Trump dan Amerika yang Terkucil

245
0

ARENA internasional sepanjang 2017 diramaikan oleh aksi aktor baru yang berpotensi mengubah peta politik dunia. Aktor itu, Donald Trump, yang berulang-ulang mengeluarkan kebijakan kontroversial. Sejak dilantik sebagai presiden pada 20 Januari 2017, Trump menarik Amerika Serikat (AS) dari sejumlah kesepakatan. Diantaranya, Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) dan kesepakatan iklim Paris. AS juga memutuskan keluar dari UNESCO dan mengancam mundur dari kesepakatan nuklir Iran dengan Kelompok P5+1 (AS, Tiongkok, Inggris, Prancis, Rusia dan Jerman).
Trump memandang AS dirugikan oleh aneka perjanjian internasional sehingga dia merasa perlu meninjau kembali semua perjanjian itu. Celakanya, kebijakan Trump justru membuat AS terisolasi dalam hubungan antarnegara dan menjadi terkucil setelah Majelis Umum PBB menolak pengakuan Washington atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

Terkucil
Tanda-tanda terkucilnya AS tampak sejak awal kekuasaan Trump di Gedung Putih. Ketika AS meninggalkan TPP pada 23 Januari 2017, tidak ada satu pun negara yang mengikuti langkah itu. Dengan skema ”12 minus 1,” sebelas negara lain anggota TPP tetap berkomitmen membangun zona perdagangan bebas di kawasan Pasifik tanpa AS. Mereka kini tidak memercayai AS sebagai mitra dagang dan menoleh ke Tiongkok untuk diajak bergabung dalam TPP.
Selanjutnya, AS mengundurkan diri dari kesepakatan iklim Paris pada 1 Juni 2017. Alasannya, kewajiban menjaga kenaikan temperatur global di bawah 2 derajat Celsius telah merugikan dunia usaha dan pekerja AS. Menurut Trump, kesepakatan itu berdampak pada hilangnya 3 triliun dolar AS produk domestik bruto dan 6,5 juta lapangan kerja AS. Meskipun Trump mendesak untuk merundingkan kesepakatan baru yang lebih adil, para pemimpin dunia tidak menggubrisnya.
Pada 12 Okto­ber 2017, AS me­mu­tusk­an keluar dari ke­anggota­an UNESCO. AS menuding UNESCO anti-Israel karena telah menerima Palestina sebagai anggota penuh sejak 2011. Langkah AS hanya diikuti Israel, tapi disesalkan oleh negara-negara lain. Se hari kemudian, Trump meminta Kongres AS menyetujui sanksi terhadap Iran karena Teheran dianggap melanggar kesepakatan nuklir dengan P5+1. Tuduhan itu tidak berdasar karena International Atomic Energy Agency (IAEA) melaporkan Iran telah menghentikan program pengayaan uranium. Karena itu, negara-negara lain anggota P5+1 mengabaikan sikap AS dan memilih tetap berkomitmen bersama Iran.
Akhir tahun ini menjadi puncak pengucilan dunia terhadap AS setelah keputusan Trump mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel (6/12) ditolak oleh banyak negara. Demonstrasi memprotes keputusan Trump berhamburan di Jakarta, Kuala Lumpur, Washington, Paris, Teheran, Amman dan kota-kota lain. Di Jakarta (7/12), Presiden Jokowi mengecam keras klaim sepihak AS dan menegaskan rakyat Indonesia konsisten memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Di Istanbul (13/12), Organisasi Konferensi Islam (OKI) mendeklarasikan Jerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina.
Di New York (21/12), Majelis U mum PBB menye­tujui resolusi yang menolak pengakuan AS. Melalui pemungutan suara, resolusi itu didukung 128 negara dan ditentang sembilan negara. Sementara itu, 35 negara lainnya abstain. Walaupun tidak mengikat secara legal, resolusi tersebut memiliki kekuatan politik sebagai wujud dukungan perjuangan Palestina dan simbol kekalahan diplomasi AS.

Perubahan Peta
Kekalahan telak Washington dalam panggung diplomasi merupakan pesan tegas bahwa negara-negara di dunia tidak selalu tunduk pada kemauan AS. Kendati Trump mengancam akan menghentikan bantuan AS kepada negara-negara pendukung resolusi, mereka tidak gentar. Para pendukung resolusi berani meninggalkan AS dan bahkan mengucilkannya dalam pergaulan internasional. Seiring dengan terkucilnya AS, peta politik dunia bakal berubah.
Ke depan, tidak ada lagi negara paling hegemonik yang menguasai segala sektor. Pengaruh AS menurun sejalan dengan menguatnya gejala isolasionis dalam politik luar negeri Trump. Dominasi AS digeser oleh kekuatan-kekuatan baru yang bermunculan. Setelah hengkangnya AS dari TPP, Tiongkok berpotensi melenggang sebagai kekuatan paling berpengaruh di Asia-Pasifik. Sebagai raksasa ekonomi yang terus menanjak, Tiongkok lebih dilirik oleh banyak negara daripada AS.
Di Eropa, AS kian sulit dipercaya oleh kekuatan-kekuatan tradisional seperti Inggris, Prancis dan Jerman yang mendukung resolusi. Perkembangan itu akan dimanfaatkan Rusia untuk menancapkan taringnya di Benua Biru. Rusia juga bakal mengambil kendali negosiasi nuklir Iran dalam Kelompok P5+1 mengingat negara itu memiliki hubungan baik dengan Iran.
Dari sini, Rusia bakal semakin terlibat dalam isu-isu strategis di Timur Tengah dan menggeser dominasi AS. Dengan demikian, AS yang isolasionis dan terkucil mendorong aktor-aktor internasional untuk bergerak kian dinamis. (*)

*) Pengajar di Departemen Hubungan Internasional Universitas Airlangga

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.