Usia 17 Tahun, Ini Rencana Besar Kota Banjar dengan 3 Magnet Destinasi Wisata

789
0
Loading...

KOTA BANJAR adalah pintu gerbang utama di jalur lintas selatan Provinsi Jawa Barat. Kota ini hanya memiliki 4 kecamatan, 9 kelurahan dan 16 desa.

Luas Wilayahnya sebesar 13.197,23 Ha, terletak di antara 07°19′ – 07°26′ Lintang Selatan dan 108°26′ – 108°40′ Bujur Timur.

Luas ini berdasarkan undang-undang nomor 27 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kota Banjar di Provinsi Jawa Barat kurang lebih 113,49 Km2 atau 11.349 hektare.

Kota Banjar sendiri kini berusia 17 tahun. Tepatnya dlahirikan pada 21 Februari 2003.

Nah, meski luasnya lebih sedikit dibandingkan kota dan kabupaten lainnya di wilayah Priangan Timur, tapi Banjar seakan tak ingin berkecil hati.

Pemerintah Kota (Pemkot) Banjar saat ini terus membuktikan diri bahwa Banjar Patroman -sebutan Kota Banjar-, bukan sekadar daerah perlintasan.

Pemkot Banjar saat ini tengah fokus membangun berbagai bidang. Salah-satunya adalah di Sektor Pariwisata.

Loading...

Di sektor tersebut, kini Banjar telah menuntaskan memoles 3 lokasi wisata yang tak ada di tempat lain. Itu adalah Ecopark, Bukit Pejamben, dan Situ Leutik.

Ecopark

Ecopark ini berada di sempadan Sungai Citanduy dan berdekatan dengan RSUD Kota Banjar.

Ecopark ini membuat wisatawan dan pengunjungnya bisa rekreasi sambil berswafoto di labirin dan rumah-rumah mungil berlatarkan pemandangan indah Sungai Citanduy.

Video Ecopark : 

Bukit Pajamben

Sedangkan di Bukit Pejamben, kita bisa menikmati pemandangan yang sejuk di bukit dengan pohon rindang, gazebo, dan arena bermain lainnya sambil menikmati pemandangan Kota Banjar dari atas.

Video Bukit Pajambon:

Situ Leutik

Sementara itu, di Situ Leutik, selain area spot foto yang menarik dan indah ciri khas pemandangan wisata situ, juga terdapat jogging track.

Fasilitas jogging track ini menjadi daya pikat tersendiri di situ yang berada di Kecamatan Cibeureum.

Foto-foto Situ Leutik:

Wakil Wali Kota Banjar, Nana Suryana mengakui, saat ini pengelolaan wisata secara optimal adalah salah satu program dari Pemkot yang telah tuntas dipercantik penataannya. Letak strategis ini diakui dia belum bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Tinggal kedepan, kata dia, pengelolaan lokasi wisata ini akan diserahkan ke masyarakat melalui desa.

Agar kedepan, wisata ini bisa menjadi Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang tak hanya menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), namun meningkatkan ekonomi masyarakat.

Nana Suryana
Nana Suryana

“Pengembangan wisata ini adalah implementasi dari visi misi mengembangkan daya tarik dan potensi daerah,” ujarnya kepada radartasikmalaya.com.

Terang dia, diketahui dan pahami bersama, letak geografis Banjar itu berada di persimpangan.

Siapapun yang mau ke Provinsi Jawa Tengah lewat jalur darat di selatan, pasti lewat Banjar. Yang mau ke Pangandaran lewat jalur selatan juga lewat Banjar.

“Kenapa orang hanya mampir saja sebentar di Banjar lalu berangkat. Nah ini dasar awal mengapa pariwisata kita bangkitkan. Artinya ternyata kami analisa bersama teman-teman kepala SKDP, pemuda, para mahasiswa dan tokoh masyarakat, karena kita ini tak punya magnet,” terangnya.

Beber dia, berangkat dari hal itu maka Pemkot harus membuat magnetnya. “Magnet buatan yang kita fikirkan ini artinya kita belum punya pariwisata yang menarik dan membuat orang agar berhenti dulu, mengeluarkan koceknya, lalu terjadilah perputaran uang di masyarakat Banjar,” bebernya.

Akhirnya, Pemkot membuat wahana-wahana wisata. Dengan meng-inovasi sumber daya alam yang ada.

“Karena kita menangis minta laut juga tak akan ada pantai. Menangis minta candi juga tak akan ada candi. Berarti kita harus melakukan inovasi terhadap Sumber Daya Alam (SDA) yang ada,” tambahnya.

Alhamdulillah, tegas dia, sekarang sudah ada beberapa wisata yang terwujud. Tapi langkah ini bukan tujuan akhir. Inovasi ini hanya sasaran antara.

“Jadi kami ini membuat wisata itu bukan tujuan akhir. Tapi sasaran antara karena target akhirnya kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Jadi, tukas dia, pihaknya membuat wisata ini supaya orang termagnet dan datang. Ketika datang silakan masyarakat harus peka. Bagaimana orang yang datang itu nanti keluar uangnya. Apakah dengan kuliner, hasil UKM dan lain sebegainya.

“Itu mangga. Dalam hal ini Distan berperan, Disperindagkop UMKM berperan, karang taruna juga berperan, dan masyarakat sekitar lokasi juga berperan. Jadi ini hasilnya multi efek,” tukasnya.

Kalau wisata ini belum juga punya efek magnet, dia juga telah memiliki rencana lain, yaitu membuat magnet buatan lainnya melalu agenda event tahunan.

“Seperti di bulan ini akan kita helat pameran bonsai nasional di Banjar Water Park. Karena water park sempat mati suri, sekarang kita bangkitkan lagi,” ucapnya.

Lalu, kata dia, nanti ada kicau mania dan kontes ketangkasan domba di Situ Leutik.

“Nanti juga ada gelar budaya se-Jawa Barat mungkin bisa di Lembah Pejamben. Atau IPSI dengan Taman Asmarandana. Nah nanti juga ada sepak bola. Tapi bukan U19-U21. Tapi U9, U10, U11, U12. Jadi dari usia anak-anak. Karena multi efeknya itu. Kalau anak-anaknya main, ibu bapaknya pasti datang. Kalau usia 19-20 tak akan diantar orang tuanya,” paparnya.

Dari event sepakbola ini dia mencontohkan, kalau ada 100 tim dengan masing-masing tim 20 pemain berarti ada 2000 peserta.

Ibu bapaknya 2 orang kan 4000 jadi total ada 6000 orang. “Nah minimal tiap hari mereka makan dan minum di Banjar. Multi efeknya itulah yang dirasakan masyarakat,” jelasnya.

Terpisah, Kabid Pariwisata, Disporapar Kota Banjar, Bambang Supardi menuturkan, di tahun 2019 lalu Kota Banjar membangun 3 destinasi wisata.

Yaitu Puncak Pejamben, Situ Leutik dan Eco Park. Intinya pembangunan 3 destinasi ini adalah langkah awal atau titik nol.

“Karena tugas selanjutnya adalah bagaimana cara pengelolaannya kedepan untuk mendatangkan wisatawan-wisatawan ke Kota Banjar. Dan yang terakhir itu adalah untuk memakmurkan masyarakat. Baik Banjar maupun sekitarnya,” tuturnya.

Kedepan, kata dia, pihaknya harus betul-betul melakukan promosi melalui berbagai macam media informasi kita perkenalkan Kota Banjar bahwa yang akan melintas ke Pangandaran mampir dulu.

“Nah di Kota Banjar ini bahwa sudah ada destinasi wisata yang kita unggulkan. Intinya ke sana. Walaupun tidak tidur di Banjar. Karena terus terang di kita baru sedikit penginapan atau hotel,” katanya.

Tapi, tambah dia, intinya masyarakat yang akan berkunjung ke daerah lain diharapkan mampir dulu di sini. “Karena selain wisata itu di kita sudah ada kulinernya. Ada rumah makan yang baru dan reperesentati lokasinya,” tambahnya.

Dia mencontohkan rumah makan Dapur Haji Dian. “Rumah makan ini luar biasa. Berada di pinggir jalan raya yang representatif dan dari situ bisa lari ke Situ Mustika walaupun dikelola pihak ketiga di Purwaharja maupun ada rest area Banjar Atas,” jelasnya.

Sementara itu Kabid Cipta Karya, PUPRPKP Kota Banjar, Tanti Indriyanti menyatakan, Eco Park dibangun berkat bantuan dari Pemprov Jawa Barat di tahun 2019 dengan anggaran Rp 5 miliar.

“Pariwisata ini memang kita bangun dengan konsepnya apa yang harus kita branding sebagai objek wisata yang diperlihatkan ke luar,” paparnya.

Terang dia, mengapa Eco Park juga dibangun? Karena pihaknya juga konsen terhadap penataan bantaran Sungai Citanduy.

“Sehingga kita bisa memanfaatkan anugerah Allah yaitu Sungai Citanduy yang melintasi kota. Sehingga bisa tergali potensinya,” terangnya.

Yang pasti, jelas dia, selain Eco Park, Situ Leutik dan Bukit Pejamben, secara pengelolaan akan dikembali ke masyarakat.

Eco Park dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) karena ruang terbuka hijau dan tentunya akan dikerjasamakan dengan warga sekitar lokasi nantinya.

Sedangkan Lembah Pejamben dan Situ Leutik akan diserahkan pengelolaannya ke pihak desa masing-masing. Agar dijadikan Bumdes.

Kedepan akan dibuat magnet wisata lainnya di lokasi itu. Seperti kampung agrowisata dan lain sebagainya. “Hasil akhirnya memang untuk masyarakat. Itu rencana besar kami,” jelasnya.

(rezza rizaldi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.