Pemkot Jangan Cuci Tangan

Ustaz Iri: Teror Sperma Pasti Melalui Proses

31
0
Ustaz Iri

CIHIDEUNG – Ditangkapnya pelaku teror sperma, SN (25) oleh Sat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota bukan berarti masalah selesai. Perlu ada evaluasi dari pemerintahan kota terkait apa yang menjadi akar permasalahannya.

Aktivis Islam Ustaz Iri mengatakan bahwa kejadian teror sperma tergolong baru bahkan pertama kalinya di Kota Tasikmalaya. Karakter SN pun tidak begitu saja terbentuk sampai akhirnya dia punya kebiasaan tak wajar.

“(Teror sperma, Red) pasti melalui proses, tidak begitu saja dia jadi pelaku teror sperma,” ujarnya kepada Radar, Kamis (21/11).

Menurut Ustaz Iri, perlu ada pengkajian dan penelusuran untuk mengetahui latar belakang permasalahannya. Salah satunya tingkat pendidikan sangat mungkin menjadi salah satu faktor penyebabnya.

“Kalau memang karena pendidikan berarti sekarang pemerintah harus serius dalam wajib belajar 9 tahun,” tuturnya.

Permasalahan ini, kata Ustaz Iri, tidak lepas dari peran pemerintah yang tidak maksimal dalam membangun sumber daya manusia (SDM). Khususnya, instansi yang berkaitan dengan masalah keluarga. “Karena setiap permasalahan yang terjadi di masyarakat tidak lepas dari tanggungjawab pemerintah, jadi Pemkot jangan merasa masalah ini selesai,” katanya.

Dia berharap pemerintah bisa mengevaluasi dan mencegah fenomena ini kembali terjadi di Kota Santri ini. Di antaranya dengan memberdayakan Ketua RT dan RW sebagai ujung tombak pemerintah. “Berdayakan saja RT dan RW, supaya melaporkan kondisi masyarakatnya dari mulai hal sekecil apapun,” ujarnya.

Sementara itu, pihak kepolisian masih terus melakukan penyidikan untuk memproses SN secara hukum. Sejauh ini ada 6 korban yang diperiksa dan dimintai kesaksiannya atas ulah dari SN. “Meskipun pelakunya sama (SN), tapi modusnya bervariasi,” ujar Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota AKP Dadang Sudiantoro SH MH.

Soal kondisi psikologis SN, kata Dadang, pihaknya berencana berkoordinasi dengan psikolog. Akan tetapi hal itu tidak menjadi prioritas karena SN pada prinsipnya cukup normal. “Tersangka bisa diajak bicara, ya normal saja,” kata dia.

Tersangka kasus teror sperma, SN sudah terkenal bandel di lingkungannya di Cieunteung Kelurahan Argasari Kecamatan Cihideung. Bahkan, pemuda yang tidak menamatkan sekolah dasar (SD) itu pernah tepergok mengintip perempuan sedang mandi.

Ketua RT di lingkungan SN, Asep Andri mengaku kaget saat mengetahui perilaku warganya viral di media sosial (medsos). Apalagi hal itu diakibatkan oleh tindakan tidak terpuji SN. “Saya juga tahu dari warga, katanya ramai di Facebook,” ujar dia kepada Radar, Rabu (20/11).

Menurut Asep, SN dan keluarganya tidak memiliki tempat tinggal tetap. Mereka terus berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain yang masih di wilayah Argasari. “Di sini memang sudah lama, tapi sebelumnya dia di RW lain,” kata dia.

Tentang pergaulan SN, Asep tidak begitu mengetahuinya karena pemuda itu lebih sering berada di luar sehingga tidak terpantau. Dengan pemuda setempat pun menurutnya kurang begitu akrab. “Waktu suami korban ke sini pun, orangnya lagi enggak ada karena memang sering di luar,” tutur dia.

SN tidak menamatkan pendidikannya di sekolah dasar (SD) dengan alasan yang tidak begitu dia ketahui. Maka dari itu, dia hanya bekerja sebagai serabutan bahkan pengangguran. “Dia bantu-bantu jualan ayam, tapi sudah lama enggak lagi dan nganggur,” ujarnya.

Asep berharap kasus SN ini bisa menjadi pelajaran untuk masyarakat umum, khususnya warga di lingkungannya. Karena bagaimana pun sedikit banyak kasus ini berdampak ke lingkungan masyarakat. “Mudah-mudahan jadi pelajaran untuk kita semua dan tidak terulang lagi,” katanya. (rga)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.