Wabah Corona Meningkat, Warga Garut Diminta Tetap Disiplin Terapkan Prokes

315
0

GARUT KOTA – Humas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Garut Yeni Yunita mengatakan sejumlah pesantren di Kabupaten Garut telah menjadi klaster penyebaran Covid-19. Terdapat ratusan santri, termasuk pengurus pesantren, yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Garut.

“Terdapat tiga pesantren di Garut yang menyumbang kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Tiga pesantren itu berada di Kecamatan Limbangan, Pangatikan, dan Samarang,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (10/11).

Yeni menerangkan, awal mula munculnya klaster pondok pesantren di Kabupaten Garut berasal dari Kecamatan Limbangan, kemudian muncul di Kecamatan Pangatikan dan saat ini di Kecamatan Samarang.

“Ada juga beberapa pesantren lain yang terdapat kasus Covid-19, seperti di Bayongbong, tapi kasusnya tak terlalu banyak,” katanya.

Baca juga : Pemkab Garut Klaim Kesembuhan Pasien Covid-19 Mencapai 90%

Ia menyebutkan untuk klaster pesantren di Kecamatan Samarang, hingga saat ini terdapat 41 orang santri dan pengurus yang terkonfirmasi positif. Seluruhnya yang positif telah dibawa ke rumah sakit untuk menjalani isolasi.

Menurut Yeni, rata-rata pasien yang positif dari pesantren itu tak memiliki gejala (orang tanpa gejala/OTG). Namun mereka tetap harus dibawa ke rumah sakit untuk menjalani isolasi, sebab ruangan yang di pesantren tak memadai untuk dijadikan sebagai tempat isolasi.

Sementara para santri yang sehat tetap menjalani karantina di pesantren. Lingkungan pesantren juga diterapkan pembatasan sosial berskala mikro (PSBM) selama tujuh hari.

“Sampai saat ini datanya masih 41 orang yang positif (di pesantren Kecamatan Samarang). Kita masih tunggu data dari Dinkes, tapi sejauh ini belum ada informasi tambahan dari klaster pesantren,” kata Yeni.

Menurut dia, kemunculan klaster penyebaran Covid-19 di pesantren sebenarnya telah diantisipasi sejak kegiatan belajar mengajar para santri kembali dilakukan sejak beberapa bulan ke belakang. Pengurus pesantren telah diminta serius menerapkan protokol kesehatan secara maksimal.

Bahkan, lanjut dia, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut kembali mengingatkan pentingnya penerapan protokol kesehatan di lingkungan pesantren pada Oktober lalu, bertepatan dengan Hari Santri Nasional. Namun, klaster pesantren tetap muncul.

Yeni mengatakan Gugus Tugas hingga saat ini masih terus melakukan sosialisasi ke pesantren, agar tak kendur dalam menerapkan protokol kesehatan. “Intinya saat ini seluruh pesantren di Garut diimbau jangan lengah menerapkan protokol kesehatan,” kata dia.

Sementara itu, Koordinator Forum Pondok Pesantren (FPP) Priangan Timur KH Yusuf Roni mengakui sudah banyak pesantren di wilayahnya yang menjadi klaster penyebaran Covid-19. Bukan hanya di Kabupaten Garut, klaster pesantren juga sempat muncul dari Tasikmalaya.

Menurut dia, munculnya kasus Covid-19 di pesantren umumnya disebabkan karena para santri dan pengurus sudah jenuh dengan pandemi yang tak juga berkesudahan. “Memang banyak yang merasa sudah jenuh, karena terlalu lama, protokol kesehatan menjadi kendur. Apalagi banyak juga santri yang berasal dari luar daerah,” ujarnya.

Namun, Yusuf mengatakan masih terus melakukan sosialisasi kepada para pimpinan pesantren agar tak bosan menerapkan protokol kesehatan. Pengurus pesantren diminta tetap tegas dalam menjalankan protokol kesehatan.

Ia mencontohkan, orang tua santri tak diperbolehkan masuk ke lingkungan pesantren, membatasi interaksi santri dengan lingkungan sekitar serta melakukan karantina ketika ada santri dari luar daerah. “Kita ingatkan agar pesantren jangan kendur protokol kesehatan,” paparnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.