Trauma, Warga Eksodus

3

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

PALU – Jalan-jalan utama Kota Palu mulai tak seramai hari-hari sebelumnya pasca bencana, kemarin. Rentetan gempa susulan yang terus terjadi, memaksa warga melakukan eksodus.

Banyak kendaraan menuju Donggala, Sulteng dan ke Topoyo, Sulbar. Rata-rata berkode DN, sarat penumpang. “Sudah tidak aman tinggal di Palu,” kata Nina, warga asal Parepare yang telah lama menetap di Palu.

Dia memilih pulang ke Sulsel bersama keluarga. Mobil dari Sulsel menjemputnya. “Di perjalanan menuju Palu, sopir bertemu banyak kendaraan meninggalkan Palu,” imbuhnya.

Kadispen Lantamal VI, Kapten Laut Suparman Sulo mengatakan ribuan pengungsi korban gempa dan tsunami berada di Pelabuhan Pantoloan, Selasa kemarin. Mereka meninggalkan Palu menuju Makassar menggunakan KRI Makassar-590.Warga yang melakukan eksodus dari berbagai daerah di Sulteng yang terdampak bencana. Ada yang memang berasal dari Sulsel, adapula warga asli yang tinggal di Palu.

Dihantui Gempa Hingga Selasa, gempa skala kecil masih terus terjadi beberapa kali. Bahkan, pada dini hari kemarin, gempa selalu membuat pengungsi panik. Setiap kali getaran datang, mereka berlarian ke tanah lapang. Termasuk warga kompleks-kompleks perumahan yang memilih tidur di teras. Mereka ramai-ramai berlarian sambil berteriak histeris. Sebagian besar masih trauma. Sekitar pukul 07.46 Wita, terjadi gempa berkekuatan 5,3 Skala Ritcher. Getarannya begitu terasa di semua wilayah Palu. Informasi BMKG, pusat gempa 16 km tenggara Donggala.

Aroma Menyengat Hari keempat pasca gempa dan tsunami di Sulteng, masih banyak korban tewas belum terevakuasi. Tim evakuasi memang baru maksimal melakukan pencarian mulai Selasa, 2 Oktober. Akibatnya, korban tewas yang terjebak di dalam reruntuhan bangunan maupun tertimpa material di pinggir jalan, mengeluarkan aroma yang kian menyengat.

Kondisi ini, misalnya, bisa dijumpai di Jl Martadinata, Jl Yos Sudarso, Jl Pangeran Hidayat, dan Jl Cumi-cumi. Kebanyakan di kawasan Palu Barat. Di wilayah Palu Barat paling banyak korban yang belum terevakuasi. Daerah ini merupakan kawasan pesisir. Warga terhambat mengangkat sendiri karena kondisi tubuh korban yang telah melepuh.

Mikat, salah seorang warga Kue Bongo, Boyoge, Palu, menuturkan, belum ada alat berat yang dikerahkan ke daerahnya. Sementara, masih banyak korban terjebak dalam material gempa dan tsunami.Demikian halnya di Jl Cut Meutia yang berbatasan langsung dengan Pantai Talise. “Di Mal Matahari, mayat masih ditemukan,” imbuhnya.

Di kawasan Anjungan Nusantara Pantai Talise, satu unit alat berat mulai mengeruk material tsunami. Kawasan ini yang paling parah terdampak tsunami. Bangunan-bangunan hilang disapu tsunami. Rongsokan kendaraan roda dua maupun roda empat berserak di mana-mana. Anjungan pun telah hilang, padahal dibuat dengan beton bertulang. Material tenda dan panggung Fetival Palu Nomoni III pun berserakan.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei mengakui masih banyak mayat terjebak dalam reruntuhan gempa dan material tsunami. Proses pencarian, terutama dengan alat berat, baru mulai bisa maksimal per Selasa, 2 Oktober.

Satgas Bencana Sulteng fokus melakukan pencarian, penyelamatan, dan evakuasi korban yang masih di reruntuhan. Bukan hanya di Palu, di Sigi dan Donggala pun banyak korban terjebak reruntuhan.

Sejauh ini, sudah 16 alat berat dioperasikan untuk menggali reruntuhan dan mengevakuasi korban. Namun, operator terkendala material dan kedalaman timbunan. Di Petobo, Kecamatan Palu Selatan, pergeseran daratan hingga 400 meter. Korban tertimbun hingga kedalaman mencapai 10 meter. “Tumpukan masif, sehingga perlu waktu untuk menyelesaikan pekerjaan,” katanya. (zuk/rif)

loading...