Ulama Kecam Mesum di Musala

1174
KH Aminudin Bustomi

CIHIDEUNG – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tasikmalaya prihatin dengan adanya penyalahgunaan musala terbuka di kawasan Taman Dadaha menjadi tempat mesum. Kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah kota (pemkot).

Sekretaris MUI Kota Tasikmalaya KH Aminudin Bustomi menyayangkan musala yang seharusnya menjadi tempat ibadah malah dijadikan tempat berbuat asusila. “Miris lah, apalagi kita Kota Santri dan punya Perda Tata Nilai,” ujar dia kepada Radar, Rabu (10/7).

Menurut dia, persoalan itu harus menjadi perhatian instansi terkait dengan memperbaiki musala tersebut supaya masyarakat bisa memanfaatkannya sebagaimana fungsinya. “Jangan sampai penyalahgunaan itu dibiarkan terus,” katanya.

Apabila keberadaan musala itu sudah tidak lagi dibutuhkan, kata dia, lebih baik bangunannya dibongkar atau dialih fungsikan. Dengan begitu, tempat ibadah tersebut tidak disalahgunakan lagi. “Kalau dinilai perlu ya diperbaiki, kalau tidak ya bongkar saja,” ujar dia menyarankan.

Kota Tasikmalaya saat ini sudah memiliki Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2014 tentang Tata Nilai Kehidupan Masyarakat yang Religius di Kota Tasikmalaya. Perda tersebut bisa menjadi acuan aparat dalam menegakkan aturan. Pengawasan kawasan yang rawan dijadikan tempat asusila pun harus lebih intensif. “Perda Tata Nilai harus benar-benar dilaksanakan,” ujarnya.

Wawancara terpisah, Ketua Front Pembela Islam (FPI) Kota Tasikmalaya Ustaz Yanyan Albayani menyebutkan, penyalahgunaan musala tersebut merupakan hal yang memalukan. “Ini adalah indikator pembangunan yang tidak matang dan pengelolaan yang tidak serius,” ucapnya.

Seharusnya, kata dia, pemerintah menempatkan petugas yang mengelola dan mengawasi musala itu. Dengan demikian, para oknum yang punya niat menyalahgunakannya tidak berani melakukan perbuatan tidak baik, terlebih asusila. “Seharusnya ada petugas khusus yang mengelola musala tersebut,” tutur dia.

Temuan itu juga harus menjadi evaluasi di mana Perda Tata Nilai belum tegak seutuhnya. Terlebih, laskar FPI juga kerap mendapati lokasi tersebut dijadikan tempat menenggak minuman keras. “Sangat ironis dan kontradiktif dengan julukan Kota Santri yang disandang selama ini,” ujar dia. (rga)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.