Tol Baticap Mulai Dibangun, Jasa Marga Konsultasi Publik di Tamansari Kota Tasik

743
0

KOTA TASIK – Rencana pemerintah pusat membangun tol Bandung-Tasikmalaya-Cilacap (Baticap) yang melintasi kawasan Kota Tasikmalaya, terus diwujudkan.

Rabu (12/2) siang, PT Jasa Marga melakukan pertemuan di Kantor Kecamatan Tamansari, sebagai tanda persiapan tanda pembangunan tol Baticap dimulai.

Pertemuan itu juga sebagai tanda progres dengan dilakukannya konsultasi publik antara PT Jasa Marga, konsultan Amdal dengan Pemerintah Kecamatan (Pemcam) Tamansari, Cibereum, Kawalu dan para tokoh masyarakatnya. Karena, wilayah Tamansari akan dilalui trase tol tersebut.

Pertemuan yang digelar di Aula Kecamatan Tamansari ini lebih membahas pada Analisis Dampak Lingkungan (amdal) serta menyerap berbagai masukan dan saran dari tokoh-tokoh masyarakat, pemeritah kelurahan dan pemerintah kecamatan.

Ketua Tim Penyusun Amdal Jalan Tol Gedebage – Tasikmaya – Cilacap, Lutfi Hadinata mengatakan, konsultasi publik ini sebagai tanda tahapan awal kajian penyusunan amdal jalan tol tersebut.

Pihaknya juga terus melakukan road show ke kabupaten/kota yang terlewati untuk trase tol ini.

Seperti Cilacap, Pangandaran, Ciamis, Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya. Lantas Garut, Kabupaten Bandung dan Kota Bandung.

“Ini baru tahap awal, kebetulan sangat panjang jalan tol ini sekitar 206 kilometer,” ujar Lutfi kepada wartawan usai konsultasi publik.

“Sebab melewati 8 kabupaten/kota di provinsi ini. Maka kita terus melakukan road show konsultasi publik bersama masyarakat yang terlewati trase jalan tol,” sambungnya.

Pihaknya dalam pertemuan itu menangkap informasi bahwa masyarakat masih kebingungan mengenai trase jalan tol, karena khawatir berdampak negatif dan juga membahas soal pesoalan tenaga kerja nantinya.

Hal itu, kata dia, memang biasa muncul ketika pembangunan tol dan pihaknya mencatat segala masukan-masukan ini. Idealnya pihaknya bisa mengkaji analisis amdal ini paling cepat 6 bulan kedepan.

Akan tetapi, beber dia, bisa lebih lama jika ada kajian khusus yang diminta. Seperti kajian melewati hutan lindung, lokasi pendidikan dan tempat ibadah.

Sementara prosesnya sendiri masih sangat panjang dan memerlukan pengkajian lebih dalam.

Meski demikian sudah ada titik lokasi trase jalan tol, namun pihaknya belum bisa mempublikasikan saat ini.

Mengingat sangat riskan dan khawatir dimanfaatkan pihak tidak bertanggungjawab, salah satunya broker dan spekulan tanah.

Termasuk belum melakukan pematokan lahan. “Ini adalah syarat dokumen kerangka acuan. Lantas nanti kita akan menilai di komisi penilai Amdal di Kementerian Lingkungan Hidup,” bebernya.

Sementara itu, Camat Cibereum, Rahman,S.Sos mengakui, pihaknya cukup bangga bila wilayahnya dilewati oleh trase jalan tol.

Sejumlah catatan yang ia sampaikan seperti diperlukanya team work yang menghimpun kekuatan bersama yang menghimpun tingkat kelurahan, tingkat kecamatan dan tingkat kota.

Sehingga, jelas dia, bisa menjawab kesimpangsiuran dan masalah teknis yang terjadi di masyarakat.

Ia pun mendesak agar segera ada kejelasan dari pemerintah pusat dalam penentuan titik lokasi yang akan dilewati.

“Kami sampai kini masih kebingungan untuk penentuan lokasi dan titik trase yang bakal dilewati. Apalagi di masyarakat, banyak yang datang ke kami menanyakan hal itu. Membuat resah di masyarkat. Konsultasi publik ini harus kembali dimatangkan lagi,” jelasnya.

(rezza rizaldi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.