Upaya Menguatkan Pengarusutamaan Gender

93
0
SOSIALISASI. Peserta sosialisasi penguatan pengarusutamaan gender difoto bersama di Hotel Horison, Selasa (18/6). Ujang Nandar / Radar Tasikmalaya

CIHIDEUNG – Organisasi pembangunan Belanda SNV (Stichting Nederlandse Vrijwilligers) bekerja sama dengan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) menyosialisasikan penguatan pengarusutamaan gender di Kota Tasikmalaya di Hotel Horison, Selasa (18/6).

Kepala DP2KBP3A Kota Tasikmalaya Hj Nunung Kartin menyatakan, sosialisasi tersebut membantu pemerintah dalam menguatkan pengarusutamaan gender. Indeks Pembangunan Gender (IPG) Kota Tasikmalaya juga sudah tinggi. Bahkan, Kota Resik mampu meraih Anugerah Parahita Ekapraya (APE) tingkat madya pada 2018 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa). “Ini sudah sangat luar bisa, karena daerah lain mendapatkan penghargaan APE itu harus mendapatkan penghargaan pertama,” tutur dia.

Penghargaan tersebut membuktikan bahwa sektor pembangunan di Kota Tasikmalaya sudah berpihak terhadap gender. “Karena semua kegiatan itu harus dinikmati oleh semua kalangan dari mulai perempuan, laki-laki, anak-anak, orang tua dan disabilitas,” ujar Nunung.

Saat ini yang masih menjadi pekerjaan rumah itu yakni keberpihakan program setiap satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terhadap gender. Diharapkan melalui sosialisasi tersebut masing-masing SKDP tercerahkan serta Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) mengarahkan setiap kegiatan untuk bisa dinikmati semua gender. Nunung menargetkan Kota Tasikmalaya menjadi menteri pengarusutamaan gender pada 2020.

Governance Advisor for Urban Sanitation SNV Indonesia Retno Ika Praesty menerangkan, pengarusutamaan gender merupakan salah satu program SNV dalam melaksanakan sanitasi inklusif, baik di tingkat pemerintah daerah, masyarakat maupun swasta. “Salah satunya di dinas seperti ini agar dalam melaksanakan perencanaan memikirkan bagaimana kebutuhan perempuan dan anak terpenuhi,” ujar dia.

Menurut dia, kebijakan di Kota Tasikmalaya yang mengarah ke pengarusutamaan gender sudah baik. Namun, dalam merealisasikan programnya masih kurang. “Itu yang harus kita kuatkan dan salah satunya melalui kegiatan sosialisasi ini yang mengundang berbagai SKPD, swasta dan akademisi,” tuturnya.

Narasumber sosialisasi pengarusutamaan gender Rini S Soemarno menerangkan, sejak dulu, pengarusutamaan gender sudah ada dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Hanya saja dalam realisasinya tersendat-sendat. Salah satu faktor penyebabnya minimnya pemahaman gender. Masyarakat umumnya mengetahui gender itu hanya sebatas jenis kelamin. “Padahal gender ini merupakan peranan tanggung jawab antara laki-laki, perempuan yang diharapkan ada kesetaraan,” katanya.

Kesetaraan itu yakni adanya kesamaan akses dan peluang bagi laki-laki dan perempuan dalam menerima manfaat pembangunan. “Sebetulnya, ini juga harus didapatkan oleh lansia, difabel dan anak-anak,” ujar dia.

Kota Tasikmalaya, kata dia, harus lebih meningkatkan pengarusutamaan gender lantaran sudah mendapatkan penghargaan madya. “Kota Tasikmalaya ini untuk pengarusutamaan gender sudah dimulai, komitmen ada, yang penting kebijakannya ok, SKPD-nya ok,” ujar dia. (ujg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.