Italia 6-0 Liechtenstein

Fabio Quagliarella Pantas Disebut Tua-tua Keladi

50
0
SELEBRASI. Fabio Quagliarella selebrasi usai mencetak gol saat melawan Liechtenstein kemarin.
Loading...

PARMA – Fabio Quagliarella pantas disebut tua-tua keladi. Meski berusia 36 tahun, ia masih menunjukkan kehebatannya menjadi predator. Dua golnya ke gawang Liechtenstein bukti paling anyar.

Brace, alias dua gol dilesakkan Quagliarella pada matchday kedua Grup J Kualifikasi Piala Eropa 2020 untuk membantu negaranya menang 6-0 atas Liechtenstein, dini hari kemarin. Kedua gol itu dilesakkan bomber gaek Sampdoria tersebut lewat titik putih di menit ke-35 dan 45’.

Italia sebelumnya mengawali pesta besar mereka di Stadio Tardini, Parma, lewat gol Stefano Sensi dan Marco Verratti di menit ke-17 serta 32. Setelah dua penalti Quagliarella, Gli Azzurri memastikan kemenangan setengah lusin gol mereka lewat gol Moise Kean di menit ke-69 dan Leonardo Pavoletti tujuh menit berselang.

Dengan brace yang ia lesakkan ke gawang Liechtenstein, Quagliarella menasbihkan dirinya sebagai pencetak gol tertua untuk Nazionale, julukan Italia. Saat mengoyak gawang Liechtenstein kemarin, ia berusia 36 tahun dan 54 hari.

“Ini malam yang indah dengan dua gol. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para penggemar, karena standing ovation adalah memori yang akan selalu saya bawa. Saya sudah lama tidak bermain di Nazionale, jadi kembali ke sini dan membantu adalah perasaan yang hebat,” kata Quagliarella kepada Rai Sport.

loading...

Quagliarella yang juga memberi assist pada Kean sebenarnya bukan algojo utama Italia. Biasanya, tugas mengeksekusi tendangan 12 pas menjadi jatah Jorginho dan Leonardo Bonucci. Namun, kedua pemain itu memilih menyerahkan kesempatan itu kepada Quagliarella yang kembali ke timnas setelah delapan tahun.

Top skor sementara Serie A dengan 21 gol itu mengaku begitu terharu dengan cara rekan setimnya memperlakukan dia di laga ini. Menurutnya, setelah penalti pertama, ia yakin Bonucci atau Jorginho akan mengeksekusi yang kedua.

“Tetapi mereka mengatakan kepada saya bahwa itu adalah malam saya. Saya berusia 36 tahun, tetapi saya tidak merasakannya. Saya senang, dalam kondisi fisik yang baik, saya berlatih dengan baik dan Sampdoria tetap menjaga saya,” ujarnya.

Bagi Italia, ini adalah kemenangan terbesar mereka dalam 57 tahun terakhir. Skor serupa sebelumnya mereka torehkan saat menghadapi Turki pada bulan Desember 1962.

Mancini menyebut, kunci kemenangan mereka adalah pendekatan bagus sejak awal laga. “Penting untuk menjaga tingkat konsentrasi yang tepat dan mencetak banyak gol,” kata sang pelatih kepada Rai Sport.

Karena Bosnia dan Herzegovina bermain imbang kontra Yunani, Italia kini nyaman di puncak Grup J dengan poin enam. Namun, Mancini memastikan tantangan berikutnya akan lebih sulit sebab mereka harus melakoni laga tandang.

Kendati kalah, Pelatih Liechtenstein, Helgi Kolvidsson menegaskan mereka sudah melakukan yang terbaik. “Ini mungkin tampak bodoh. Saya pikir kami melakukan beberapa hal baik malam ini,” kata Kolvidsson dalam konferensi pers. (amr/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.