan Moment Bersama Alam Berdasarkan Kearifan Lokal.

“Untuk pelaksanaan lombanya tanggal 21 Oktober, kita ingin merangkul karya dari para komunitas di Kota Tasikmalaya, kita berdayakan cipta karya mereka bahwa Tasik juga punya wisata yang keren,” tutur Asep.

Ketua Asosiasi Guru Penulis (AGP) Kota Tasikmalaya Caswita SPdI MAPd mengatakan, follow up dari kegiatan ini adalah karya dan guru juga harus makin mencintai lingkungan dengan berbagai cara salah-satunya dengan literasi. Sebab, sambungnya, arena literasi bukan hanya dengan baca buku, perpustakaan, namun juga ada literasi alam.

“Jadi hasil foto yang dilombakan akan menjadi materi untuk menulis para guru dengan wisata alam. Guru bisa menulis apa yang ada di lingkungan sekitar kita, gambar akan bercerita,” tutur Caswita. (ais)

loading...