Legislator, DPRD Kota Tasikmalaya

Utamakan Fasilitas Pendidikan Keagamaan

37
0
Drs H Ajat Sudrajat

TASIK – Kota Tasikmalaya adalah Kota Santri. Sebagai Kota Santri sudah sepatutnya pembangunan fasilitas pendidikan keagamaan menjadi prioritas utama. Mulai dari kesejahteraan gurunya, infrastrukturnya, bangunan madrasahnya, masjidnya harus mencerminkan sebagai Kota Santri.

Hal itu diungkapkan oleh Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tasikmalaya Drs H Ajat Sudrajat saat bertemu Radar di rumahnya, akhir pekan lalu.

Tidak hanya itu saja, sebagai ciri khas Kota Santri, Ajat menilai pemerintah harus menambah program-program keagamaan yang memang sudah ada. Diakuinya, beberapa program keagamaan yang kini berjalan seperti Magrib Mengaji, Tasik Bersedakah harus terus ditingkatkan serta ditambah program-program lainnya.

Sebagai Anggota DPRD Kota Tasikmalaya yang sudah berpengalaman selama hampir dua periode yakni 2009-2014 dan 2014-2019, Ajat menjelaskan banyak kebijakan DPRD yang dibuat kepentingan masyarakat. Baik itu dari kebijakan legislasi, melalui pembentukan peraturan-peraturan daerah yang pro masyarakat, kemudian kebijakan anggaran untuk pembangunan juga pengawasan terhadap berbagai persoalan terhadap pelanggaran peraturan-peraturan.

“Salah satu kebijakan dalam pembentukan peraturan daerah adalah, kita sudah membahas tentang peraturan daerah mengenai pelaksanaan ibadah haji. Dalam perda ini ada beberapa hal. Salah satu contohnya regulasi fasilitas uang transport untuk jamaah haji dari Kota Tasik menuju embarkasi haji serta dari embarkasi haji menuju Kota Tasik lagi,” jelas pria yang lahir Januari 1964 ini.

Selain transportasi menuju embarkasi, di perda tersebut pun ada regulasi perlengkapan seperti tikar, baju seragam dan perlengkapan lainnya. Sehingga dengan adanya perda ini diharapkan bisa meningkatkan pelayanan bagi jamaah haji yang sudah baik, menjadi lebih baik lagi.

Untuk kebijakan anggaran, lanjut Ajat, sudah banyak program-program yang digulirkan agar masyarakat bisa mendapatkan akses permodalan. Salah satu nya melalui program Wira Usaha Baru (WUB).

Selain itu bagi lembaga masyarakat yang sudah memiliki surat keterangan terdaftar (SKT) atau yang sudah memiliki status berbadan hukum, bisa mengajukan proposal pengajuan ke pemerintah.

“Untuk pengajuan proposal ini sasaran kita bisa terserap oleh lembaga masyarakat hingga tingkat RT atau RW. Sehingga mereka bisa mengelolanya dan membuat usaha untuk ke-RW-an di wilayahnya. Ini sudah banyak yang berhasil, ada yang bikin penyewaan kursi, tenda, sound system, baik melalui RW atau DKM. Sehingga ada pemasukan untuk masyarakat,” tutur pria lulusan dari Universitas Jenderal Sudirman Purwekerto tahun 1989 ini.

Sedangkan untuk tugas pengawasan, tutur Ajat, DPRD tidak masuk pada ranah kebijakan teknis. Akan tetapi melakukan pengawasan, melalui pengawasan peraturan daerah apakah ada yang dilangar atau tidak. Serta pengawasan peraturan-peraturan yang lain selain peraturan daerah.

Melihat perkembangan pembangunan di Kota Tasikmalaya saat ini, Ajat menilai infrastruktur sudah baik. Perkembangan cukup pesat dan cepat dibandingkan dengan daerah-daerah lain, yang sejajar dengan Kota Tasikmalaya.

Hanya ada beberapa fasilitas yang perlu dipikirkan dan diwujudkan yaitu untuk memenuhi sarana kebutuhan air bersih. Juga memenuhi kebutuhan fasilitas jaringan listrik bagi masyarakat tidak mampu.

“Istilahnya jalan bagus, listrik terang, air bersih mengalir. Itulah kebutuhan yang saat ini masih banyak dibutuhkan,” tegasnya.

Ajat menambahkan untuk pemenuhan air bersih, ada rencana pemerintah untuk membangun sarana pengolahan air bersih yang nantinya diprioritaskan untuk beberapa wilayah Kota Tasikmalaya, yang kerap kekurangan air saat musim kemarau.

Terkait penyediaan jaringan listrik, saat ini tidak menjadi kewenangan daerah, tapi sudah menjadi program dari pemerintah Provinsi Jawa Barat, sehingga pengajuan langsung ke provinsi.

Dengan kemajuan Kota Tasikmalaya saat ini, Ajat mendorong terus bisa meningkatkan pembangunan keagamaan. Tidak hanya dari sisi fisik saja, akan tetapi lebih pada pembangunan peningkatan mental, spiritual, keagamaan, juga daya saing masyarakat Kota Tasikmalaya supaya lebih baik lagi.

“SDM Kota Tasik harus lebih baik lagi. Baik dari keimanan dan ketakwaan terutama. Juga daya saing harus ditingkatkan terlebih saat ini persaingan dunia secara global juga tidak bisa dihindari. Sehingga SDM-nya punya daya saing, mentalnya kuat, iman dan takwanya juga kuat,” harapnya.

Infrastruktur lain yang harus diperhatikan pemerintah saat ini adalah irigasi. Meskipun bukan sebagai daerah pertanian akan tetapi masih banyak potensi ekonomi yang perlu ditunjang oleh pemerintah. Kemudian, kata Ajat, perbaikan dan pemeliharaan infrastruktur yang belum tuntas agar segera diselesaikan. Contohnya untuk jalan, saat musim hujan masih ditemukan genangan air, terutama di pusat-pusat kota. Ke depannya harus ada solusi agar hal-hal tersebut tidak terjadi lagi.

Untuk bidang ekonomi, Ajat menyoroti terkait produk lokal Kota Tasikmalaya yang semakin terpuruk. Bagaimana ke depan produk lokal Kota Tasikmalaya bisa memenuhi standar sehingga bersaing dengan produk-produk dari luar. Sedangkan untuk penataan pedagang kaki lima, Ajat berpesan agar pemerintah bisa menemukan solusi yang tepat, di mana solusi tersebut bisa membuat Kota Tasikmalaya tertata dengan rapi, tapi juga usaha masyarakat tetap berjalan.

Apalagi dengan adanya transportasi udara saat ini, maka akan banyak orang dari daerah lain yang datang ke Kota Tasikmalaya, baik untuk urusan pekerjaan, bisnis maupun berkunjung untuk liburan, sehingga harus disambut dengan kota yang indah, terata rapi, masyarakatnya ramah tamah.

“Pesan saya, Kota Tasikmalaya itu harus maju, tapi juga haus memegang teguh keimanan dan ketakwaan pada Allah,” pungkasnya. (red)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.