Upsus Siwab, Wujudkan Swasembada Daging Sapi

43
Istimewa INSEMINASI BUATAN. Salah satu petugas Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Banjar melakukan proses inseminasi buatan di salah satu peternakan sapi beberapa waktu lalu.

BANJAR – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjar terus menggalakkan program upaya khusus (upsus) sapi induk wajib bunting (Siwab). Menurut Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKP3 Kota Banjar drh Iis Meilia, program itu sebagai upaya mewujudkan komitmen pemerintah dalam mengejar swasembada daging sapi.

“Kegiatan berupa optimalisasi inseminasi buatan, pemeriksaan kebuntingan (PKB) dan penanganan gangguan reproduksi. Program ini memiliki tujuan mewujudkan komitmen pemerintah dalam mengejar swasembada daging sapi yang ditargetkan tercapai pada 2026 dan mewujudkan Indonesia yang mandiri dalam pemenuhan pangan asal hewan dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat,” kata dia Jumat (11/1).

Jelas dia, indukan-indukan sapi atau sapi betina produktif diupayakan supaya bunting secara optimal dengan menyuntikan sperma pejantan yang unggul menggunakan alat. Usia produktif sapi betina untuk dilakukan inseminasi buatan (IB) atau kawin suntik mulai dari 15 atau 18 bulan. “Jadi program ini memang dicanangkan pemerintah untuk mengakselerasi percepatan target pemenuhan populasi sapi potong dalam negeri,” kata dia.

Untuk tahun 2018, realisasi program upaya khusus Siwab yang sudah dilaksanakan sejak Januari hingga 31 Desember 2018 oleh Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Kota Banjar telah mencapai IB 206 ekor dari target 200 ekor, capaiannya 103%. Sementara untuk target bunting sebanyak 140 ekor sudah terlampaui sebanyak 154 ekor atau realisasinya 110%.

Kemudian untuk target lahir dari program ini sebanyak 106,2% atau 119 dari target 112 ekor. “Jumlah sapi betina produktif (akseptor) Kota Banjar sekarang ini sekitar 300-an ekor. Kemudian pedet-pedet (anak sapi) hasil IB kita namai Yansen, artinya pelayanan inseminasi buatan. Dan Alhamdulillah, Yansen-Yansen kita sudah dua tahun terakhir ini dijadikan hadiah untuk juara umum di kegiatan Hari Krida Pertanian,” katanya.

Iis Meilia juga mengungkapkan selain mengoptimalkan kebuntingan atau kelahiran juga ada pelarangan pemotongan sapi betina produktif di kalangan peternak dan Rumah Potong Hewan (RPH). “Untuk kebutuhan daging Kota Banjar sampai saat ini sebagian besar masih dipasok dari luar Kota Banjar. Dari dalam Kota Banjar juga ada, tapi jumlahnya sedikit karena populasi sapi Kota Banjar memang belum bisa mencukupi kebutuhan daging Kota Banjar,” katanya. (cep)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.