Beranda Hoak atau Bukan Tuberkulosis dan Stigma

Tuberkulosis dan Stigma

52
BERBAGI

TUBERKULOSIS (TB) disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis (MTB). Saat ini masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Keberhasilan temuan kasus dini TB yang meningkat ternyata tidak diikuti penurunan kasus baru TB (Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes, 2011).

Kesenjangan yang terjadi bisa dipengaruhi banyak faktor. Salah satu di antaranya, pandangan negatif terhadap pasien TB. Stigma tersebut memicu rasa malu dan tidak terbuka pada pasien dan keluarga. Sikap abai dan tidak peduli menjadikan TB sulit diberantas dan dikendalikan.

Salah Persepsi
Menurut Goffman, stigma di­des­kripsikan sebagai “atribut yang sangat mendiskreditkan” sehingga merusak identitas sosial dan kepercayaan diri. Individu atau kelompok tersebut dikategorikan discredited karena hal yang dipermasalahkan terlihat jelas. Stigma juga dapat didiskreditkan (discreditable) terhadap mereka yang kekurangannya secara kasatmata tidak tampak (Craig dkk., 2017) seperti pasien dan mantan pasien TB.

Stigma dan mitos kurang tepat muncul akibat pemahaman yang salah. Anggapan TB sebagai penyakit turunan dan melekat dengan kemiskinan menumbuhkan perilaku dan sikap yang kontraproduktif terhadap usaha pemberantasannya.

TB adalah pe­nyakit infeksi aki­bat terhirupnya ku­man MTB dan bisa diderita oleh si­apa saja. TB tidak ter­masuk penyakit yang diturunkan (hereditary disease), meskipun kerentanan seseorang menjadi sakit akibat kuman MTB bisa dipengaruhi faktor genetik.

Kuman MTB mu­dah tumbuh dan berkembang dalam lingkungan lembap dan minim cahaya matahari. Etik batuk yang salah dan buang dahak sembarangan mempermudah penularan penyakit sehingga tak jarang dalam satu rumah bisa beberapa anggota keluarga tertular TB. Pola hidup serta kondisi lingkungan yang tidak sehat mendukung tersebarnya kuman penyakit.

Ketakutan akan dicibir dan diisolasi masyarakat menjadikan seseorang yang mengalami gejala awal TB enggan mencari pengobatan. Menunda pemeriksaan awal mengakibatkan diagnosis pasti tertunda. Pasien yang sudah dinyatakan TB (definite case of TB) dan tidak diobati akan menjadi sumber penularan (infectious).

Hapus Stigma Bebas TB
Data WHO (2017) menegaskan, TB sebagai penyebab kematian nomor sembilan dengan jumlah kematian sekitar 1,3 juta jiwa pada 2016. Hari TB sedunia 2017 yang bertema Unite to End TB: Leave No One Behind memfokuskan upaya menghilangkan stigma, diskriminasi, marginalisasi, dan mengatasi hambatan dalam akses perawatan.

Langkah serupa dilakukan Koninklijke Nederlandse Centrale Vereniging (KNCV) dengan membuat perangkat “stigma toolbox”. Panduan berupa kertas bergambar dan penjelasannya akan memetakan berbagai kesalahpahaman tentang TB. Berikutnya, akan dibuat solusi pendekatan dan intervensi berbasis komunitas yang melibatkan kelompok masyarakat dan negara sebagai pemegang kebijakan (KNCV, 2017).

Pasien yang menghindari atau tidak patuh pengobatan standar TB berisiko besar menghadapi masalah yang lebih besar, kasus TB kebal obat. Perlu ditegaskan bahwa terapi medikamentosa membutuhkan waktu lama dengan kombinasi obat yang bervariasi.

Dukungan dan pengawasan baik keluarga dan tenaga kesehatan menjadi faktor penting dalam mencegah kegagalan terapi. Diskrimasi pasien TB di tempat kerja tidak perlu terjadi. Penyakit TB bukan layaknya bayang-bayang hitam yang selalu mengikuti pasien dan menimbulkan kekhawatiran kepada orang sekitar. Bukti medis menunjukkan, setelah pengobatan dan pengawasan yang tepat selama dua bulan, pasien tidak lagi infeksius (Harries, 2004) meskipun pengobatannya harus diselesaikan dalam waktu enam bulan.

Saat ini muncul kecenderungan infeksi TB dan HIV/AIDS bersamaan atau saling mengikuti pada satu pasien. Kita bisa meniru langkah aktivis HIV/AIDS dengan mengadakan pertemuan rutin atau membentuk paguyuban pasien TB. Berbagi pengalaman dan perjuangan selama pengobatan bisa menjadi salah satu cara untuk menghilangkan “stempel aib” TB di masyarakat.

Edukasi tentang TB melalui media televisi dengan menampilkan figur masyarakat seperti artis atau komedian yang pernah sakit menjadi bukti bahwa mereka bisa sembuh dan bisa berkarya. Survival TB lainnya, Nelson Mandela, pun menggambarkan perjuangannya terbebas dari TB dan melawan politik apartheid selama di penjara. Kegigihan mereka patut dijadikan inspirasi bersama untuk menghilangkan stigma TB. (*)

*) Staf pengajar Fakultas Kedokteran Unair, mahasiswa doktoral di Dept Respiratory Medicine-Kobe University, Jepang

Facebook Comments

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.