Beranda Insiden Tragedi KM Arista: Mereka Usai Belanja Kebutuhan Lebaran

Tragedi KM Arista: Mereka Usai Belanja Kebutuhan Lebaran

133
BERBAGI

MAKASSAR – Kapal laut KM Arista dihajar ombak saat meninggalkan Pelabuhan Paotere Makassar tujuan Pulau Barrang Lompo, Kecamatan, Sangkarrang, Rabu, 13 Juni, sekitar pukul 12.30 Wita. Total ada 13 penumpang tewas dalam tragedi itu.

Rencana Yusuf untuk berlebaran bersama semua anggota keluarganya pupus. Dia kehilangan istri dan anaknya. Yusuf sendiri berhasil menyelamatkan diri.

Siapa presiden pilihan mu nanti di 2019 ?

Istrinya, Arini (30) dan anaknya Arsyam (1) tahun tewas. Sementara anak pertamanya, Yusri (5) kritis dan menjalani perawatan di rumah sakit.

Total ada 13 penumpang tewas. Semua penumpang merupakan warga pulau yang baru saja berbelanja kebutuhan untuk Lebaran di wilayah daratan Makassar.

Ishak kerabat Yusuf yang juga ikut dalam kapal, berkata KM Arista mulai kehilangan keseimbangan saat dihempas ombak besar. Semua penumpang panik, kapal mulai oleng, nakhoda pun sulit mengendalikan.

Dia kebetulan berada tak jauh dari nakhoda kapal. Sementara Arini dan kedua anaknya berada di bagian yang berbeda. “Saya lihat dari jauh, ibu Ariani ini sempat susui anak keduanya, sebelum terhempas karena ombak,” bebernua.

Ishak mampu bercerita banyak, matanya berkaca-kaca. Apalagi dua kerabatnya telah tiada. Saat tenggelam, memang tak ada kapal di sekitarnya. Cukup lama para penumpang menunggu hingga nelayan dan tim Basarnas tiba.

“Saya coba selamatkan anak pertamanya Yusuf (Arsyam, red). Tetapi tidak tertolong. Sementara Yusuf selamatkan anaknya yang satu, ke kapal nelayan,” bebernya.

Kata Ishak, Yusuf memilih langsung kembali ke Barrang Lompo mengantar jenazah sang istri. Sementara Ishak kembali ke daratan Makassar, dan langsung dibawa ke RS TNI Angkatan Laut guna mendapat perawatan.

“Termasuk dua anaknya Yusuf, ikut juga sama saya. Satunya sudah wafat, yang satu masih kritis,” jelasnya.

Kepala Basarnas Makassar, Amiruddin menjelaskan, dari 13 korban tersebut lima diantaranya langsung dievakuasi langsung ke Barrang Lompo. Sementara delapan korban tewas lainnya dievakuasi ke RS Jala Ammari. Sebelum mereka dibawa ke rumahnya masing-masing.

“Ada yang ke pulau ada pula yang dimakamkan di rumah keluarganya,” beber Amiruddin kepada FAJAR (Jawa Pos Group), Rabu, 13 Juni.

Sementara korban yang masih mendapat perawatan, kata dia, langsung dibawa ke rumah sakit yang sama. Ada pula yang dirawat di RS Akademis.

Sejauh ini pihaknya masih melakukan evakuasi atas korban hilang akibat tragedi tenggelamnya kapal tersebut. Dari informasi nahkoda, masih ada sekitar delapan orang hilang, akibat insiden ini.

Dia memprediksi, ada over kapasitas penumpang. Apalagi yang kapal ini bawa, jumlahnya sekitar 45 orang. Sementara, jika dilihat kapastas maksimalnya kurang dari itu.

Belum lagi, ada dua unit sepeda motor yang ikut diangkut. Sehingga menambah beban kapal. “Selain itu ada hempasan ombak. Sehingga kapal terbalik,” bebernya.

Pihaknya masih sementara masih mencari korban hilang. “Kita fokus pencarian korban di area lokasi tenggelamnya kapal dan di sekitar Barrang Lompo,” tegasnya.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani, juga mengakui ada kelebihan beban dari kapal yang tenggelam tersebut. Selain itu kondisi cuaca, mereka berlayar tepat saat ombak sedang tinggi.

Untuk sementara pihaknya juga masih mengamankan nakhoda di Polres Pelabuhan. “Sementara kita periksa di sana,” beber Dicky, ketika ditemui di RS Jala Ammari.

Kapal Patroli Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) milik Kantor Kesyahbandaran Utama Makassar terus mencari korban tenggelamnya kapal nelayan KM Arista di perairan Pulau Khayangan yang belum diketemukan.

Kepala Syahbandar Utama Makassar, Victor Viki Subroto mengatakan hingga pukul 18.00 WITA, 2 unit Kapal Patroli KPLP yang telah tergabung dengan tim SAR terus melakukan pencarian korban. Namun dikarenakan waktu maka pencarian korban tersebut dihentikan sementara dan akan dilanjutkan kembali hari ini.

“Kapal KM Arista jenis Jolloro dengan berat GT.6 bertolak dari Pelabuhan Paotere pada tujuan Pulau Barrang Lompo. Kemudian tenggelam di perairan Pulau Khayangan,” kata Victor.

Victor menegaskan bahwa kapal tersebut merupakan kapal yang biasanya memuat ikan. Sementara saat kejadian mengangkut penumpang.

“KM Arista itu bukan kapal penumpang maka tidak ada manifest penumpang Sehingga kapal tersebut berangkat tanpa Surat Persetujuan Berlayar (SPB). Mereka berangkat tanpa sepengetahuan kami selaku regulator di Pelabuhan,” ujar Victor. (ful/ans/eds/jpc)

loading...