Kisah Honorer K2 Agar Diangkat Jadi CPNS

Urunan Biaya Perjuangan, Nyambi Demi Menyambung Hidup

164
BERJUANG. Para guru honorer saat menyampaikan aspirasinya di Jakarta beberapa waktu lalu. Mereka berharap tahun ini bisa diangkat menjuadi CPNS.

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

JAKARTA – Bertahun-tahun honorer K2 (kategori dua) berjuang agar bisa diangkat menjadi CPNS. Banyak sudah pengorbanan yang dilakukan. Tidak hanya tenaga, dana yang dengan susah payah dikumpulkan pun telah banyak dikeluarkan.

Mungkin sudah puluhan miliar dana yang dikeluarkan honorer K2 di bawah komando Ketua Forum Honorer K2 Indonesia (FHK2I) Titi Purwaningsih.

Setiap aksi damai digelar di Jakarta, tidak hanya ratusan honorer K2 yang turun tapi ribuan hingga puluhan ribu orang. Tentu, dana yang dikeluarkan pun semakin besar jika massa yang turun jumlahnya membeludak.

Ya, cukup banyak dana yang dikeluarkan dalam setiap aksi. Meski gaji mereka sebagai honorer sangat kecil, tetap saja prinsip gotong royong dan kebersamaan diutamakan. Dana aksi digalang secara urunan, tapi sukarela, tidak dipatok besarannya.

Sementara, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, banyak di antaranya yang nyambi kerja sampingan demi menyambung hidup.

Seperti yang dijalani Denny Setiawan, sekjen FHK2I. Usai menjalankan tugasnya sebagai guru di sekolah, dia langsung ganti baju dan nyales alat tulis serta sembako.

“Ya harus kerja tambahan karena honor dari sekolah masih sangat jauh dari kata layak. Apalagi sebagai pengurus FHK2I saya harus juga bertanggung jawab untuk kelangsungan perjuangan. Enggak mungkin saya maksain seluruh anggota urunan kan,” beber Denny, honorer K2 Banjarnegara kepada JPNN.

Sebagai sekjen FHK2I, dia selalu mendampingi Titi untuk menyukseskan perjuangan. Baik Denny maupun Titi acapkali mengorbankan dana pribadi untuk menopang perjuangan FHK2I.

Memang ada iuran forum, tapi menurut Titi, itu tidak mengikat. Haram hukumnya pengurus FHK2I memaksa anggotanya untuk menyetorkan dana perjuangan. Jumlah iuran hanya berdasarkan kesepakatan.

“Kalau dana iurannya tidak cukup untuk berjuang, koordinator daerah (korda), koordinator wilayah (korwil) dan pengurus pusat memakai uang pribadi untuk berjuang. Istilahnya ya nombok,” terang Titi.

Dia melanjutkan walaupun penghasilan minim tapi niat ikhlas berjuang dengan segala cara bisa berangkat ke Jakarta, modalnya ikhlas dan yakin. Mereka yakin, semua akan diganti Allah SWT tanpa diduga.

Korwil FHK2I Jateng Ahmad Saefudin punya pengalaman sama. Demi menopang kebutuhan keluarga dan perjuangan karena minimnya gaji yang diterima, harus menjadi pengecer bahan bakar minyak (BBM) Pertamini.

Demikian juga Korda FHK2I Cilacap Sunardi yang nyambi jadi nelayan. Ini demi menopang ekonomi keluarga dan menghidupkan sebuah usaha perjuangan.

“Kalau kami enggak kerja sambilan bagaimana bisa terus berjuang mendapatkan status CPNS. Memang ada iuran mulai dari anggota, ke korcam dan korda lalu ke korwil dan pusat dengan nominal sukarela. Namun, kalau tidak cukup, para penguruslah yang pontang-panting cari jalan ke luar,” beber Ahmad.

Karena sifatnya sukarela maka tidak ada target berapa duit yang harus dikumpulkan. Para penguruslah yang lagi-lagi harus berkorban. Namun, bagi mereka itu tidak jadi masalah karena ini semua buat perjuangan bersama.

Nurbaiti, pengurus FHK2I DKI Jakarta menambahkan, soal iuran dana perjuangan ini tidak ada patokan nominalnya. Biasanya honorer K2 yang memang merasa senasib dan seperjuangan dengan suka rela menyodorkan sumbangan.

Dia mencontohkan bila ada aksi damai di Jakarta, honorer K2 DKI yang paling sibuk membantu teman-temannya dari daerah. Biasanya mereka mencarikan wisma yang murah meriah. Kalau pun tidak ada tempat yang bisa buat honorer K2 bermalam, mereka istirahat di masjid –masjid, juga di rest area yang ada di jalur tol.

“Tidak bisa dipungkiri perjuangan juga butuh biaya tapi bukan berarti kami golongkan sebagai uang suap atau uang sogok. Ini bentuk keperdulian dari anggota yang enggak bisa berangkat ke Jakarta makanya mereka mengirim perwakilan yang berangkat dengan cara patungan dan nilainya pun tidak ditentukan,” paparnya.

Sampai di Jakarta jika para korwil atau korda kumpul, mereka urunan makan bersama sehingga bisa mengurangi biaya hidup selama di Jakarta. Sementara honorer K2 yang di Jakarta, biasanya membawa makanan ringan buat rekan-rekannya dari daerah. Yang paling penting adalah nilai kebersamaannya.

Korwil FHK2I Bengkulu Ridwan juga mengungkapkan pengalamannya. Dengan honor minim, dia harus kerja sampingan apa saja demi asap dapur tetap mengepul.

“Kalau honor kami sangat minim tapi saya enggak putus asa untuk memerjuangkan K2 di Provinsi Bengkulu. Yang penting ikhlas dan semangat dalam memperjuangkan K2 menjadi CPNS,” pungkasnya. (esy/jpnn)

loading...