Warga Cibeureum Kota Banjar Lama Menanti Air Bersih dari Proyek Balokang Patrol

37
0
Yayan Sukirlan Kepala Desa Cibeureum
Yayan Sukirlan Kepala Desa Cibeureum
Loading...

BANJAR – Kepala Desa Cibeureum Yayan Sukirlan berharap pembangunan pipa Balokang Patrol menuju Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Desa Situ Batu Kecamatan Banjar berfungsi dengan baik. Sehingga air bersih yang ditunggu-tunggu masyarakat bisa segera didapatkan.

“Kita akan mendukung proses pemasangan pipa ini, sehingga air bersih yang nantinya akan dikelola oleh PDAM bisa segera dinikmati masyarakat. Sejauh ini memang belum ada manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat dari pembangunan mega proyek tersebut,” kata Yayan, Minggu (7/2/2021).

Menurutnya, ada 60 warga Desa Cibeureum yang akan terdampak dari pengerjaan saluran pipa itu. Ia juga berharap selama pekerjaan penggalian tanah dan pemasangan pipa, tidak mengganggu aktivitas warga.

“Seperti material dari galiannya itu nanti harus dibersihkan lagi. Jangan sampai mengganggu aktivitas masyarakat yang terdampak dari jalur pipa itu,” kata Yayan.

Sebelumnya, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy merilis keterangan bahwa pada tahun 2014 Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy melaksanakan paket pekerjaan Pembangunan Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku Balokang Patrol (0.100 m3/detik) di Kota Banjar.

loading...

Pembangunan Prasarana Pengambilan dan Saluran Pembawa Air Baku tersebut merupakan tindak lanjut usulan wali kota Banjar kepada Kementerian Pekerjaan Umum pada tahun 2012 dalam rangka penyediaaan air bersih di Kota Banjar.

Dalam usulannya, Pemerintah Kota Banjar telah menyiapkan perencanaan teknis dan lahan di Desa Jajawar dan Desa Situ Batu untuk keperluan prasarana tersebut.

Baca juga : Terminal Tipe C Kota Banjar Harus Dipindahkan

Penyediaan air bersih tidak bisa dilakukan oleh BBWS Citanduy sendiri, Satker Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (PSPAM) Provinsi Jawa Barat telah berperan dalam pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) pada tahun 2015 dan selanjutnya Pemerintah Kota Banjar juga berperan dalam sistem distribusi air bersih kepada masyarakat.

Setelah pekerjaan selesai, pembangunan prasarana pengambilan dan saluran pembawa air baku Balokang Patrol, pada 8 April 2016, BBWS Citanduy melaksanakan uji alir sinkronisasi.

Kegiatan uji alir sinkronisasi dihadiri Kepala SNVT PJPA BBWS Citanduy, Satker PSPAM Provinsi Jawa Barat, PPK Air Tanah dan Air Baku dan Perwakilan dari Distributor pengadaan pompa. Hasil dari uji alir sinkronisasi yang dilakukan selama 24 jam telah berjalan dengan baik.

Berdasarkan pada uji alir sinkronisasi tersebut, kepala SNVT PJPA Citanduy memohon agar segera dilakukan serah terima pengelolaan kepada direktur PDAM Tirta Anom. PDAM Tirta Anom sendiri melalui Asisten Bidang Administrasi, Sosial, Ekonomi dan Pemangunan Sekretariat Daerah Kota Banjar memohon untuk dilaksanakannya uji SPAM Banjar Selatan secara bersama-sama.

Kemudian, 13 April 2017 dilaksanakan uji coba alir Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Banjar Selatan yang dihadiri kepala SNVT PJPA BBWS Citanduy, PPK Air Tanah dan Air Baku BBWS Citanduy, Satker PSPAM Provinsi Jawa Barat, Direktur Utama PDAM Tirta Anom serta Kepala Pekerjaan Umum Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Banjar dan Tim Ahli dari Politeknik Bandung.

Uji Coba SPAM Banjar Selatan meliputi bangunan intake (3 buah pompa submersible), bangunan prasedimentasi (3 buah pompa sentrifugal) dan pipa tranmisi pvc Ø 400 mm sepanjang 4686,5 m dinyatakan berfungsi.

Namun, 23 Juli 2018 wali kota Banjar menyampaikan usulan kepada Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR untuk penyempurnaan bangunan intake Balokang Patrol yang diajukan pada Oktober 2017 pasca uji coba SPAM.

Menindaklanjuti hal tersebut, BBWS Citanduy telah melaksanakan kegiatan penyempurnaan intake Balokang Patrol dan meminta dukungan dari pihak Pemkot Banjar berupa anggaran untuk pembayaran listrik unit air baku Balokang Patrol.

Ketika dilaksanakan kembali uji alir SPAM Balokang Patrol, terjadi kendala di jalur pipa transmisi air baku yang berjarak kurang lebih 1,4 km dari bangunan intake.

Berdasarkan hasil analisis tinjauan lapangan oleh pihak supplier pipa, kendala kerusakan tersebut dipicu oleh aktivitas kegempaan. Kondisi pipa yang cukup lama kosong juga mengakibatkan pada saat mendapatkan getaran, pipa tidak mendapat “sokongan” yang cukup dari dalam sehingga menimbulkan retakan yang mengakibatkan pecahnya pipa.

Beberapa pihak menilai, proyek yang sudah menelan anggaran hampir Rp 18 miliar itu belum dirasakan manfaatnya untuk masyarakat, terutama masyarakat di wilayah jangkauan Sumber Air Balokang Patrol dan IPA Situ Batu.

“Anggaran sesuai perencanaan awal sudah direalisasikan dalam pembangunan itu, namun nyatanya gagal beroperasi, gagal berfungsi. Buktinya sederhana saja, sekarang ada nggak air bersih mengalir ke masyarakat setelah pembangunannya dimulai tahun 2014? Kan nggak ada,” ujar Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banjar Irfan Ali Syabana.

“Alasannya rusak, kemudian ganti baru. Listrik PLN dicabut, pasang baru. Itu kan buang-buang anggaran saja, tidak berguna dan tidak dirasakan masyarakat manfaat dari realisasi anggaran itu. Listrik dipasang dua kali, setiap bulan bayar, tapi output-nya tidak ada. Kemudian pipa penyalur, dulu awal dipasang terus rusak (belum sempat berfungsi, Red) terus sekarang diganti lagi dengan rencana anggaran Rp 16 miliar. Pertanggungjawabannya gimana?” tambahnya. (cep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.