Tujuh Kali Pindah Tempat Pengungsian

7

ROMBONGAN warga Garut yang menjadi korban gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah tiba di Mapolres Garut sekitar pukul 21.20. Tangis haru dari keluarga pecah saat puluhan warga Garut menginjakan kaki di Mapolres Garut.

Sambil menggendong anak ketiganya, Wita Susilawati (26) tak henti meneteskan air mata saat menceritakan pengalaman mengerikannya. Tangisnya semakin kencang saat disinggung peristiwa gempa di Palu.

“Saya lagi di rumah sama empat anak saya. Suami waktu kejadian lagi ke ATM. Pas orang-orang lari, saya masih ada di kamar,” ucap Wita yang sudah tiga tahun bermukim di Palu.

Saat menyelamatkan diri dari reruntuhan tembok rumah, anak ketiganya terbentur tembok. Wita menunjukan luka dibagian hidung dan tubuh anaknya.

“Anak saya ini kena tembok. Saya lari-lari bergandengan sama empat anak saya. Ada anak saya yang satu lagi pakai sepatu roda, jadi susah buat lari,” katanya Rabu malam (3/10).

Pascagempa, Wita dan keempat anaknya kembali ke rumah. Ia berhasil bertemu dengan suaminya, Zaenudin, di depan rumah. Meski kondisi rumah sudah rata dengan tanah.

Setelah rumah tak bisa ditempati, Wita dan keluarganya memilih pergi ke pengungsian. Ia harus tujuh kali berpindah tempat pengungsian. Dari kebun satu, ke kebun lainnya.

“Suami putuskan untuk pergi ke bandara. Kebetulan mobil masih ada. Saya bawa cuma bawa kompor saja ke bandara. Baju juga bawa yang dipakai saja. Mobil juga ditinggalin di sana,” ujarnya.

Di bandara, Wita bertahan selama tiga hari. Tidak ada bantuan makanan yang diterimanya. Uang yang dibawanya semua habis dibelikan makanan berupa telur, mi instan, beras dan air.

“Air yang paling banyak saya beli. Makan juga seadanya. Sisanya saya kelaparan karena habis stok makanan,” katanya.

Tiga hari di bandara, Wita akhirnya bisa mendapat pesawat menuju Malang. Namun saat naik pesawat ia terpisah bersama suaminya.

“Naik pesawat juga berdesakan. Ribuan orang yang berebut naik pesawat. Saya takut anak-anak saya tertinggal. Apalagi suami tidak bisa ikut,” ujar Wita.

Suami Wita kini masih berada di Makassar. Ia berharap suaminya bisa segera tiba di Garut. Wita pun enggan untuk kembali ke Palu dan mengaku trauma dengan gempa yang terjadi.

“Di sini (Garut) masih ada orang tua. Mau menenangkan diri dulu,” ucapnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.