Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.1%

1.1%

88.5%

3.1%

0.3%

5.9%

0%

1%

0%
Ansor dan MUI: Saat Darurat, Vaksin MR Boleh Digunakan

Wajib Cari Vaksin Baru

28
0

TASIK – Gerakan Pemuda Ansor Kota Tasikmalaya dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Priangan Timur (Priatim) berharap pemerintah segera mencari vaksin baru pengganti Measles Rubella (MR) yang mengandung unsur babi. Karena, jika serius menelitinya, diyakini akan ada vaksin pengganti MR yang halal. “Tidak ada yang mustahil. Asalkan ikhtiar dengan serius,” ujar Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya H Ricky Assegaf kepada Radar, Jumat (24/8).

Jangan sampai, masyarakat Indonesia, kata tokoh muda NU ini, khususnya kaum muslim terus diberikan asupan obat yang mengandung babi. Karena pada dasarnya apa yang diharamkan oleh agama memiliki alasan kuat. “Tidak semata-mata agama mengharamkan babi,” terangnya.

Namun demikian, untuk sementara, Ansor, kata Ricky, tidak mempermasalahkan vaksin MR yang saat ini ada, masih digunakan pemerintah untuk mencegah masyarakat dari campak dan rubella. Mengingat saat ini, kata dia, belum ditemukan vaksin MR tanpa kandungan babi. “Alasan pemerintah sementara ini memang saya lihat rasional,” ujarnya.

Ricky pun menyebutkan ada dalil yang mengatakan bahwa sesuatu yang haram diperbolehkan dalam keadaan darurat. Hal itu, menurutnya, bisa menjadi dasar bagi pemerintah tetap melaksanakan vaksinasi MR.

“Imam Suyuthi menyebutkan kaidah fikih dalam kitab Al-Asybah bahwa kondisi darurat itu membolehkan hal-hal terlarang,” jelasnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tasikmalaya KH Ii Abdul Basyit menegaskan bahwa MUI Kabupaten Tasikmalaya tetap mengikuti fatwa MUI pusat soal memperbolehkan penggunaan vaksin MR untuk imunisasi di daerah. Dengan demikian, vaksin MR diperbolehkan digunakan di Kabupaten Tasikmalaya.

Menurut KH Ii, sudah jelas tertera pada fatwa MUI Nomor 33 tahun 2018 tentang penggunaan vaksin MR produk dari Serum Institute OF India (SII) untuk imunisasi. Jadi bahwasanya dengan bertawakal kepada Allah SWT. “Di poin ketiga, penggunaan vaksin MR produk dari SII pada saat ini dibolehkan (mubah) karena ada pertimbangan ada kondisi keterpaksaan (darurat sya’riyyah) belum ditemukannya vaksin MR yang halal dan suci,” ungkap KH Ii Jumat (24/8).

Jadi keputusannya, kata KH Ii, sudah jelas. Pada poin pertama, MUI sudah menetapkan fatwa tentang penggunaan vaksin MR dari ketentuan hukumnya penggunaan vaksin yang

memanfaatkan unsur babi dan turunannya hukumannya haram.
Poin keduanya, kata KH Ii, penggunaan vaksin MR produk dari SII hukumnya haram, karena dalam proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi. Namun pada
poin ketiga, penggunaan vaksin MR produk dari SII pada saat ini dibolehkan (mubah) karena ada pertimbangan ada kondisi keterpaksaan (darurat syariyyah) belum ditemukannya vaksin MR yang halal dan suci.

Kemudian, ada penjelasan lainnya, tambah KH Ii, kebolehan penggunaan vaksin MR sebagai mana di maksud pada poin tiga tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci. “Kemudian kan MUI juga kan mengeluarkan rekomendasi, selain fatwa,” paparnya.

KH Ii juga meminta pemerintah pusat wajib menjamin ketersediaan vaksin halal untuk kepentingan imunisasi bagi masyarakat.

Kemudian produsen vaksin wajib mengupayakan produksi vaksin yang halal dan menyertifikasi halal produk vaksin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Selanjutnya, kata KH Ii, pemerintah pun harus menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panduan dalam imunisasi dan pengobatan. Kemudian pemerintah hendaknya mengucapkan secara maksimal serta melalui WHO dan negara-negara berpenduduk muslim agar memperhatikan kepentingan Islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan dan vaksin suci dan halal.

Sejumlah masyarakat di wilayah Priangan Timur, sebelumnya, bingung menyikapi vaksin measles rubella (MR) yang t dinyatakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Mereka mengaku dilematis ketika harus menggunakan vaksin MR buatan Serum Insitute of India (SII) tersebut.

Seperti diutarakan, Azmi Affifi (28), warga Sukarindik Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya yang mengaku was-was adanya informasi fatwa haram dari MUI terkait vaksin MR. Mengingat anaknya yang masih berusia balita, memasuki jadwal imunisasi di bulan ini. “Ya cukup was-was, ini betul-betul steril atau tidak.

Kemudian efeknya membahayakan atau seperti apa, kalau ada kandungan babi di vaksinnya bagaimana,” jelas dia.

Dia pun mengaku terus mencari informasi ke beberapa rekan dan tetangganya, apakah tetap menggunakan vaksin MR atau tidak. “Banyak masukan juga, ada yang menyarankan tidak apa-apa di vaksin karena darurat. Tapi bagaimana hukumnya sebab mengandung babi,” ungkapnya. (rga/dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.