TPS Liar Kepung Ibu Kota Kabupaten Tasikmalaya

86
BERSERAKAN. Tempat pembuangan sampah liar di pinggir Jalan Raya Timur Singaparna berserakan Jumat (7/12).

SINGAPARNA – Ibu kota Kabupaten Tasikmalaya dikepung tempat pembuangan sampah (TPS) liar di sepanjang Jalan Raya Timur Singaparna, Jumat (7/12). Pantauan Radar ada lebih dari lima TPS yang menghiasi jalan utama Kecamatan Singaparna ini. Bahkan salah satu TPS tepat di seberang kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan.

Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Singaparna Asep Abdul Ropik mengatakan sudah beberapa hari ini sampah yang berada di pinggir Jalan Raya Timur Singaparna tak kunjung diangkut. Akibatnya semakin hari semakin menumpuk dan membuat pemandangan menjadi tidak nyaman.

“Menumpuknya sampah atau munculnya TPS liar di ibu kota bukti kinerja dinas terkait atau pemerintah daerah perlu dipertanyakan. Pasalnya mengurusi persoalan sampah pun tidak bisa menyelesaikannya. Dan kemungkinan bukan hanya di jalan ini saja ada TPS liar, tapi di jalan lainnya,” ujarnya kepada Radar kemarin.

Kata dia, persoalan ini bisa dibilang klasik. Pasalnya tahun-tahun sebelumnya juga terjadi hal serupa. Ini menandakan kinerja Dinas Lingkungan Hidup tidak maksimal dalam penanganan sampah. “Seharusnya persoalan penumpukan sampah ini tak lagi terjadi di tempat yang sama kalau dinas terkaitnya bekerja dengan baik. Bahkan dulu yang bekerja membersihkannya secara gotong royong adalah masyarakat,” bebernya.

Lanjut dia, apabila dalam waktu dekat ini persoalan TPS liar di jalan ibu kota tak kunjung selesai, pihaknya akan melakukan gerakan dan audiensi dengan bupati serta DPRD.
Pengguna jalan asal Kampung Badakpaeh Desa Cipakat Kecamatan Singaparna Utep Abdullah (45) mengaku tidak nyaman melihat kondisi seperti ini. “Sudah bau dan pemandangan pun menjadi tidak enak. Jelas mengganggu sekali aktivitas warga,” keluhnya.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Tasikmalaya Drs Bambang Alamsyah MM mengatakan kinerjanya dalam penanganan sampah sudah maksimal dengan segala keterbatasannya.

“Tugas LH untuk membersihkan sampah, pasti dilakukan untuk kepentingan masyarakat. Cuma hal tersebut tidak semudah itu, karena kondisi sarana dan pra sarana yang terbatas,” ungkap Bambang.

Sejauh ini, kata Bambang, LH memiliki enam armada yang harus melayani 14 kecamatan. Tentunya kondisi ini menjadi kendala dalam kecepatan mengangkut sampah di masyarakat.

“Maka dari itu, kami mengharapkan kesadaran masyarakat. Masyarakat harus memilah mengolah dan membuang sampah secara mandiri,” jelasnya. (dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.