Warga Baregbeg & Banjarsari Ciamis Serahkan Buaya, Kakaktua dan Kukang Jawa

92
0
DISERAHKAN. Buaya muara diserahkan warga Kecamatan Banjarsari ke BKSDA Kabupaten Ciamis, Selasa (13/10). IMAN S RAHMAN / RADAR TASIKMALAYA

CIAMIS – Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Ciamis mengamankan tiga hewan dilindungi yaitu buaya muara, burung kakatua dan kukang.

Saat ini tiga hewan dilindungi itu berada di kandang kantor Bidang KSDA Ciamis, Selasa (13/10).

Staf Bidang KSDA Wilayah III Ciamis Deden Nurhidaya menjelaskan semua hewan dilindungi tersebut diserahkan secara kesadaran oleh masyarakat yang memeliharanya.

Baca juga : Longsor Timpa Masjid & Madrasah di Baregbeg, Polsek Ciamis Kerja Bakti

Buaya muara diserahkan oleh warga di Kecamatan Banjarsari dengan kondisi hidup. Usianya sekitar dua tahun dan jenis kelamin betina.

Sementara burung kakaktua Maluku bulu berwarna putih dari warga Kecamatan Tambaksari. Usianya dewasa. Adapun kukang Jawa dari warga Sukadana dan Kecamatan Baregbeg.

“Kita ketahui bahwa satwa tersebut dipelihara sejak kecil, namun ketika besar diduga kesulitan pakan yang semakin banyak kebutuhannya serta tidak terkontrol akhirnya diserahkan kepada kami,” papar Deden kepada wartawan.

Dia mengimbau masyarakat tidak boleh memelihara satwa yang dilindungi. Mereka harus menyerahkan hewan yang dilindungi itu kepada BKSDA.

Soal penyerahan hewan-hewan dilindung dari masyarakat, kata dia, itu membuktikan kesadaran masyarakat semakin meningkat, karena memelihara satwa dilindungi tidak dibenarkan secara aturan.

Terlebih hewan dari masyarakat itu akan dirawat dan dianalisis kondisi kesehatannya. Kemudian dititipkan di lembaga konservasi mitra BKSDA.

Tujuannya untuk menjalani rehabilitasi sebelum dilepasliarkan agar kondisinya sehat dan baik.

“Makanya kita rawat dengan baik agar benar-benar sehat,” ungkapnya.

Bagaimana dengan perburuan liar hewan? Dia mengingatkan kepada masyarakat yang memakai senapan angin sudah tidak diperbolehkan lagi berburu. “Jelas bahwa yang namanya perburuan liar di hutan dilarang keras,” ujarnya.

Baca juga : Entah Apa Sebabnya, Genting dan Atap SDN 4 Gunungcupu Ciamis Rontok

Maka untuk menekan hal itu, pihak BKSDA menggandeng Perbakin supaya para penghobi senapan angin tidak melanggar hukum.

“Saya tekankan, sekalipun hewan tidak dilindungi tapi masuk rantai makanan sehingga mengancam satwa yang ada, bisa kekurangan makanan. Contohnya babi hutan juga untuk makanan macan, pada intinya tidak boleh menggunakan senapan angin untuk memburu,” ujarnya. (isr)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.