Tradisi Nyangku, Merawat Warisan Prabu Borosngora

510
0
NYANGKU. Pusaka-pusaka peninggalan Prabu Borosngora dibersihkan di Alun-Alun Panjalu, Senin (25/11). Tradisi nyangku ini dilaksanakan setiap setahun sekali di bulan Rabiulawal. foto-foto: IMAN S RAHMAN/RADAR TASIKMALAYA

CIAMIS – Ribuan warga dari berbagai daerah menyaksikan tradisi nyangku, pencucian benda-benda pusaka peninggalan Prabu Borosngora di Alun-Alun Kecamatan Panjalu, Senin (25/11). Adat nyangku dilaksanakan setiap satu tahun sekali di bulan Rabiulawal sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.

Sekitar pukul 05.30, para keturunan Raja Panjalu dari Yayasan Borosngora mengeluarkan benda-benda pusaka dari Bumi Alit atau disebutnya turun pusaka.

Setelah dikeluarkan lantas dipegang para keturunan Raja Panjalu. Termasuk pedang Zulfikar pemberian Saidina Ali dipegang terpisah oleh pihak Yayasan Borosngora H Rd Mamay Cakradinata. Setelah itu, pusaka-pusaka pun digiring dengan pengawalan ketat oleh 50 lebih jaga baya (prajurit kerajaan). Pembawaan pusaka itu diiringi rombongan ibu-ibu berselawat disertai alunan musik khas Kerajaan Panjalu yakni Gemyung yang ditabuh oleh 15 orang.

Setelahnya, pusaka-pusaka dibawa menggunakan perahu ke Situlengkong yang di tengahnya ada Pulai (Nusa Gede) tempat di mana makam Prabu Sanghiang Borosngora berada. Setelah dibawa ke makam, pusaka-pusaka tersebut dibawa kembali ke Alun-Alun Ciamis lalu dibuka oleh yang dituakan dari Yayasan Borosngora Panjalu Rd Agus Gusnawan Cakradinata. Setelahnya dibawa ke tempat pembersihan yang terbuat dari bambu terletak di tengah taman.

Pusaka itu dibersihkan menggunakan air dari tujuh sumber mata air dari beberapa tempat atau disebut “Cai Karomah Tirta Kahuripan”. Asalnya mulai dari mata Air Situ Lengkong, mata air Karantenan Gunung Sawal, mata air Kapunduhan (Makam Prabu Rahyang Kuning), Cipanjalu, Kubang Kelong, Pasanggrahan, Bongbang Kancana, Gunung Bitung dan sumber air Ciomas ditambah pakai jeruk nipis. Penyucian hanya dilakukan terhadap tiga jenis pusaka antara lain pedang pemberian Saidina Ali kepada Prabu Borosngora yang dinamai Zulfikar, Kujang Panjalu dan Keris Stok Komando. Adapun ratusan pusaka lainnya dicuci secara terpisah.

Dalam ritual penyucian itu ada sebagian warga yang berebut memungut air bekas cucian pusaka dan membawanya pakai botol meski sudah dilarang sejumlah panitia. Sementara itu, setelah dibersihkan pusaka diolesi minyak khusus digarang pakai asap, kemudian dibungkus kain putih dan disimpan kembali ke Bumi Alit.

Keluarga Yayasan Borosngora Djohan R Wiradinata menerangkan nyangku sudah dilakukan sejak zaman dulu secara turun temurun. Tujuannya untuk mengenang jasa Prabu Sanghyang Borosngora yang telah menyampaikan ajaran Islam. Untuk melestarikan budaya dan peninggalan zaman dulu, upacara adat nyangku akan terus dilestarikan sebagai sebuah kearifan lokal yang ada di Kecamatan Panjalu. Nyangku saat ini bukan hanya pesta warga Panjalu saja, tapi sudah skala nasional sebagai warisan budaya. Sekaligus sebagai sarana silaturahmi antarsesama warga Panjalu, karena banyak warga Panjalu yang merantau, jarang sekali pulang. “Tapi saat nyangku ini mereka sengaja menyempatkan untuk pulang, hingga sebagai sarana silaturahmi,” katanya.

Pihaknya merasa nyangku menjadikan masyarakat Panjalu lebih berkarakter dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai pribadi yang baik dan toleran. Jadi, bukan hanya untuk penghormatan saja, nyangku dijadikan momen untuk evaluasi diri agar ke depan lebih baik lagi. “Kita ke depan lebih baik dan bisa membersihkan diri,” tutur dia.

Wakil Bupati Ciamis Yana D Putra menyebutkan, beragam kesenian budaya di Kabupaten ciamis ini tentunya perlu dikembangkan dan dilestarikan. Upacara adat nyangku memiliki filosofi tinggi dan penguatan jati diri dan karakter kuat serta memelihara tradisi. Selain itu, meningkatkan rasa memiliki dan bangga sebagai bagian dari budaya nasional. Nyangku ini bukan hanya kebanggaan warga Ciamis, tapi sebagai warisan budaya nasional 2017.

“Atas nama pribadi saya memberi apresiasi setinggi tingginya, kegiatan ini jadi destinasi wisata hingga internasional. Tentunya kami akan concern terhadap penggalian potensi pariwisata di Ciamis, salah satunya nyangku bisa setiap setahun sekali,” tutur dia.

Irfan (35), warga Ciamis mengaku meminta izin dari tempat kerjanya di Jakarta hanya untuk menyaksikan tradisi nyangku di kampung halamannya di Panjalu. Selain menyaksikan penyucian pusaka, dia juga ikut memungut air bekas cuciannya. “Intinya cari berkah saja untuk keluarga, dugunakan untuk yang sakit moga syariatnya bisa sembuh,” kata dia. (isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.