UKM Makanan Sotong di Kota Tasik, Bertahan di Masa Pandemi

56
0

KOTA TASIK – Pandemi Covid-19 tentunya sangat berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan, terutama aspek perekonomian.

Tidak sedikit masyarakat yang kehilangan pekerjaannya lantaran dirumahkan atau bahkan diberhentikan oleh perusahaannya.

Para pelaku Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) harus berjibaku untuk bisa bertahan dan kembali bangkit dari keterpurukan.

UMKM dituntut untuk lebih kreatif dan berinovasi supaya mampu bertahan di tengah pandemi.

Salah seorang pelaku UMKM di Kota Tasik yang memproduksi makanan atau cemilan sotong, Siti Fatimah (36) mengatakan, sejak pandemi melanda Indonesia omzet penjualan sotongnya mengalami penurunan hingga 50%.

Sebelum ada pandemi dirinya bisa menghabiskan bahan baku berupa tepung tapioka antara 5 sampai 6 kuintal per hari.

Namun, kini dirinya hanya mampu memproduksi sekitar 2 sampai 3 kuintal perhari.

“Sekarang pemasaran hanya ke daerah Jawa Tengah karena ke daerah Jakarta dan Bandung terkendala PSBB,” ujar Siti kepada wartaaan, Rabu (16/12) siang.

Ia menerangkan, cemilan sotong yang diberi nama Sotong Ceu Ita ini terbuat dari adonan tepung tapioka dan terigu dicampur dengan bumbu supaya rasanya lebih gurih.

Sotong miliknya memiliki ciri khas rasa yang gurih, kenyal di dalam dan garing renyah di luar.

“Alhamdulillah di masa pandemi ini masih produksi meski tidak sebanyak seperti sebelum pandemi,” terangnya.

Sementara itu, suami Siti bernama Hendriyana (41) mengatakan, dia bersama sang istri terus memutar otak agar usaha yang dirintisnya sejak tahun 2018 ini tetap bisa bertahan di masa pandemi.

“Saya harus memutar otak bagaimana usaha ini bisa terus berjalan dan para pegawai tetap bisa bekerja,” tuturnya.

Ia menambahkan, saat ini sotong yang diproduksinya masih bisa bertahan lantaran cemilan berbentuk silinder memanjang dengan ujung meruncing masih banyak diminati, baik oleh anak-anak maupun orang dewasa.

“Alhamdulillah sampai saat ini masih bisa memproduksi sotong dan tidak sampai mengurangi karyawan,” tambahnya.

Ia menandaskan, ada sekitar 30 karyawan yang bekerja di dua tempat berbeda, yakni di Jalan Peta, Kampung Gunungroay, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasik dan di Dusun Cijulang, Desa Cijulang, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis.

“Saya bersama istri bertekad untuk tetap produksi sotong dengan terus memperluar pemasaran ke daerah-daerah di Jawa Tengah. Alhamdulillah, para karyawan tidak ada yang sampai di rumahkan di masa pandemi ini,” tandasnya.

Dengan masih bisa bertahan dan mampu terus produksi menjadi suatu kebanggaan bagi pasangan suami istri Hendriayana dan Siti Fatimah ini.

Terlebih disaat perusahaan atau UMKM yang lain ada yang mengurangi jumlah pegawainya, tapi usaha yang dikelolanya tetap bisa bertahan dan para karyawan tetap menghasilkan bagi keluarganya.

“Di masa pandemi ini kami perketat penerapan protokol kesehatan. Para pegawai harus memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan,” pungkasnya.

(rezza rizaldi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.