TPA Sampah Ciangir Kota Tasik Penuh, Pemkot Khawatir Kewalahan

76
0

INDIHIANG – Usia kapasitas penampungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciangir, tinggal menghitung hari. Areal sekitar 11 hektare itu, ditaksir hanya mampu bertahan dua tahunan lagi dalam menampung sampah penduduk.

Ketua Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya, Bagas Suryono akan memperjuangkan perluasan lahan di wilayah Kecamatan Tamansari itu.

Baca juga : Pasien di RSUD Kota Tasik Disebar ke RS Swasta, Kenapa?

Sebab, meski kebutuhan biayanya ditaksir cukup tinggi tetapi menyangkut kepentingan yang luas.

“Kita bisa ketahui, visi misi daerah itu diarahkan ke kota industri dan perdagangan. Kalau usia TPA tidak kita persiapkan, khawatir kewalahan ke depannya,” kata Bagas, usai rapat kerja dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya di ruang rapat paripurna, Kamis (6/10).

Menurutnya, pimpinan dan anggota komisi III sepakat akan memperjuangkan anggaran untuk perluasan lahan tersebut. Sehingga, dalam waktu dekat Pemkot bisa mengeksekusi pembebasan lahan warga disekitaran TPA.

“Semoga bisa terealisasi, sebab ini juga tugas kami mencari celah-celah anggaran.

Secara rasional memang ini sudah urjen dan harus segera direalisasikan, sementara di tahun depan kelihatannya belum ada anggaran untuk itu,” kata politisi PAN tersebut.

Sementara itu, Kepala DLH Kota Tasikmalaya H Dudi Mulyadi menjelaskan secara umum pengelolaan sampah di Kota Resik terbilang masih dapat ditangani. Meski di beberapa titik diakui kerap terjadi keterlambatan pengangkutan, namun tidak lebih dari tiga hari terjadi penumpukan.

“Sebetulnya hasil evaluasi secara nasional Tahun 2020 ini, tingkat pelayanan dan penanganan kita sudah lampaui target yang dipatok 30 persen, kita tembus 70 persen melampaui target sampai Tahun 2025 di angka 60 persen. Pengurangan pun sudah mencapai 15 persenan dari volume sampah yang diangkut sampai TPA,” papar Dudi.

Sayangnya, ketika TPA Ciangir belum diperluas menjadi salah satu indikator penilaian yang mengganjal. Sebab, output pengelolaan sampah di TPA merupakan muara dari pelayanan dan pengurangan sampah.

“Sehari kita ke Ciangir itu angkut hampir 200 ton atau 160 kubik. Biasanya 200 kubik, namun bisa kita tekan pengurangannya sampai 160 saja,” katanya.

Ia menjelaskan volume sampah tersebut tidak hanya tersebar di rumah penduduk, tepi jalan, atau fasilitas penyimpanan yang disediakan pemerintah. Terdapat sekitar 15 titik timbulan sampah liar, yang juga tetap diangkut para personel.

“Sisi pelayanan tertangani, kita punya armada baru pengangkutan di Tahun 2019, dari APBD 1 sebanyak 10 lain, di mana daerah lain se-Jabar saja tidak bisa pengadaan sekaligus sebanyak itu. Ditambah kontainer motor juga 4 unit, jadi insya allah penanganan di hulu sebetulnya masih tertangani,” cerita Dudi.

Sayangnya, di TPA sendiri kondisi sudah nyaris overload, yang tidak akan menyentuh usia sampai dua tahun.

Alat berat yang ada di sana pun belum ideal, sebab hanya terdiri 6 unit saja. 2 usang, 2 tidak optimal dan 2 masih baru.

“Idealnya TPA seluas itu ada 10 alat berat. Itulah kondisi TPA yang memberatkan kita meraih predikat Adipura, apalagi Tahun 2019 kita sudah masuk nominasi ke 7 se-Jawa Barat. Karena TPA dinilai tidak optimal jadi begitu hasilnya,” tuturnya.

Baca juga : Lab Khusus Swab Test PCR di Kota Tasik Segera Terealisasi

Secara matematis, Dudi menjelaskan kebutuhan ideal lahan TPA itu seluas 30 hektare hasil kajian dengan Pemerintah Jerman. Itu pun, sejatinya ditaksir akan berakhir usianya pada 2017 lalu.

“Alhamdulillah sekarang masih tertampung, tetapi kalau seandainya luas TPA kita 30 hektare, bisa bertahan sampai 20 tahunan lagi usianya,” jelas dia. (igi)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.