Usai Dibunuh Bapaknya, Jasad Delis Siswi SMPN 6 Kota Tasik Diangkut Pake Motor Sejauh 5 KM

289
0

Kecurigaan polisi sudah muncul sejak awal pemeriksaan BR sebagai saksi. Pelaku memberikan keterangan yang berubah-ubah. Penyelidik pun melakukan pendalaman untuk menemukan petunjuk dan alat bukti yang bisa disesuaikan dengan keterangan pelaku.

Selain itu, polisi mendapat keterangan dari teman dekat korban. Informasinya korban pernah bercerita akan meminta uang kepada ayahnya untuk keperluan study tour. Polisi kemudian mendalami petunjuk itu dan bergerak menuju ke sekitar tempat kerja pelaku.

Tidak jauh dari tempat korban bekerja terdapat sebuah bangunan bekas rumah makan yang sepi, di tempat itu polisi menemukan kabel-kabel bekas. Jenisnya mirip dengan kabel yang ditemukan saat penemuan mayat korban.

Selain itu, di tempat tersebut juga terdapat dua jejak kaki yang berbeda yang identik dengan sepatu dan sandal korban.

“Ada jejak alas kaki korban dan pelaku di sana,” tutur Anom.

Polisi terus melakukan penyelidikan hingga akhirnya menetapkan BR sebagai tersangka.

Baca Juga : Siswi SMPN 6 Kota Tasik Dibunuh Bapaknya, Kadisdik: Study Tour Bukan Program Sekolah dan Tak Wajib!

Berdasarkan keterangan polisi, kasus pembunuhan bermula pada Kamis sore (23/1). Saat itu, pulang sekolah DS naik angkot ke Jalan Tentara Pelajar dan berjalan ke tempat kerja ayahnya. Dia meminta uang untuk biaya study tour jumlahnya sekitar Rp 400 ribu.

DS memang berencana pergi mengikuti kegiatan out class atau karyawisata ke Bandung yang diselenggarakan oleh pihak sekolah. Dari buku catatan DS, Radar sempat menemukan tulisan biaya kegiatan itu Rp 397 ribu dengan biaya beli baju kaos khusus Rp 45 ribu. Biaya itu harus dibayar di akhir Januari.

BR saat itu tidak memiliki uang. Dia pun meminjam ke rekan kerjanya Rp 100 ribu. Tambahannya dia pulang mengambil uang Rp 200 dari hasil membongkar celengan di rumahnya. Uang itu pun diserahkan kepada DS.

Karena uang yang diserahkan kurang Rp 100 ribu lagi, DS pun terus meminta tambahan, sementara BR tidak punya uang lagi. Di situlah terjadi adu mulut  antara ayah dan anak. Menghindari perhatian publik, BR membawa DS ke bangunan bekas rumah makan yang tidak jauh dari tempat kerjanya.

Di tempat sepi itu tensi perselisihan makin tinggi. DS mengeluarkan suara cukup keras. BR pun membekap mulut anaknya itu, tapi karena ada perlawanan akhirnya BR mencekik anaknya sampai tidak sadarkan diri dan meninggal dunia.

BR kemudian meninggalkan DS di lokasi kejadian dan kembali ke tempat kerjanya sekitar pukul 18.00. Pulang kerja, sekitar pukul 22.00 BR kembali ke tempat kejadian perkara (TKP), tempat jenazah DS masih tergeletak.

Baca Juga : Kadisdik dan Wakasek SMPN 6 Kota Tasik Beda Pendapat Soal Study Tour yang akan Diikuti Delis

Sempat kebingungan, akhirnya BR membawa jenazah anaknya itu dengan menggunakan sepeda motor sendirian. Untuk menjaga supaya tidak terjatuh, BR mengikat tubuh dan tangan korban dengan kabel yang didapat dari TKP.

Setelah itu BR membawa jenazah anaknya ke jalan Cilembang. Dia berhenti di seberang SMPN 6 Tasikmalaya. Saat itu kondisi sepi. Selain karena sudah malam, hujan pun sedang turun deras.

Di situlah BR menurunkan dan memasukkan jenazah DS ke dalam gorong-gorong. Di depan sekolah anaknya. Aliran air selokan yang cukup kencang memudahkannya untuk mendorong jenazah DS.

“Dia dorong ke dalam gorong-gorong menggunakan kakinya,” katanya. (rga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.