Ungkapan Sontoloyo Jokowi Jadi Polemik

10

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

JAKARTA – Ungkapan kejengkelan seorang Kepala negara sepertinya menjadi menarik ketika bahasa yang keluar adalah bahasa yang biasa dipakai oleh rakyat biasa.

Hal ini juga diucapkan oleh Presiden Joko Widodo ketika menyinggung politikus sontoloyo saat membagikan 5 ribu sertifikat tanah untuk warga di Lapangan Bola Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (23/10) lalu.

“Neneng Hassanah Bupati Bekasi suap Meikarta, terbaru Bupati Cirebon kena OTT KPK. Ini kan sama dengan politikus sontoloyo. Mereka ini jurkamnya Jokowi, sama saja Jokowi tengah menunjuk hidung sendiri jika begitu,” kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra yang juga Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Ferry Juliantono melalui keterangannya, Kamis (25/10/2018).

Selain itu menrut Ferry, divestasi saham PT Freeport Indonesia juga sampai saat ini juga belum ada bukti nyata.

Padahal pemerintah sebelumnya mengklaim jika divestasi saham Freeport sebesar 51 persen telah berhasil. Selain tidak jelas, kini ditemukan adanya potensi kerugian lingkungan senilai Rp 185 triliun, yang disinyalir telah ditemukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

“Ini juga sontoloyo 51 persen saham Freeport, artinya tidak benar,” ujarnya.

Bahkan soal penanganan bencana di Lombok dan Sulawesi Tengah, hingga ssaat ini belum bisa maksimal. Pemerintah justru mementingkan acara pertemuan tahunan IMF-Wold Bank di Bali beberapa waktu lalu dengan menggelontorkan dana ratusan miliar rupiah.

”Ini juga masuk sontoloyo penanganan bencana karena tidak beres penanganannya,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional pasangan calon nomor urut 01, Arsul Sani mengatakan bahwa penyataan Jokowi soal politisi sontoloyo bukanlah sebuah ungkapan rasa kekesalan terhadap politisi yang tidak sesuai data dan fakta. Menurutnya itu hanya penyampaian dirinya yang selalu dituduh dengan hal yang tidak-tidak.

“Dia (Jokowi) bukan geram, dia kan orangnya sangat sabar. Ketika isu PKI diangkat, berapa tahun dia harus dizolimi dibilang PKI. Berapa tahun dia dizolimin dibilang anti Islam. Berapa tahun dia dizolimi dibilang pendukung asing. Beliau sebagai manusia ingin punya kesemepatan menyampaikannya,” kata Arsul kepada wartawan.

Dia menyanggah ketika pernyataan sontoloyo itu adalah keceplosan dari seorang presiden. Menurutnya posisi Jokowi jelas bahwa menginginkan jika rakyat jangan selalu dibohongi dengan hal-hal yang tidak sesuai data dan fakta.

“Beliau memastikan kepada jubir kami untuk menyesuaikan dengan garis-garis apa yang dia inginkan,” tandasnya.

Ketua DPR: Itu Manusiawi

Terpisah, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengatakan, pernyataan Jokowi tentang politikus sontoloyo itu tak lepas dari kejengkelannya terhadap sikap beberapa politikus akhir-akhir ini. Dan menurut Ketua DPR, hal yang dilakukan oleh Jokowi dengan mengatakan politkus Sontoloyo adalah hal yang biasa alias manusiawi.

“Ya, saya tidak bisa mengarahkan arahnya kemana, karena menurut saya sangat manusiawi dan sudah diakui oleh Pak Jokowi sendiri, bahwa dia kelepasan sangking jengkelnya. Saya kira bukan hanya Pak Jokowi yang pernah menggunakan kata-kata sontoloyo untuk mengungkapkan rasa kegalauan, kegundahan. Saya kira sangat manusiawi dan sudah diakui Pak Jokowi dan minta maaf,” kata Bambang kepada wartawan di Gedung DPR-RI, Kamis (25/10).

Dikatakan politisi Partai Golkar itu, yang disampaikan oleh Presiden Jokowi itu masih dalam koridor dan masih terlihat santun, padahal dia (Presiden-red) dalam kondisi jengkel dengan sikap beberapa politikus.

“Ya, sangat tergantung dengan cara kita melihat. Saya sendiri melihatnya biasa-biasa saja dan masih dalam koridor pakemnya dan masih santun. Kalau saya gundah, saya mengungkpakn. Tapi kalau orang lain gundah, saya gabisa menjudgement dia gundah atau tidak, jadi saya tidak tau,” ucapnya.

Menurut politikus yang akrab disapa Bamsoet itu, kejengkelan Presiden Jokowi atas sikap beberapa politkus itu tak lepas dari cara mereka menghalangi rencana renacana penyaluran dana kelurahan untuk rakyat, yang kemudian dikait-kaitkan dengan politik 2019.

Meski begitu, Bamsoet mengakui kebesaran hati Presiden Jokowi yang langsung meminta maaf atas pernyataan politikus sontoloyo.

“Ya barangkali sebagaimana seseorang sudah menahan diri untuk bersabar, lalu kemudian melakukan langkah-langkah yang diyakini sudah benar dengan dana kelurahan untuk rakyat, kemudian dituding macem-macem. Ya itu manusiawi lah terlontar dan sudah diakui itu. Saya pun akan melakukan hal yang sama jika dalam situasi seperti itu. Kalau soal kejengkelan sudah diakui, dan sudah disampaikan ke publik kemarin. Dia kelepasan karena jengkel. Menurut saya itu manusiawi,” jelas Bamsoet.

Sementara itu, tim pemenang Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno Egy Sudjana mengatakan, pernyataan politikus sontoloyo yang disampaikan oleh Jokowi di forum-forum resmi tidak etis. Untuk itu, Jokowi lebih dulu mengintropeksi diri, jika sontoloyo itu lebih cocok kepada siapa.

“Itu dalam forum yang terhormat bahasa sontoloyo itu kan tidak etis. Jadi intropeksi diri yang sontolonya itu siapa?. Jadi kalau mau nyebut, sebut yang tegas nggak usah takut. Kalau masih umum, jadi terlalu melebar siapa sontoloyonya. Nanti kalu introspeksi diri bisa juga kembali ke dirinya,” kata Egy Sudjana.

Menurut pengacara itu, dari kondisi politik saat ini hanya ada dua kandidat Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden, dan tujuan Jokowi tak lain kubu Prabowo-Sandiaga. Olehnya itu, kesadaran perlu ada, agar bahasa tersebut tidak kembali ke diri sendiri.

“Kalau dari segi situasi cuma ada 2 kandidat, pasti untuk kubu Pak Prabowo mau ke siapa lagi. Secara objektif bisa juga dia, karena tidak meyebut, bisa kembali ke dirinya karena tidak sadar,” jelasnya.

“Harus ada ketegasan, kalau mau tarung, tarung yang benar. Kalau ada sontoloyo kan sangat negatif dalam beberapa hal, bisa ditafsirkan ke banyak hal konteksnya, misalnya sontoloyo dalam hukum, kenapa gak segera diadili. Terus dalam soal berpolitik sontoloyo, kenapa nggak dipersoalkan di DPR, atau di tempat-tempat lain yang memungkinkan untuk dipersoalkan. Sontoloyo ini dalam definisi gimana, ini kan nggak jelas,” tambahnya.

Pernyataan Jokowi soal politikus sontoloyo ini, kata Egy Sudjana, tak lepas dari strategi politik. Jokowi harus keluar dan melakukan perlawanan sebagai petahana, agar dia tidak dicap sebagai pemimpin lemah, serta menarik simpati dari masyaakat karena dulu Jokowi dikenal sebagai pimpinan lembek dan relative diam untuk meraih simpati.

“Menurut saya bukan bagian lain sebagainya, tapi ini sebagai strategi dia, yaitu menyerang supaya sebagai petahana tidak dianggap lemah. Waktu dulu dia belum jadi apa-apa, dia relatif lembek, relatif diam untuk dapat simpati. Kalau sekarang dia sudah punya kekuasaan, jadi strateginya mesti menyerang. Jadi adu kuat aja sekarang,” tutup Egy Sudjana.

(ZEN/RBA/FIN) 

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.