Wagub Jabar Berikan Wawasan Tentang Bahaya Radikalisme

29
0
WAWASAN. Wakil Gubernur Jawa Barat H Uu Ruzhanul Ulum usai memberikan wawasan tentang bahaya radikalisme. Wawasan itu diberikan kepada guru, pelajar dan mahasiswa.

TAROGONG KIDUL – Wakil Gubernur Jawa Barat H Uu Ruzhanul Ulum memberikan wawasan tentang bahaya radikalisme kepada seluruh guru dan siswa SMK Negeri 1 Garut Jumat (13/12).

Kegiatan tersebut diadakan sebagai bentuk pencegahan dalam penyebaran paham radikalisme, khususnya di lingkungan sekolah.

Wakil Gubernur Jawa Barat H Uu Ruzhanul Ulum mengatakan dalam penanganan paham radikalisme di sekolah salah satunya yakni harus selektif dalam menerima guru. Jangan sampai guru memberikan paham berbahaya kepada siswa.

“Guru yang diterima harus benar-benar memiliki jiwa kebangsaan, nasionalisme dan cinta tanah air,” ujarnya.

Uu menyebut pentingnya selektif dalam menerima guru agar tak memberi paham berbahaya. Apalagi para siswa masih mudah menerima informasi yang dianggapnya benar.

“Padahal belum tentu semua informasi yang diberikan guru itu benar. Harus bisa disaring lagi,” katanya.

Menurut informasi yang diterimanya, sudah ada indikasi siswa tingkat SMA/SMK yang mendekati radikalisme.

Meski begitu, isu radikalisme bukan sebuah ancaman. Namun menjadi kekhawatiran bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kami dapat arahan dari pemerintah pusat untuk beri arahan ke sekolah dan siswa tentang bela negara. Langkah konkretnya hari ini (kemarin, Red) kami datang ke berbagai sekolah. Berbicara dengan guru dan siswa memberi penjelasan soal radikalisme,” ucapnya.

Uu mengimbau jangan sampai guru dan para siswa gampang terbawa ajakan dan masuk ke kelompok yang tidak sesuai.

“Guru dan kepala sekolah harus beri pengawasan yang ketat, khususnya dari ekstrakurikuler. Kalau dulu ada rohis atau rohaniawan Islam, sekarang ganti jadi eksis alias ekskul Islam,” ujarnya.

Kepala SMKN 1 Garut Dadang Johar Arifin mendukung dalam penerimaan guru secara selektif. Pihaknya pun sudah mem­berlakukan hal tersebut.

“Di sini juga guru-guru kualitasnya diperhatikan. Lulusan dari kampus mana, transkrip nilainya, komunikasi sama rekan-rekan. Termasuk di antaranya kami tanya aliran darimana dan pantau kehidupan sehari-harinya,” ujarnya.

Dadang menyebut lima tahun lalu pernah ada indikasi siswanya terpapar radikalisme. Siswa tersebut tak mau mengikuti upacara dan tak mau hormat ke bendera.

“Sebelum isu radikalisme kencang, pernah ada indikasi itu (terpapar radikalisme). Kami sampai panggil orang tuanya,” katanya.

Saat ditelusuri, Dadang menyebut siswa tersebut kemungkinan sudah terpapar radikalisme.

Pihaknya pun memberi pemahaman agar siswa tersebut bisa kembali memahami falsafah negara. “Sekarang tak temukan ke arah sana (radikalisme). Guru dan siswa punya rasa sama soal NKRI,” ucapnya.

(yana taryana)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.