Ansor: Jangan Hanya Dipolitisasi dan Dijadikan Bumper

Ulama Jadi Poin Tambah

3

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

SINGAPARNA – Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Tasikmalaya Asep Muslim menilai untuk pendamping Ade Sugianto sebagai wakil bupati di sisa periode ini tidak harus selalu dari kalangan ulama. Pasalnya, paling penting itu figur yang mempunyai kapasitas dan kredibilitas dalam membangun suatu daerah.

“Saya berharap dalam menentukan calon wakil bupati yang dilihat paling awal bukan kalangan ulamanya, melainkan kapasitas dan kemampuannya dalam membangun daerah serta mampu bekerja dengan baik. Ada pun itu ulama jadi bonus atau poin tambah saja,” ujarnya saat dihubungi Radar, Kamis (13/9) malam.

Dia juga tidak sependapat apabila ulama dipolitisasi untuk memuluskan satu tujuan. Kemudian akan menolak apabila ulama nantinya hanya dijadikan bumper atas kepentingan tertentu saja.

Kriteria yang layak menjadi wakil pemimpin daerah, kata dia, harus mampu memiliki komitmen dalam membangun Kabupaten Tasikmalaya menjadi lebih baik. Sehingga bisa sinergis antara bupati dan wakilnya dalam menjalankan roda pemerintahan. “Tapi sebelum loncat, untuk menentukan wakil bupati secara normatif merupakan kewenangan dari partai pengusung,” ungkapnya.

Ketua Forum Tasik Utara Bangkit (FTUB) Ato Rinanto sependapat kalau pengisi wakil bupati ini tidak harus dari kalangan ulama. Karena yang paling penting adalah figur yang mampu berpikir, bekerja dalam membangun Kabupaten Tasikmalaya lebih cepat. “Kalau siapa orangnya, silahkan partai pengusung yang menentukan atau melakukan penjaringan. Karena sesuai undang-undang, untuk menentukan wakil bupati yang kosong ini merupakan kewenangan partai koalisi,” katanya.

Terpisah, Ketua Karang Taruna Kecamatan Sukaratu Fahmi Muzaki menambahkan untuk menentukan wakil bupati ini harus lebih terbuka, karena semua orang mempunyai hak yang sama. “Saya juga sependapat kalau soal ini (wakil bupati, Red) tidak harus selalu dari kalangan ulama. Yang penting itu direstui ulama dan diterima semua lapisan masyarakat,” terangnya.

Kemudian, kata dia, figur yang dipilih juga harus mampu mengakomodir seluruh aspirasi yang berkaitan dengan keagamaan. “Jadi patokannya bukan kalangan, tapi figur yang mampu diterima semua unsur serta mampu bekerja untuk Kabupaten Tasikmalaya lebih baik,” tandasnya. (yfi)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.