Warga Ciamis Sekeluarga Korban Tsunami Selat Sunda, Sempat Upload Status di Facebook Sebelum Terseret Arus

178

CIAMIS – Satu keluarga penduduk Dusun Rancautama RT 8/10 Desa Pawindan Kecamatan/Kabupaten Ciamis, menjadi korban tsunami di Pantai Pandeglang, Banten, Sabtu (22/12) lalu.

Keluarga yang terdiri dari H Iwan Kustian (45), istrinya Hj Irma Komala MH Kes Sp RA D (41) beserta tiga anaknya, Syabiq (6), Tsyani (10) dan Bani (16), saat itu sedang berlibur di pantai Pandeglang Banten.

Sebelum peristiwa tsunami terjadi, sekitar pukul 20.31, Iwan sempat update di Facebook nya dengan nama Kang Iwan Bani. Statusnya: *Camp Ground Tanjung Lesung Pandeglang Banten.

Usai peristiwa tsunami, Irma dan anaknya Syabiq ditemukan sudah meninggal dunia.

Sedangkan dua anaknya, Tsyani dan Bani selamat dalam peristiwa tsunami yang terjadi tanpa didahului gempa itu.

Senin (24/12) sekitar pukul 12.00 , jenazah Irma Komala dan anaknya Syabiq tiba di rumah duka. Keduanya dimakamkan sekitar 100 meter, dari rumahnya di pemakaman keluarga.

Di hari yang sama, keluarga korban mendapat informasi keberadaan jenazah Iwan. Pihak keluarga langsung menjemput jenazahnya.

Sementara, dua anaknya Bani menderita luka lecet dibagian kening, dan Tsyani luka sobek di kaki sebelah kirinya. Kini keduanya tinggal di rumahnya di Rancautama.

Hj. Oom Komalasari (62) ibunda dari Hj Irma menuturkan, bahwa hari Sabtu (22/12) sekitar pukul 23.00 pihaknya dapat telepon dari nomer HP menantunya, H Iwan.

Ketika diangkat, ternyata yang bercerita bukan H Iwan melainkan cucunya, Bani. Sambil menangis, Bani bercerita bahwa mereka terkena musibah tsunami di Pandeglang, Banten.

Lanjut Oom, saat itu Bani menjelaskan bahwa posisinya saat itu sedang berada di sebuah gunung /bukit bersama pengungsi lain, untuk menghindari tsunami.

“Katanya saat itu listrik mati. Saya sempat tanya keberadaan ayah, ibu dan adik-adiknya. Bani ngaku tak mengetahui. Namun saat itu Bani ngaku hanya mengetahui adiknya Tsyani (10) ada di Puskesmas. Itu dikasih tahu oleh relawan melalui foto orang-orang yang,” paparnya.

Usai menerima telepon, lanjut Oom, dirinya segera memberitahu suaminya, H Mahfud Supriatna.

“Saya memeberitahu saudara-saudara yang di Jakarta, untuk membantu ke Banten, “ jelasnya.

Saat ditanya Radar, sambil memikul keranda jenazah ibunya, Bani mengaku, bahwa dirinya saat itu menginap dirinya bersama keluarga berencana kemah di Camp Ground Tanjung Lesung Pandeglang Banten.

Bahkan, kata dia, ayahnya sempat mengabadikan foto bersama adiknya Syabiq dan Tsyani serta ibunya. Lalu diupload ke facebook.

“Saat kejadian itu, air tiba-tiba datang. Banyak orang yang teriak-teriak. Panik, saya seketika lari dan terpisah dengan keluarga. Saya sendirian di gunung adik dan orang tua saya tidak tahu. Saya sempat bawa tas dan HP bapak,” ungkapnya.

Saat berada di atas bukit, kenang dia, ada rewalan penyelamat memperlihatkan foto-foto di puskesmas.

“Saya lihat ternyata adiknya ada di puskesmas. Saya langsung ke puskesmas. Alhamdulillah, selamat hanya luka kaki saja,” ujarnya.

“Saya tidak menyangka dapat musibah, seperti ini,“ lanjutnya, seraya menangis. (man)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.