Usai Divaksin, 3 Nakes di Garut Alami KIPI Hingga Dirawat di RS

30
0
VAKSINASI. Wakil Bupati Garut dr Helmi Budiman memastikan vaksinasi Covid-19 akan dimulai pekan depan. Tenaga kesehatan dan beberapa pejabat yang akan divaksin pertama.
Loading...

TAROGONG KIDUL – Wakil Bupati Garut dr Helmi Budiman menyebutkan ada tiga tenaga kesehatan (nakes) yang mengalami Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) usai penyuntikan vaksin Covid-19. Saat ini, ketiga nakes sudah menjalani perawatan di rumah sakit dan kondisinya sudah mulai membaik.

“Rata-rata ketiga nakes yang mengalami KIPI ini keluar keringat dingin dan muntah-muntah. Kalau sampai pingsan tidak,” ujar Helmi kepada wartawan di kediamannya, Sabtu (6/2).

Helmi menerangkan ketiga tenaga kesehatan yang mengalami efek pascaimunisasi vaksinasi saat ini kondisinya sudah sehat kembali. “Ini memang efek ringan dari vaksin Covid-19. Meski efek ringan, tetapi penanganan harus cepat,” terangnya.

Pihaknya mengimbau masyarakat jika ada yang mengalami KIPI usai vaksinasi, harus segera melaporkan ke Puskesmas terdekat, supaya langsung ditangani.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan kabupaten Garut Leli Yuliani mengatakan nakes yang mengalami KIPI usai vaksinasi Covid-19 hingga pingsan saat ini kondisinya sudah membaik. Namun, nakes itu masih menjalani perawatan di rumah sakit. “Masih dirawat. Tinggal pemulihan psikologis,” katanya.

loading...

Ia mengaku sudah mendapat laporan terkait penyebab pasien itu mengalami KIPI. Namun, penyebab itu masih belum dapat disampaikan olehnya.

Menurut dia, petugas yang menangani kasus itu telah melakukan investigasi mencari tahu penyebab terjadinya KIPI. “Nanti tim dokternya yang berhak menjelaskan penyebabnya,” katanya.

Baca juga : Positif Covid-19, Nakes RSUD dr Slamet Garut Meninggal

Leli mengatakan saat ini pelaksaan vaksinasi di Kabupaten Garut telah menyasar sekira 3.000 nakes. Menurut dia, para nakes mayoritas menjalani vaksinasi sesuai jadwal. Tak ada nakes yang tak hadir dengan sengaja. “Yang tak datang pasti ada alasan jelas, misalnya sakit,” ujarnya.

Dari sekira 3.000 nakes yang telah menjalani vaksinasi, hanya terdapat satu kasus KIPI yang cukup serius. Sementara sisanya tak ada keluhan serius kecuali hanya pegal dan pusing, yang dinilai masih dalam taraf kewajaran.

Karenanya, ia mengimbau masyarakat tak perlu khawatir untuk melaksankan vaksinasi. Sebab, manfaat vaksinasi lebih besar daripada risiko terjadinya efek samping.

Leli mengakui efek samping memang secara terbuka tetap berpotensi terjadi usai vaksinasi. Namun, perbandingannya dari keberhasilan hanya 2 berbanding 10 ribu.

“Intinya masyarakat tak perlu kawatir. Hanya memang kondisi kita harus fit dan yakin saat vaksinasi. Faktor psikologis juga sangat berpengaruh,” ujarnya.

Leli menambahkan mengedukasi masyarakat untuk yakin dengan program vaksinasi memang bukan pekerjaan mudah. Karena itu, semua pihak harus terlibat dalam proses edukasi itu. (yna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.