Masyarakat Minta Pemerintah Beri Kepastian Boleh Tidaknya

Vaksinasi MR Bikin Bingung

3
TUNGGU FATWA: Dinas Kesehatan Kaltim tetap berkeliling melakukan vaksinasi di daerah atau sekolah yang tidak bermasalah, misalnya sekolah non-muslim. FUAD MUHAMMAD/KALTIM POST

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

TASIK – Sejumlah ma­­syarakat di wilayah Priangan Timur bingung menyikapi vaksin measles rubella (MR) yang dinyatakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Mereka mengaku dilematis ketika harus menggunakan vaksin buatan India tersebut.

Seperti diutarakan, Azmi Affifi (28), warga Sukarindik Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya yang mengaku waswas adanya informasi fatwa haram dari MUI terkait vaksin MR. Mengingat anaknya yang masih berusia balita, memasuki jadwal imunisasi di bulan ini. “Ya cukup waswas, ini betul-betul steril atau tidak.

Kemudian efeknya membahayakan atau seperti apa, kalau ada kandungan babi di vaksinnya bagaimana,” jelas dia.
Dia pun mengaku terus mencari informasi ke beberapa rekan dan tetangganya, apakah tetap menggunakan vaksin MR atau tidak. “Banyak masukan juga, ada yang menyarankan tidak apa-apa di vaksin karena darurat. Tapi bagaimana hukumnya sebab mengandung babi,” ungkapnya.

Neneng Sintiya (30), warga Tawangsari mengaku dilematis terkait adanya Fatwa haram MUI soal vaksin MR. Sebab dia menilai vaksinasi terhadap balita sangat penting untuk menambah kekebalan tubuh, agar terhindar dari virus atau penyakit yang rentan bagi anak. “Ya di satu sisi ini kan untuk kesehatan. Di lain justru diharamkan. Kita sebagai orang tua jujur saja dilematis, mau tidaknya anak di vaksin nanti,” terangnya.

Warga Desa Tawangbanteng Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya Wulan Dewi (37) mengungkapkan, di desanya penggunaan vaksin MR baru dilaksanakan satu kali di bulan Juni 2018. “Saya baru tahu kalau vaksin MR itu menggunakan bahan dari babi. Saya juga jadi bingung mau digunakan lagi (vaksin MR, Red) atau tidak,” ungkapnya.

Sebagai masyarakat awam, Wulan mengaku hanya tahu jika anaknya tidak di imunisasi akan mengalami kecatatan atau kelumpuhan. “Kasian sama anak, kalau tidak di imunisasi takut terkena cacat atau tidak sehat. Tapi sebagai masyarakat saya ikut saja aturan pemerintah,” paparnya.

Kader Posyandu Cipanengah di Desa Tawangbanteng Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya Suhara (50), mengungkapkan sudah mengetahui soal kandungan vaksin MR mengandung zat babi. “Tapi kan sudah dibolehkan oleh MUI ikut saja daripada anak kecacatan atau mengalami kematian, untuk pengobatan ini bukan untuk konsumsi,” kata dia.

Meski sebenarnya, dia tidak ingin ada kandungan zat babi yang diharamkan. “Ya mau bagaimana lagi, karena tidak ada lagi vaksin yang halal,” tanyanya.

Salah seorang warga asal Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran Lilis Sopiah (18), meminta pemerintah tegas terkait masalah fatwa MUI yang mengharamkan vaksin MR. Agar tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat. ”Di satu sisi vaksin itu dibutuhkan, tapi kan menggandung babi, sebaiknya pemerintah segera mengambil sikap kalau mau dilarang ya dilarang saja,” ujarnya.

Agus (35), yang juga berasal dari Kecamatan Cijulang, Pangandaran mengatakan penggunaan vaksin MR yang mengandung babi, tidak ada salahnya jika digunakan dalam keadaan mendesak. ”Kalau manusia kan dituntut berikhtiar, kalau dalam keadaan sakit dan jika tidak ada pilihan lain ya tidak ada salah menggunakan yang sudah ada,” terangnya.

Berbeda dengan Agus, Jendria (28 ) warga asal Kecamatan Pangandaran mengungkapkan jika vaksin MR mengandung babi sebaiknya dilarang saja. ”Kalau memang dibuat dari hal yang diharamkam, ya sebaiknya dilarang,” tegasnya.

Sementara itu, warga RT/RW 02/08 Kelurahan Pataruman Kecamatan Pataruman Kota Banjar Ismawati berharap pemerintah secepatnya memiliki vaksin pengganti yang setara dengan vaksin MR. ”Maka kewajiban pemerintah itu menyediakan yang halal. Jangan memaksakan mengonsumsi yang haram kepada masyarakat,” ungkapnya.

Ratna Mulyani, warga Lingkungan Lembur Balong Kelurahan Pataruman Kecamatan Pataruman Kota Banjar mengaku sudah mendengar informasi bahwa vaksin MR mengandung enzim babi. ”Saya sudah bulan kemarin bawa anak ke posyandu sebelum ada info vaksin diharamkan. Kalau nanti ke depan masih haram, mau pikir-pikir dulu dan konsultasi ke suami. Bingung juga sih karena kalau tidak divaksin juga kan bahaya,” ceritanya.

Dia pun mendorong pemerintah segera menyikapi kebingungan masyarakat ini secara pasti. Agar tidak menjadi masalah dan membuat ragu masyarakat. “Karena saya muslim, jadi saya juga harus mempertimbangkan anjuran dalam Islam,” tandasnya.
Terpisah, sekitar 140 anak di Kota Tasikmalaya telah di vaksin measles rubella (MR) sejak Agustus 2017. Capaian itu merupakan 95 persen dari target vaksinasi yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya.

“Sebetulnya vaksin MR sudah dilaksanakan tahun lalu. Bahkan target tembus di angka 95 persen atau sekitar 140 ribuan,” jelas Kepala Dinkes Kota Tasikmalaya dr H Cecep Zainal Kholis kepada wartawan, Kamis (8/23).

Dia menceritakan untuk tahun ini jadwal sosialisasi sekaligus vaksinasi MR dilaksanakan di luar Pulau Jawa. Sementara di Kota Tasikmalaya sendiri, vaksinasi MR tidak dulu dilaksanakan mengingat perlu adanya koordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sementara itu di tiap Sekolah Dasar (SD) saat ini pun sudah berlangsung program vaksinasi hanya untuk campak saja. “Darurat atau tidaknya kan nanti terlihat oleh MUI. Perlu ada koordinasi supaya kompak,” tuturnya.

Di Kabupaten Tasikmalaya penggunaan vaksin measles rubella (MR) juga sudah dilaksanakan sejak Agustus 2017 lalu. Hingga kini anak yang telah di imunisasi vaksin asal India tersebut mencapai ratusan ribu orang.

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tasikmalaya dr Faisal Suparyanto menjelaskan proses pemberian vaksin MR di Kabupaten Tasikmalaya sudah berjalan dari mulai Agustus 2017 hingga saat ini. “Jadi sudah hampir satu tahun berjalan pemakaian vaksin MR ini,” kata Faisal, saat dihubungi Radar, Kamis (23/8).

Menurutnya, pemberian vaksin MR diberikan kepada anak usia 1-15 tahun. Dengan jumlah anak yang sudah diberikan vaksin MR dari 39 kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya kurang lebih sebanyak 432 ribu orang.

Sebelum vaksin MR digunakan di seluruh daerah khususnya di pulau jawa, kata dia, terlebih dahulu dilaksanakan sosialisasi penggunaan vaksin yang diduga mengandung enzim babi tersebut. “Kalau untuk di luar pulau jawa baru tahun 2018 di kampanyekan penggunaannya,” papar dia. (igi/dik/den/cep)

loading...